Legenda Sepak Bola Bali Mengenang Almarhum Satia Bagdja

oleh Iwan Setiawan diperbarui 04 Agu 2020, 16:45 WIB
I Made Pasek Wijaya (kanan) bersama almarhum Satia Bagdja Ijatna ketika masih sama-sama di Arema musim 2013 silam. (Bola.com/Iwan Setiawan)

Bola.com, Jakarta - Sepak bola Indonesia tengah berduka setelah ditinggal pelatih fisik ternama yang dihormati oleh insan rumput hijau nasional, Satia Bagdja Ijatna, Senin (3/8/2020). Banyak praktisi sepak bola Tanah Air merasa kehilangan, satu di antaranya adalah legenda sepak bola Bali, I Made Pasek Wijaya.

Satia Bagdja dan Pasek Wijaya pernah bekerjasama di sejumlah klub, yakni Pelita Jaya dan Arema FC. Saat itu, Pasek Wijaya menjadi asisten pelatih, sementara Satia Bagdja sebagai pelatih fisik.

Advertisement

"Saya kaget dengar kabar Pak Satia meninggal. Awalnya dikasih kabar Enal (Francis Wewengkang). Setelah itu Ocha (mantan fisioterapi Arema) juga kasih kabar," jelasnya.

Terakhir mereka berkomunikasi lewat vidio call sekitar satu bulan lalu. Waktu itu Bola.com juga ikut dalam vidio call tersebut. Seperti biasa, banyak candaan dan pembahasan tentang kondisi sepak bola Indonesia yang berhenti karena virus corona.

"Seperti biasa, kami sering bercanda kalau ketemu dan telepon. Wajahnya memang kelihatan serius, tapi di balik itu humoris juga. Kalau serius, ilmunya juga banyak yang saya dapat dari program latihan fisik," jelasnya.

Saat komunikasi terakhir, pesan terakhir yang disampaikan kepada Pasek Wijaya untuk jaga kesehatan di tengah pandemi virus corona.

"Saya juga sudah agak lupa. Karena banyak bercandanya pasti kalau ngobrol. Saya inget terakhir sebelum mengakhiri vidio call almarhum Satia Bagdja berpesan untuk jaga kondisi dan jangan banyak keluar rumah kalau gak perlu banget," kata pria yang kini melatih Bali United U-19 itu.

 

Video

2 dari 2 halaman

Tekun Beribadah

Pelatih Timnas Wanita Indonesia, Satia Bagdja saat memimpin timnya melawan Legenda Indonesia pada laga uji coba di Lapangan ABC Senayan, Jakarta, Kamis (5/4/2018). Timnas Wanita Indonesia menang 3-2. (Bola.com/Nick Hanoatubun)

Saat masih di Arema musim 2013, Pasek dan Satia juga sempat tinggal satu rumah. Mereka dapat fasilitas rumah dari manajemen Arema.

Selama tinggal dalam satu atap, Pasek Wijaya melihat Satia Bagdja sebagai sosok yang tekun beribadah. Selain itu, almarhum juga sering mengisi kulkas, menandakan bahwa ia peduli dengan orang-orang di sekitarnya.

“Waktu tinggal di rumah itu, Pak Satia yang paling sering ngisi kulkas. Kalau dia pulang ke Jakarta, saya yang ambilin makanannya. Ibadahnya juga tekun orangnya. Terakhir saya lihat rambut dan jenggotnya putih, saya sempat bercandain dia makin tua. Saya juga dibercandai balik rambut saya hitam palsu karena di cat terus,” tegas dia.

Berita Terkait