Sepak Terjang Marco Gracia Paulo, dari SSB Hingga Pimpin PSS

oleh Vincentius Atmaja diperbarui 08 Des 2020, 14:45 WIB
Dirut PSS Sleman, Marco Paulo Garcia (tengah) diapit oleh Direktur Keuangan PSS, Andy Wardhana (kanan) dan manajer tim, Danilo Fernando dalam perkenalan jajaran direksi, Kamis (13/8/2020). (Bola.com/Vincentius Atmaja)

Bola.com, Sleman - Sosok Marco Gracia Paulo sudah cukup dikenal bagi sebagian pengurus tim sepak bola. Saat ini, dia adalah nakhoda manajerial PSS Sleman, yang merupakan satu-satunya wakil DIY di pentas Shopee Liga 1.

Mulai musim 2020, Marco menjadi orang nomor satu di tim Elang Jawa, dengan jabatannya sebagai direktur utama. Ini tak lepas dari adanya proses transisi pengelolaan klub yang dilakukan PSS setelah masuknya investor baru.

Advertisement

Pengalamannya di bidang sepak bola tidak bisa perlu diragukan lagi. Beberapa tahun yang lalu, ia memulai dari titik terendah berkecimpung di dunia sepak bola.

Dimulai dari 2009, ia memutuskan berhenti dari pekerjaannya di bidang pendidikan. Sepak bola telah membuatnya jatuh hati, meski bukan menjadi pemain atau pelatih.

"Keputusan yang berat pindah pekerjaan. Saya sering masukin lamaran ke PSSI maupun ke Menpora sejak Adhyaksa Dault sampai Andi Mallarangeng," terang Marco dalam podcast PSS Sleman yang diunggah, Sabtu (5/12/2020).

Marco bergabung dengan SSB SSI Arsenal yang membuka cabang di Ciputat, Tangerang. Ia mendapat tentangan dari orang tua dengan pilihannya mengurus sepak bola.

"Saya ingin sekali mengembangkan sepak bola Indonesia dan masuk di PSSI. SSI Arsenal jadi jodoh saya, tim yang sudah dibangun sistem modern," bebernya.

Satu tahun kemudian atau tepatnya pada 2010, ia masuk proyek Indonesia Football Academy (IFA) seperti mengirimkan pemain berbakat dalam tim SAD di Uruguay. Marco juga menjadi satu di antara orang yang ikut berjasa dalam proses naturalisasi Cristian Gonzales ketika itu.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Menimba Pengalaman di Klub

Dirut PSS Sleman, Marco Gracia Paulo saat bercengkerama dengan sejumlah pemain di lapangan Yogyakarta Internasional School (YIS). (Dokumen PSS Sleman)

Karier Marco di sepak bola Indonesia belum berhenti sampai di situ. Kiprahnya terus melesat dan mendapat pengalaman segudang dari lingkungan PSSI beberapa klub yang pernah ia singgahi.

Tahun 2011 ia menjabat sebagai manajer media PSSI, lalu masuk dalam manajemen Pelita Bandung Raya pada musim 2013-2015. Lantas kembali lagi ke PSSI sebagai deputi Sekjen. Ia juga sempat masuk di jajaran direksi PT LIB.

Kompetisi Liga 1 musim 2019 lalu ia pun didapuk sebagai CEO Badak Lampung FC. Meski disayangkan karena timnya harus turun kasta ke Liga 2. Hingga pada akhirnya ia berjodoh dengan PSS Sleman, tim yang disebutnya penuh potensi sebagai klub besar di masa yang akan datang.

"Saya banyak belajar terutama dalam menyusun efisiensi budget sebuah klub. Seperti komposisi keuangan yang salah dalam pengelolaan sepak bola Indonesia. Badak Lampung FC meski terdegradasi, saya banyak belajar, kerangka dari sisi manajemen sudah banyak didapat," ungkapnya.

"Untuk tata kelola sepak bola Indonesia sudah lebih baik saat ini, meski seharusnya bisa lebih baik lagi. Saya percaya lima sampai tujuh tahun lagi akan kelihatan ada kemajuan, terlebih di PSS," jelas Marco Gracia Paulo.

Berita Terkait