Cerita Irfan Bachdim: Kedisiplinan, Kerja Keras dan Totalitas ala Pesepak Bola Jepang

oleh Abdi Satria diperbarui 18 Mar 2021, 06:30 WIB
Ilustrasi - Irfan Bachdim, Jepang, Indonesia, Belanda, Thailand (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Makassar - Pengalaman Irfan Bachdim selama berkarier sebagai pesepak bola terbilang lumayan mentereng. Pria kelahiran 11 Agustus 1988 ini sudah merasakan atmosfer kompetisi di Belanda, Thailand, Jepang dan tentu saja Indonesia.

Pencapaiannya terbaiknya adalah membawa Bali United meraih trofi juara Liga 1 2019. Sebelumnya, ia menjadi bagian sukses Consadole Sapporo ketika promosi ke kasta tertinggi dengan status juara Liga 2 Jepang pada 2016.

Advertisement

Sementara di level Timnas Indonesia, nama Irfan Bachdim menjulang ketika tampil di Piala AFF 2010. Meski kembali gagal meraih trofi juara di ajang bergengsi di Asia Tenggara ini, penampilannya bersama skuat Garuda mendapat apresiasi tersendiri.

Dari tujuh partai yang dimainkan hingga dua leg pertandingan final, Indonesia memenangi enam pertandingan dan sekali kalah. Sedang Malaysia yang tampil sebagai juara mencatat 3 kemenangan, 2 imbang dan 2 kali kalah.

Pengalaman berwarna tentu membuat Irfan Bachdim juga mendapat berbagai pelajaran penting. Dalam channel youtube PSS TV, Irfan mengungkap cerita pengalamannya saat bermain di Liga Jepang.

"Karier saya memang tak lama di Jepang. Tapi, saya mendapat banyak pelajaran di sana. Terutama soal etos kerja dan kedisiplinan pemain asal Jepang dalam menjaga penampilan agar tetap berada dalam top level," kenang Irfan Bachdim.

Video

2 dari 3 halaman

Latihan Spartan

Klub Irfan Bachdim di J2-League 2015, Consadole Sapporo, akan berganti nama mulai 1 Februari 2016. (J-League)

Irfan Bachdim merujuk sikap dan kerja keras yang diperlihatkan kapten Consadole Sapporo, Ryuji Kawai, yang ketika itu sudah berusia 37 tahun. Ketika berada di Consadole, seluruh pemain mengikuti latihan reguler tim yang dimulai pada jam 9 pagi.

Irfan yang ingin mempersiapkan diri lebih awal dengan berlatih di ruang kebugaran tim sengaja datang satu jam lebih awal dari jadwal latihan. Setiba di gym, ternyata sang kapten datang lebih dulu.

"Seluruh tubuhnya sudah berkeringat pertanda dia sudah melewati berbagai tahapan latihan di gym," terang Irfan.

Selepas latihan di gym, Irfan dan Ruyji mengikuti latihan reguler tim dengan durasi mencapai dua jam. Setelah itu, biasanya seluruh pemain menambah porsi latihan secara mandiri selama 20-30 menit.

Setelah latihan, Irfan Bachdim ke kamar mandi untuk membersihkan diri, karena setelah itu ia harus menjemput Kenji, anak sulungnya di sekolah dan kemudian beristirahat di rumah.

"Setelah makan siang dan beristirahat, saya keluar sebentar dan kebetulan melewati lokasi ruang kebugaran tim, ternyata Ruyji terlihat berlatih disana," kata Irfan.

3 dari 3 halaman

Disiplin Tertanam Sejak Dini

Irfan Bachdim dengan kostum Consadole Sapporo (Twitter)

Kedisiplinan ala Jepang menurut Irfan Bachdim sudah tertanam sejak dini. Irfan melihat dan merasakan sendiri saat mengantar anaknya ke sekolah. Sebelum masuk ruang kelas, Kenji dan teman-temannya melepaskan sepatu masing-masing. Sebelum ditaruh di tempat yang tersedia, setiap siswa wajib terlebih dulu membersihkan sepatunya.

"Mereka pun sangat fokus mengikuti dan menyimak materi yang diberikan gurunya," terang Irfan.

Mental dan sikap disiplin itu pun terbawa sampai dewasa saat melakoni dunia kerja masing-masing. Termasuk menjadi pemain profesional.

"Tapi, meski terkenal disiplin, mereka juga kerap bercanda. Saya kerap menikmati candaan sesama pemain saat berada di ruang ganti," pungkas Irfan.

Berita Terkait