CEO PSIS: Format Piala Menpora Bisa Ditularkan untuk Liga 1

oleh Vincentius Atmaja diperbarui 12 Mei 2021, 20:00 WIB
Striker PSIS Semarang, Hari Nur Yulianto merayakan gol ke gawang Barito Putera di Grup A Piala Menpora 2021 di Stadion Manahan, Solo, Minggu (21/3/2021). (Bola.com/Muhammad Iqbal Ichsan)

Bola.com, Semarang - Sejumlah tim telah mempersiapkan diri menyongsong kompetisi Liga 1 2021/2022 dengan menjalani program latihan, baik yang digelar bersama maupun mandiri. Mayoritas klub tidak ingin para pemainnya mengalami penurunan kondisi lagi setelah sempat naik ketika Piala Menpora 2021 digelar.

Sejumlah tim juga masih adem ayem soal persiapan latihan, di mana para pemainnya diminta berlatih secara mandiri. Mayoritas tim memang masih menantikan bagaimana pengumuman resmi terkait pelaksanaan Liga 1, termasuk format pelaksanaannya.

Advertisement

Dalam rencananya, PSSI dan PT Liga Indonesia Baru menggulirkan kompetisi Liga 1 pada awal Juli. Kemudian disusul oleh kompetisi Liga 2. Saat ini tengah marak diperbincangkan mengenai kompetisi tanpa degradasi di Liga 1 dan pertandingan dipusatkan di Jawa dengan sistem gelembung atau bubble.

Sistem ini tampak menganut model turnamen Piala Menpora 2021. Hal tersebut pula telah dibahas dalam rapat anggota Exco PSSI belum lama ini. Satu di antara anggota Exco PSSI, sekaligus CEO PSIS Semarang, Yoyok Sukawi, turut angkat bicara menanggapi wacana format kompetisi Liga 1 yang akan bergulir.

Menurut Yoyok Sukawi, pelaksanaan pertandingan Piala Menpora 2021 bisa menjadi role model. Tidak hanya pertandingan di atas lapangan, turnamen pramusim dianggap berhasil berjalan lancar hingga akhir, sekaligus sukses melaksanakan protokol kesehatan dengan ketat.

"Berkaca dari situ, kami membahas banyaknya usulan dari klub Liga 1 dan Liga 2 agar keberhasilan di Piala Menpora bisa diterapkan di Liga 1. Jadi walau formatnya home and away, tapi dibuat formula seperti Piala Menpora," ujar Yoyok Sukawi, Rabu (12/5/2021).

"Dalam turnamen kemarin, setiap tim bertemu di venue yang relatif tidak jauh jaraknya. Misalnya PSIS bertemu Arema di Solo, itu bisa mengurangi risiko penyebaran COVID-19. Pembiayaan juga hemat. Intinya fokus supaya sepak bola tidak menimbulkan klaster baru," lanjut CEO PSIS Semarang itu.

Video

2 dari 2 halaman

Mengakomodasi Permintaan Klub

CEO PSIS Semarang, Yoyok Sukawi bersama calon investor baru, Junianto saat berfoto di Stadion Jatidiri, Semarang belum lama ini. (Dok Pribadi Junianto)

Yoyok Sukawi juga memberikan contoh setiap tim akan melakoni 17 pertandingan untuk putaran pertama dalam semusim. Kemudian misalnya empat pertandingan dengan lawan-lawan yang digelar di tempat yang sama.

Kemudian dilanjutkan untuk pekan-pekan berikutnya dengan lawan yang berbeda, bisa digelar di tempat atau stadion lain. Tentunya regulasi sistem poin dan klasemen tetap berlaku pada umumnya.

Ia menilai formula tersebut untuk meminimalkan perjalanan jauh antarklub. Mencegah adanya klaster yang bisa timbul, jika kompetisi Liga 1 kembali ke format sedia kala, di saat kondisi pandemi COVID-19 belum reda.

"Wacara itu nanti disampaikan dalam managers meeting. Permintaan hampir semua klub, karena rasanya sulit melaksanakan pertandingan di kandang sendiri dengan protokol kesehatan yang sangat ketat. Itu berat," ujar pria bernama lengkap Alamsyah Satyanegara Sukawijaya itu.

"Selain itu meminalkan kesulitan klub mengurus izin pertandingan di daerah. Jadi tidak ada lagi pertandingan ditunda karena perizinan," tegasnya.

Berita Terkait