7 Pemain yang Flop di Liga Inggris, Eh Malah Juara Liga Champions di Klub Lain

oleh Yus Mei Sawitri diperbarui 06 Nov 2021, 21:12 WIB
Premier League - Gerard Pique, Arjen Robben, Jerome Boateng (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Liga Inggris dikenal menyuguhkan persaingan yang keras. Tak sembarang pemain bisa mendulang kesuksesan di liga tersebut. 

Apalagi, seiring bergulirnya waktu, Liga Inggris semakin gemerlap. Pemain bintang makin menyesaki klub-klub Premier League sehingga persaingan menjadi kian sengit. 

Advertisement

Tujuh pemain di daftar ini, meninggalkan Liga Inggris dengan status flop alias gagal. Penyebabnya berbeda-beda sehingga mereka gagal bersinar. 

Namun, bukan berarti karier mereka sudah habis. Mereka berhasil mendulang kesuksesan di tempat lain. 

Ketujuh pemain ini malah mendapatkan gelar Liga Champions setelah meninggalkan Liga Inggris. Bahkan, beberapa pemain menjadi juara Liga Champions dengan mengalahkan klub lamanya. 

Berikut ini tujuh pemain tersebut, seperti dikutip Four Four Two

2 dari 8 halaman

7. Marco Materazzi (Everton)

Mantan bek Inter Milan asal Italia, Marco Materazzi berpose saat tiba menghadiri The Best FIFA Football Awards 2019 di Teatro alla Scala di Milan (23/9/2019). (AFP Photo/Tiziana Fabi)

Marco Materazzi menjalani periode buruk saat merumput di Liga Inggris. Dia hanya bermain satu musim di sana bersama Everton. 

Bayangkan saja, Materazzi bermain dalam 33 pertandingan pada musim 1998/1999, tetapi mengoleksi tiga kartu merah dan 11 kartu kuning! Benar-benar rekor yang buruk. 

Tak heran, dia cepat-cepat dikembalikan ke Perugia. 

Tapi, Materazzi malah moncer di sana. Dia mencatatkan rekor sebagai pencetak gol terbanyak oleh bek dalam satu musim Serie A, yaitu 12 gol. 

Inter Milan langsung tergoda dan memboyongnya. Di bawah polesan Jose Mourinho, Materazzi merasakan gelar juara Liga Champions dalam raihan treble yang gemilang pada musim 2009/2010. 

 

3 dari 8 halaman

6. Gerard Pique (Manchester United)

Gerard Pique. (AFP/Lluis Gene)

Gerard Pique jadi anomali pada daftar ini. Banyak orang mengetahui kualitas apiknya sebagai pesepak bola. 

Pada 2007/2008 seharusnya menjadi musim ketika Pique yang berusia 20 tahun menyelesaikan transisinya dari pemain muda ke skuad reguler Manchester United. Tapi pemain Spanyol itu segera dipinggirkan setelah membiarkan Nicolas Anelka mencetak gol saat kekalahan mengejutkan 0-1 dari Bolton.

Pada musim panas 2008 dia minta dilepas, dengan alasan rindu kampung halaman. Dengan berat hati Sir Alex Ferguson mengabulkan keinginannya. Selain itu, dia juga sulit bersaing karena MU punya duet tangguh Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic.

Pique kembali ke Barcelona dan sejak itu merayakan tiga gelar Liga Champions, dua di antaranya didapat dengan mengalahkan MU di final. 

 

4 dari 8 halaman

5. Jerome Boateng (Manchester City)

Jerome Boateng. Bek tengah asal Jerman ini didatangkan Manchester City dari Hamburg SV pada musim 2010/2011. Akibat mengalami cedera di awal musim, ia hanya bertahan 1 musim dan hanya tampil dalam 24 laga. Musim berikutnya ia hijrah ke Bayern Munchen yang memberinya banyak gelar. (AFP/Aris Messinis)

Karier Jorome Boateng di Manchester City melempem karena kombinasi nasib buruk dan manajemen yang tak ideal. Didatangkan setelah Piala Dunia 2010, pemain internasional Jerman itu harus menunggu lebih dari sebulan untuk melakukan debutnya setelah mengalami cedera menyusul tabrakan dengan troli minuman di pesawat.

Kesialannya berlanjut. Ketiga dirinya sudah fit, pelatih City saat itu Roberto Mancini malah memasangnya sebagai fullback ketimbang bek tengah. Boateng dicoret dari skuad City untuk final Piala FA 2011, kemudian hengkang ke Bayern Munchen pada musim panas itu.

Di Bayern, ia menjuarai Liga Champions 2013, kemudian juga jadi kampiun Piala Dunia 2014 bersama Jerman. 

 

5 dari 8 halaman

4. Sylvinho (Arsenal)

Barcelona - Carles Puyol, Xavi, Sylvinho (Bola.com/Adreanus Titus)

Arsenal harus berjibaku melawan Tottenham Hotspur saat mendatangkan Sylvinho. Dia menjadi pemain pertama asal Brasil yang bermain untuk Arsenal. 

Dia menikmati tahun pertama yang bagus di klub termasuk mencetak beberapa gol yang tak terlupakan, salah satunya melawan Chelsea.

Pada akhirnya, kombinasi cedera, isu paspor, dan kemunculan Ashley Cole menyudahi kariernya di Arsenal. Dia dijual ke Celta Vigo pada 2001, kemudian gabung Barcelona tiga tahun berselang. Pada 2009, dia menjadi starter ketika Barcelona tampil di final Liga Champions dan juara. 

 

6 dari 8 halaman

3. Gary Cahill (Aston Villa)

Gary Cahill merupakan salah satu bek Chelsea yang mampu mengoleksi gol lebih dari rata-rata pemain belakang Liga Inggris lainnya. Ia mencatat 37 gol dari 375 penampilannya bersama Chelsea, Aston Villa, Boston Wanderers, dan Cyrstal Palace. (Foto: AFP/Oli Scarff)

Penggemar Aston Villa pasti menyesal ketika melihat produk akademi klub, Gaey Cahill, diizinkan bergabung dengan Bolton seharga 5 juta pounds pada 2008.

Selama empat tahun di Bolton, dia dipanggil ke Timnas Inggris dan kemudian pindah ke Chelsea. Saat itu, Chelsea hanya membayar 7 juta pounds untuk memboyongnya pada Januari 2012. Di sana, ia memenangi Piala FA dan Liga Champions pada musim pertamanya. 

 

7 dari 8 halaman

2. Arjen Robben (Chelsea)

9. Arjen Robben (Chelsea) - Pria asal Belanda ini nyaris bergabung dengan Setan Merah. Namun karena MU enggan mengeluarkan biaya lebih untuk PSV akhirnya Chelsea maju dengan kekuatan uang untuk mendaratkanya ke Stamford Bridge. (AFP/Adrian Dennis)

Arjen Robben senang menjadi bagian pertukaran pemain Chelsea dan Real Madrid. Namun, yang sebenarnya sang manajer, Jose Mourinho, sudah hilang kesabaran terhadap Robben. 

Robben kerap menepi karena cedera ringan, dan Mourinho dengan senang hati menjualnya ke Madrid dan mendapatkan Florent Malouda. 

Los Blancos mau membeli Robben setelah gagal mendapatkan Michael Ballack. Robben yang akhirnya jadi yang tertawa paling belakangan. Setelah dua tahun, ia bergabung ke Barcelona dan memenangi Liga Champions di sana. 

 

8 dari 8 halaman

1. Patrik Andersson (Blackburn)

Andersson mendapatkan status legendaris di mata penggemar Bayern Munchen untuk gol di menit akhir yang membuat Bayern meraih gelar Bundesliga 2001 yang mengejutkan dari sang rival, Schalke. Itu adalah satu-satunya golnya untuk Bayern.

Banyak penggemar Blackburn Rovers mungkin lupa dia pernah main di Ewood Park hampir satu dekade sebelumnya.

Andersson adalah salah satu pemain asing pertama yang main di Premier League pada 1992/93, tetapi hanya bermain 12 pertandingan liga sebelum bergabung dengan Borussia Monchengladbach. Enam musim yang mengesankan di sana membuatnya beralih ke Bayern, dan pemain Swedia itu mengalami kejayaan Eropa pada 2001 dengan bermain selama 120 menit dalam kemenangan adu penalti final Liga Champions raksasa Jerman itu atas Valencia.

Sumber: Four Four Two  

Berita Terkait