Nasib Tragis Rekan Senegara Lionel Messi : Kala Cinta itu Tak Berguna di Liga Inggris

oleh Nurfahmi Budi diperbarui 01 Mar 2022, 13:22 WIB
Marcelo Bielsa. Performa apik musim lalu dengan finish di posisi ke-9 belum mampu diteruskan pelatih asal Argentina ini di awal musim ini. Baru meraih satu kemenangan dan 4 hasil imbang dari 9 laga, Leeds United terpuruk di posisi ke-17 klasemen sementara. (AFP/Oli Scarff)

Bola.com, Jakarta - "Ini adalah keputusan yang sangat berat. Kami sudah melewati 1.353 hari bersama. Tapi apapun itu, keputusan ini harus diambil demi mengubah hidup,".

Kalimat tersebut keluar dari mulut Chairman Leeds United, Andrea Radrizzani, sesaat setelah mengumumkan pemecatan Marcelo Bielsa. Mereka masih cinta, tapi semua itu tak ada lagi saat Leeds berada di pinggir jurang degradasi.

Advertisement

Sosok Marcelo Bielsa memang bak legenda hidup di Leeds. Ia membawa tim yang bermarkas di Elland Road itu merangsek ke level Premier League. Empat tahun lalu, Leeds mungkin bukan siapa-siapa, hanya nama besar.

Bielsa datang, dan semuanya menjadi gembira, baik pemain, fans sampai manajemen. Hal itu berlatar keberhasilan mereka berada di Premier League, sebuah tempat yang pernah melahirkan para pesohor seperti Mark Viduka, Harry Kewell, Jonathan Woodgate, Paul Robinson sampai Rio Ferdinand.

Namun , semua itu tak bisa berlangsung lama. Tiupan alarm bahaya sudah berdengung keras dalam beberapa pekan terakhir. Pada akhirnya, cinta itu harus kalah dengan realitas yang terjadi.

Corak permainan Bielsa yang cenderung monoton menjadi latar kehadirannya tak diperlukan lagi, terutama setelah memetik hasil buruk. Menurut pengamat Liga Inggris, Mark Ogden, gaya Bielsa selalu begitu-begitu saja.

 

2 dari 4 halaman

Titik Beda

Manajer Liverpool, Jurgen Klopp Vs manajer Chelsea, Thomas Tuchel. (AFP/Laurence Griffiths)

Hal itu berbeda dengan Pep Guardiola dan Jurgen Klopp, yang bisa melakukan strategi fleksibel sesuai dengan lawan serta kekuatan internal. Atau, Jose Mourinho, yang meskipun terkenal berperangai buruk, tapi mementingkan hasil akhir atau trofi dibanding main bagus.

Titik lemah 'bermain bagus' itu pula yang membuat Marcelo Bielsa harus terkapar. Ia tak sanggup lagi mengembalikan level ketajaman dan soliditas tim. "Dia seperti kagok, dan kesabaran manajemen Leeds sudah habis," kata Mark Ogden.

Kesengsaraan Leeds United memang sangat terasa tebal. Bagaimana tidak, mereka kebobolan 20 gol dalam lima pertandingan terakhir di panggung Liga Inggris. Selain itu, mereka mengalami tiga kekalahan pada periode enam hari terakhir, yakni kontra MU, Liverpool dan Tottenham Hotspur.

Jelas, bersua tiga raksasa tersebut dengan kebobolan 14 gol dan hanya dua kali mencetak gol, memberi rapor merah terhadap Bielsa. Tak ayal, rekan senegara Lionel Messi tersebut harus memangkas lebih pendek masa kontrak di Elland Road.

 

3 dari 4 halaman

Terjerembab Sakit

Pemain Leeds United, Raphinha, melakukan selebrasi bersama Patrick Bamford usai mencetak gol ke gawang Southampton pada laga Liga Inggris di Stadion Elland Road, Selasa (23/2/2021). Leeds United menang dengan skor 3-0. (Laurence Griffiths/Pool via AP)

Dua kemenangan dalam 12 laga terakhir memberi pengaruh buruh bagi Leeds. Setidaknya, jika dibanding dua musim terakhir, mereka turun tangga teramat jauh. Kini, mereka berada di posisi ke-16 klasemen sementara Liga Inggris 2021/2022, dan punya kans kembali ke Championship Division.

Kini, Leeds berada dua poin di bawah tim yang berada di batas zona degradasi, Burnley. Namun, Burnley masih punya tabungan dua pertandingan. Tak heran, wajar jika Bielsa pergi jika tak ingin melihat Leeds terjun bebas lagi.

Mark Ogden memberi penilaian terhadap Bielsa. Ia menganggap, sosoknya nyaris sama dengan Louis van Gaal, Jorge Sampaoli, Maurizio Sarri dan Arsene Wenger. Mereka adalah deretan pelatih yang enggan mengubah gaya permainan, setidaknya demi fleksibilitas serta tren masa sekarang.

4 dari 4 halaman

Tim Kamu Di Mana?

Berita Terkait