Tragedi Kanjuruhan, Belasungkawa Yabes Tanuri dan Sepak Bola yang Harus Lebih Manusiawi

oleh Alit Binawan diperbarui 08 Okt 2022, 06:45 WIB
Ilustrasi - Duka Cita Sepak Bola Warna Hitam - Stadion Kanjuruhan 1 Oktober 2022_Ver 2 (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Denpasar - Sudah hampir sepekan tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 131 suporter Arema FC berlalu. Namun, luka dan duka masih dirasakan hingga saat ini. Bukan hanya bagi Aremania, Arema FC, ataupun warga Malang saja. Teteapi juga bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Tak terkecuali bagi 17 klub Liga 1. Madura United misalnya, menujukkan rasa empatinya dengan menghentikan sejenak aktivitas mereka di dunia sepak bola.

Advertisement

Dari unggahan mereka di instagram resmi Madura United, tersirat bahwa tidak ada aktivitas latihan yang dilakukan.

Namun klub lain masih tetap menggelar latihan. Misalnya Bali United yang tetap berlatih meskipun Liga 1 ditangguhkan sementara waktu. Meskipun masih berlatih, tetapi rasa emoati masih tetap mengalir.

Misalnya dari CEO Bali United yang menyampaikan belasungkawa terkait tragedi Kanjuruhan. "Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas tragedi di Kanjuruhan. Tentunya kejadian ini bukan hanya menimpa Aremania dan Arema FC saja, tetapi menjadi pukulan telak bagis seluruh suporter yang ada di Indonesia,” beber Yabes pada Jumat (7/10/2022).

“Bukan juga hanya warga Indonesia yang berkabung, tetapi masyarakat dari belahan dunia lain ikut merasakannya,” tambah pria yang juga menjabat sebagai Presiden Direktur PT Bali Bintang Sejahtera, Tbk (BOLA) tersebut.

2 dari 5 halaman

Perdamaian di Mana-mana

Ribuan suporter Persebaya Surabaya, Bonek, memadati Tugu Pahlawan, Surabaya, Senin (3/10/2022) malam. Mereka menggelar aksi solidaritas Tragedi Kanjuruhan di Malang. (Dok. Persebaya)

Di satu sisi Yabes bersedih dengan kejadian ini, disisi lainnya dia juga senang. Senang karena elemen suporter yang sudah bertahun-tahun lamanya berseteru akhirnya berangkulan kembali satu sama lain.

Mereka menjadi satu kesatuan setelah tragedi memilukan ini. Sebagai masyarakat Indonesia, rasanaya senang bisa melihat The Jakmania dengan Viking saling memberikan dukungan. Bonekmania dengan Aremania yang saling menguatkan satu sama lain.

Atau suporter Persis Solo, PSS Sleman, dan PSIM Mataram Yogyakarta yang berada di tempat yang sama, Stadion Mandala Krida Yogyakarta untuk menggelar doa bersama dan melakukan pertemuan dengan guyub untuk mengenang para korban tragedi Kanjuruhan.

3 dari 5 halaman

Rivalitas yang Lebih Manusiawi

Yabes pun senang melihat kondisi suporter dengan perseturuan bertahun-tahun bahkan berdekade lamanya bisa saling menguatkan satu sama lain, berangkulan, dan tidak ada gesekan di antara mereka.

“Rivalitas itu kan hanya 90 menit di lapangan. Di luar itu, kami semua saudara. Semua suka sepak bola. Memang ketika melihat tim kebanggaan kalah, tidak enak hati rasanya. Pasti ada jiwa untuk memiliki dari suporter,” ujarnya.

Namun yang perlu diingat, perdamaian boleh saja terjadi tetapi rivalitas harus tetap berjalan. Rivalitas dalam arti yang positif. Rivalitas yang selalu mendukung penuh klub kebanggaan tanpa saling menjatuhkan tim lawan atau saling bentrok fisik.

4 dari 5 halaman

Cukup 90 Menit

Bagi Yabes, pertandingan sepak bola hanya 90 menit di lapangan. Tensi tinggi boleh saja terjadi, namun setelah pertandingan tidak boleh ada gesekan yang memicu perselisihan.

“Bukan berarti tanpa rivalitas ya. Rivalitas perlu untuk mendukung penuh tim mereka masing-masing. Bukan untuk menjatuhkan tim lawan atau melakukan hal-hal negatif lainnya.

Hal senada juga diungkapkan penyerang Bali United Lerby Eliandry Pong Babu. Lerby menilai semua elemen suporter ditengah duka mendalam akibat tragdi Kanjuruhan, bisa melakukan introspeksi diri agar tidak ada kejadian serupa terulang kembali.

5 dari 5 halaman

Introspeksi

Yang jelas lanjut Lerby, dia senang adanya rivalitas di dunia sepak bola namun rivalitas tersebut harus terjadi secara sehat.

"Kami sebagai pemain senang ketika di lapangan, didukung suporter. Senang ada rivalitas. Tapi rivalitas yang sehat dengan mendukung tim sendiri," ucapnya.

"Suporter harus bisa introspeksi diri dengan kejadian kemarin. Rivalitas hanya sekadar rivalitas selama 90 menit. Jangan hanya saling menyalahkan, tetapi juga memberikan dukungan. Boleh mencintai tim, tetapi tidak terlalu fanatik. Fanatisme berlebihan itu tidak baik dan hanya akan merugikan berbagai pihak," tutup mantan penyerang Borneo FC ini.

 

Berita Terkait