6 Tim dengan Penampilan Terburuk dalam Sejarah Piala Dunia: Qatar Bakal Menyusul Masuk Daftar?

oleh Benediktus Gerendo Pradigdo diperbarui 27 Nov 2022, 10:45 WIB
Ilustrasi trofi piala dunia (AFP)

Bola.com, Jakarta - Matchday kedua Piala Dunia 2022 baru berjalan, sudah ada tim yang dipastikan tersingkir dan tak bakal berlanjut ke babak selanjutnya. Bahkan tim tuan rumah Qatar menjadi tim pertama yang dipastikan tersingkir dari Piala Dunia 2022. Sebegitu buruknya Qatar?

Qatar memulai Piala Dunia 2022 dengan kekalahan 0-2 dari Ekuador. Kekalahan itu langsung membuat tim tuan rumah itu mendapatkan stempel buruk: Tim tuan rumah pertama dalam 92 tahun terselenggaranya Piala Dunia yang langsung kalah dalam laga pembuka.

Advertisement

Afrika Selatan saja yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010, tim yang seumur-umur belum pernah bermain di Piala Dunia seperti halnya Qatar, mampu meraih satu poin di laga pembuka mereka. Ketika itu Afrika Selatan menghadapi Meksiko setelah bermain imbang 1-1.

Bahkan gol perdana di edisi 2010 pun dicetak oleh pemain dari tim tuan rumah, Lawrence Siphiwe Tshabalala.

Wajah Qatar makin buruk setelah pada laga kedua mereka kalah 1-3 dari Senegal. Bahkan belum bertemu Belanda yang akan jadi lawan di matchday terakhir fase grup, Qatar sudah memastikan diri tersingkir dari Piala Dunia 2022.

Namun, sebelum Qatar, ada enam tim yang tercatat pernah menjadi tim terburuk dalam sejarah pelaksanaan Piala Dunia. Tim mana saja ya? Berikut ulasannya seperti dilansir dari FourFourTwo.

2 dari 8 halaman

Zaire (Piala Dunia 1974)

Republik Demokratik Kongo. Negara yang sebelumnya bernama Zaire ini lolos ke Piala Dunia 1974 di Jerman Barat mewakili benua Afrika. Bergabung di Grup 2 bersama Yugoslavia, Brasil dan Skotlandia pada fase grup, Zaire menelan kekalahan dari ketiga lawannya tanpa mencetak satu gol pun. Mereka takluk 0-2 dari Skotlandia, 0-9 dari Yugoslavia dan 0-3 dari Brasil. (AFP/Staff)

Tim dari negara Sub-Sahara pertama yang bermain di Piala Dunia dan mengalami masa-masa yang sulit. Setelah beruntung saat melawan Skotlandia, di mana mereka hanya kalah 0-2, Zaire dibungkam 0-9 oleh Yugoslavia.

Kekalahan telak itu membuat para pemain mendapatkan panggilan dari ofisial tim dan diberitahu bahwa penampilan mereka telah membuat pemimpin negara mereka merasa jijik, yaitu Presiden Mobutu yang terkenal lalim. Sehingga jika mereka kebobolan lebih dari tiga gol dari juara dunia Brasil, mungkin mereka tidak akan diiinkan pulang setelah turnamen.

Para pemain pun bertahan sampai orang terakhir, dan meski Mwepu Ilunga malu sambil berlari keluar dari tembok pertahanan untuk menerjang bola ketika Rivellino bersiap untuk menembak, Zaire mampu menjaga skor 0-3 yang boleh dibilang cukup terhormat.

Namun, dengan kebobolan 14 gol dalam 3 laga di Piala Dunia, Presiden Mobutu yang marah menegakan bahwa penampilan tim nasionalnya telah mempermalukan seluruh benua Afrika.

3 dari 8 halaman

El Savador (Piala Dunia 1982)

"Negara ini sangat menderita dan kami mendapatkan tekanan saat mencoba untuk menguranginya," ujar Mauricio Alfaro, gelandang Timnas El Savador kepada FourFourTwo.

El Savador hancur berkeping-keping ketika menghadapi Hongaria dalam laga pertama mereka di Piala Dunia 1982, kalah 1-10 yang tetap menjadi rekor yang tidak diinginkan dalam putaran final Piala Dunia.

Pemain pengganti Laszlo Kiss menyelesaikan hattrick dalam tujuh menit, dan bahkan perayaan panas Luis Ramirez, yang mencetak gol hiburan untuk tim El Savador tidak bisa menyembunyikan rasa malu para pemain.

Setelah taktik dirombak dan ada perlawanan terhadap manajer tim, El Savador mendapatkan kembali semangat tanding mereka untuk berjuang hingga akhir melawan Belgia dan Argentina. Mereka hanya kalah 0-1 dan 0-2.

Skor 1-10 saat melawan Hongaria membuat tim ini menjadi obyek lelucon internasional. Meski itu bukan lelucon yang ditujukan untuk para pemain, tapi kebanyakan dari mereka dijauhi setelah pulang ke negaranya.

4 dari 8 halaman

Yunani (Piala Dunia 1994)

Diego Maradona (depan) merayakan gol Timnas Argentina ke gawang Yunani pada laga perdana Grup D Piala Dunia 1994 di Foxboro Stadium, Foxborough, 21 Juni 1994. Dalam duel itu, Argentina menang 4-0 atas Yunani. (AFP/Daniel Garcia)

Pelatih Alketas Panagoulias menjadi pahlawan nasional setelah membawa Yunani ke putaran final Piala Dunia. Namun, dalam waktu sekejap anggapan itu berubah 180 derajat ketika Piala Dunia dimulai.

Yunani gagal mencetak gol di Piala Dunia 1994, dan momen yang paling berkesan dalam pertandingan mereka datang dari Diego Maradona, yang selebrasinya gila setelah membantu Argentina menang 4-0 dan tetap menjadi momen paling terkenal di Piala Dunia.

Selain itu juga ada Daniel AMokachi yang mencetak gol kedua yang luar biasa dalam kemenangan 2-0 yang diraih oleh Nigeria.

Sebagai penutup, Bulgaria membungkam Yunani dengan skor 4-0. Panagoulias yang memilih pengalaman ketimbang keberadaan pemain muda di dalma skuad, mengajukan pengunduran diri setelah Piala Dunia, menggambarkan dirinya sebagai orang yang patah hati.

Setelah itu, mayoritas skuad Yunani untuk Piala Dunia 1994 tak pernah lagi bermain sepak bola memperkuat tim nasional.

5 dari 8 halaman

Swedia (Piala Dunia 1990)

Dengan perpaduan yang kuat dari para profesional berpengalaman seperti Johnny Ekstrom dan Roland Nilsson, bintang muda yang cemerlang Tomas Brolin, plus rekrutan baru Arsenal, Anders Limpar, tim asuhan Olle Nordin ini dianggap sebagai kejutan di Piala Dunia 1990.

Namun, seperti yang diakuo Brolin setelah itu: "Tekanan menimpa kami dan kami membeku."

Dua gol Careca membantu Brasil menang 2-0 pada laga pertama di fase grup, dan setlah Skotlandia menang 2-1 atas Swedia, Nordin membuat pengakuan.: "Pola pikir kami terlalu rapuh."

Tidak ada hiburan dalam pertandingan terakhir melawan Kosta Rika, di mana Hernan Medford mencetak gol kemenangan pada menit ke-87.

Pulang lebih awal, Nordin bersikeras timnya akan belajar dari pengalaman tersebut. Mereka tentu melakukannya dan menjadi kekuatan Eropa pada tahun-tahun berikutnya, tapi dengan Tommy Svensson yang menjadi pelatih, bukan Nordin.

6 dari 8 halaman

Bolivia (Piala Dunia 1950)

Piala Dunia 1950 (fifa.com)

Ketika tim asal Amerika Selatan ini lolos ke Piala Dunia pertama setelah perang dunia, mereka berharap bisa tampil lebih baik daripada pendahulunya di turnamen perdana pada 1930, di mana mereka kalah 0-4 dari Brasil dan Yugoslavia di babak penyisihan grup.

Namun, 20 tahun kemudian di Belo Horizonte, Brasil, Los Altiplanicos membuat mereka sendiri kalah, di mana mereka kebobolan delapan gol saat menghadapi Uruguay yang akhirnya menjadi juara.

Karena pool empat hanya berisi dua tim tersebut, kehadiran Bolivia di Piala Dunia berakhir setelah satu pertandingan yang buruk. Mungkin bukan yang terburuk.

7 dari 8 halaman

Prancis (Piala Dunia 2010)

Striker Timnas Prancis Nicolas Anelka ketika berlaga dalam partai persahabatan jelang Piala Dunia 2010 kontra Tunisia di Rades, 30 Mei 2010. AFP PHOTO/FRANCK FIFE

Bukan hanya karena dipenuhi bintang-bintang yang berbakat, Prancis meninggalkan Afrika Selatan setelah hanya meraih satu poin di Grup A, tapi lebih karena perilaku buruk yang dilakukan para pemain yang menodai seluruh pengalaman yang terjadi.

Mungkin itu adalah kesalahan pelatih Raymond Domenech yang gagal mengelola bakat-bakat tua seperti Thierry Henry dan Williams Gallas secara efektif.

Pada jeda antarbabak ketika Prancis kalah dari Meksiko, Nicolas Anelka berbasa-basi kepada Domenech, di mana mantan striker Arsenal itu diduga mengatakan kepada pelatihnya untuk pergi.

Ketidaksepakatan yang dihasilkan atas didepaknya Nicolas Anelka dari skaud antara pemain dan pihak berwenang yang menyebabkan beberapa bintang mengancam memboikot pertandingan terakhir mereka.

Meskipun hal ini bisa dihindari, Prancis melakukan pergerakan saat tuan rumah Afrika Selatan mengalahkan mereka, meninggalkan tim favorit sebelum turnamen itu berada di bawah. Reputasi dari beberapa pemain dan Domenech pun hancur.

8 dari 8 halaman

Berita Terkait