Kilas Balik Piala AFF 2012: Bambang Pamungkas Ungkap Kualitas Jhonny Van Beukering yang Sesungguhnya

oleh Radifa Arsa diperbarui 08 Des 2023, 10:15 WIB
Nasib miris dialami oleh Jhonny van Beukering, eks kapten klub Eredivisie Feyenoord yang kini berusia 38 tahun dan juga sempat memperkuat Timnas Indonesia sebagai pemain naturalisasi. Setelah pensiun dari sepak bola pada 2019, kehidupannya berubah drastis usai mengalami kebangkrutan dan kini menjadi seorang satpam di sebuah klab striptease di Belanda dengan gaji 50 euro per pekan. (AFP/ANP/Marco De Swart)

Bola.com, Jakarta - Performa Timnas Indonesia pada Piala AFF 2012 menjadi salah satu penampilan yang paling diingat oleh publik. Selain cerita kegagalan skuad Garuda, kiprah striker naturalisasi, Jhonny Van Beukering meninggalkan catatan tersendiri.

Bobroknya performa Timnas Indonesia saat itu tak terlepas dari dualisme yang menjangkiti kepengurusan PSSI. Skuad Merah Putih tak bisa menurunkan komposisi pemain terbaiknya karena tersendat dualisme kompetisi.

Advertisement

Ketika itu, pemain-pemain Timnas Indonesia yang mayoritas berkompetisi di Indonesia Super League (ISL) tak bisa mendapatkan panggilan. Sang nakhoda, Nil Maizar, hanya bisa memanggil pemain-pemain dari Indonesia Premier League (IPL).

Hanya ada dua pemain asal ISL yang ketika itu membelot untuk tetap memenuhi panggilan negara, yakni Bambang Pamungkas (Persija Jakarta) dan Oktovianus Maniani (Persiram Raja Ampat).

Saat itu muncul tiga pemain naturalisasi baru yang dipanggil oleh PSSI, yakni Raphael Maitimo, Tonnie Cussel, dan Jhonny Van Beukering. Nama yang disebut paling akhir meninggalkan kesan tersendiri bagi pencinta Timnas Indonesia.

Bukan karena performanya yang luar biasa, striker asal Belanda itu justru mendapat olok-olok dari publik karena posturnya yang kurang ideal bagi seorang pesepak bola profesional. 

2 dari 4 halaman

Gagal Lolos Fase Grup

Bambang Pamungkas. Striker yang telah pensiun dari Timnas Indonesia pada 2012 ini mampu mencetak 1 gol saat melawan Malaysia di Piala AFF 2002. Gol tersebut dicetaknya di babak semifinal (27/12/2002) dengan skor akhir 1-0 untuk kemenangan Timnas Indoneia. (AFP/Adek Berry)

Bambang Pamungkas bercerita, ketika itu ada empat penyerang yang memperkuat lini serang Timnas Indonesia. Sayangnya, performa skuad Garuda masih belum memenuhi ekspektasi hingga akhirnya gagal lolos dari fase grup.

Ketika itu, anak asuh Nil Maizar hanya bisa meraih satu kemenangan saja, yakni saat melawan Singapura (1-0). Sisanya, Indonesia harus bermain seri melawan Laos (2-2) dan tumbang dua gol tanpa balas dari Malaysia.

“Saat itu, komposisi strikernya ada saya, Van Beukering, Samsul Arif, dan Irfan Bachdim. Yang main pertama saya dan Irfan,” kata Bepe seperti dikutip dari kanal YouTube Sport77.

“Kemudian pada laga kedua Irfan dan Samsul Arif. Kita saat itu hanya bermain tiga kali karena tidak lolos dari fase penyisihan grup,” imbuhnya.

 

3 dari 4 halaman

Kondisi Van Beukering

kiprah striker naturalisasi, Jhonny Van Beukering meninggalkan catatan tersendiri. (Dok Liputan6.com)

Menurut Bepe, performa Jhonny Van Beukering yang jauh di bawah standar disebabkan karena kondisinya yang kurang prima. Akhirnya, dia hanya bisa bermain satu kali saja saat menghadapi Malaysia.

“Kondisi Van Beukering saat itu memang tidak fit, sehingga pada pertandingan pertama dan kedua dia belum bisa bermain. Dia baru main pada laga ketiga,” ujarnya.

“Itu pun dia baru bermain pada sepuluh atau lima belas menit terakhir. Sebelum itu, menariknya, dia sempat bermain untuk Feyenoord,” imbuhnya.

 

4 dari 4 halaman

Kualitasnya Cukup Oke

Legenda Persija Jakarta itu sebetulnya mengakui bahwa kualitas Van Beukering cukup oke. Hal itu sebetulnya bisa dilacak dari rekam jejak sang pemain yang pernah memperkuat sejumlah klub elite Liga Belanda seperti Vitesse (2000-2004) dan Feyenoord (2010-2011).

Salah satu kendala lelaki kelahiran 29 September 1983 itu, menurut Bepe, ialah karena kondisi fisiknya yang kurang proporsional. Itulah mengapa, Van Beukering tak bisa tampil optimal di Piala AFF 2012.

“Kalau secara teknik, menurut saya, dia cukup baik. Hanya saja, mungkin waktu itu kondisinya tidak fit. Badannya juga cukup berisi,” kata kolektor 83 caps bersama Timnas Indonesia itu.

“Apabila kalau kondisi dia normal, artinya berat badannya proporsional, mungkin ya bagus, Faktanya dia pernah bermain di tim-tim elite seperti Vitesse. Artinya dia punya kualitas,” lanjutnya.