Mampukah Vinicius Menemukan Kembali Sentuhannya saat Membela Timnas Brasil?

Bisakah Vinícius menemukan kembali puncak permainannya bersama Timnas Brasil?

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 13 November 2025, 15:00 WIB
Vinicius Junior dari Brasil mengamati bola dalam pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Ekuador di stadion Banco Pichincha di Guayaquil, Ekuador, Kamis, 5 Juni 2025. (AP Photo/Dolores Ochoa)

Bola.com, Jakarta - Kinerja Vinicius Junior belakangan ini kembali menjadi sorotan. Selain aksinya yang menuai kritik di Real Madrid, muncul kekhawatiran, seperti disampaikan jurnalis Brasil terkemuka, Marcelo Barreto, bahwa winger ini tengah terjebak dalam fenomena "Neymar-ization".

Namun, pelatih Timnas Brasil, Carlo Ancelotti, menolak terbawa arus kritik.

Advertisement

"Kehidupan pribadinya adalah urusannya sendiri. Saya bukan ayahnya, bukan saudaranya, saya hanya ingin menjadi pelatihnya," kata Ancelotti saat memanggil skuad untuk laga persahabatan melawan Senegal dan Tunisia.

Kehadiran pelatih asal Italia ini di timnas sempat menuai kontroversi. Dalam sebuah acara CBF untuk pelatih lokal pekan lalu, mantan kiper sekaligus pelatih Brasil, Emerson Leao, menegaskan ketidaksukaannya terhadap pelatih asing.

"Saya selalu mengatakan saya tidak suka pelatih asing di negara saya, dan pandangan itu tidak berubah," ujarnya.

Namun, Ancelotti tetap tenang. Malah, komentar publik semacam itu justru meningkatkan popularitasnya di Brasil, ditambah dengan usahanya berbicara dalam bahasa Portugis dan rasa hormat yang ditunjukkan kepada kompetisi domestik.


Peringatan ke Pemain

Pelatih kepala tim nasional Brasil, Carlo Ancelotti mengamati para pemainnya selama sesi latihan di Sao Paulo, pada 3 Juni 2025. (Nelson ALMEIDA/AFP)

Kesuksesan bagi Ancelotti jelas berbasis hasil: memenangkan Piala Dunia 2026. Dalam konteks itu, hubungan dengan Vinicius menjadi krusial.

Mengenai insiden terbaru di Real Madrid, Ancelotti mengungkap bahwa ia telah berbicara langsung dengan pemainnya.

"Vinícius bilang dia menyadari kesalahannya dan tampaknya telah meminta maaf. Jadi, saya yakin masalah itu sudah beres," kata pelatih berusia 64 tahun itu.

Di Madrid, masalah muncul saat Ancelotti harus menyeimbangkan peran Vinicius dengan kehadiran Kylian Mbappe, yang juga suka bergerak ke sisi kiri. Dengan Xabi Alonso menempatkan Mbappe di atas Vinicius dalam hierarki tim, benih ketegangan pun muncul.

Meski begitu, ego battle seperti ini tidak akan terulang di ruang ganti Timnas Brasil.

Sebelum FIFA Matchday bulan lalu, Ancelotti memberi peringatan kepada pemainnya.

"Kita semua harus memiliki tujuan jelas: memenangkan Piala Dunia, bukan menjadi pemain terbaik dunia," ujarnya.

Pernyataan ini diyakini ditujukan pada Vinicius, yang sempat frustrasi setelah finis di belakang Rodri dalam voting Ballon d'Or tahun lalu. Kejadian itu bahkan berdampak pada performa Brasil saat itu, termasuk insiden penalti gagal Vinicius melawan Venezuela yang berujung hasil imbang 1-1.


Permainan Kolektif

Timnas Brasil, Vinicius Junior merayakan gol pertama timnya ke gawang Korea Selatan saat laga 16 besar Piala Dunia 2022 yang berlangsung di 974 Stadium, Selasa (06/12/2022). (AP/Jin-Man Lee)

Ancelotti kini menekankan filosofi permainan kolektif daripada mengejar prestasi individu. Ia membangun tim untuk mengeluarkan potensi terbaik Vinicius.

Tidak lagi ditempatkan selalu di sayap kiri, winger Real Madrid ini kini diberi kebebasan untuk bergerak mencari ruang di dekat kotak penalti lawan, terkadang membentuk formasi empat penyerang dengan Gabriel Martinelli atau Rodrygo mendampingi.

Namun, formasi ini menyisakan tantangan di lini tengah, yang hanya diisi Bruno Guimaraes dan Casemiro.

Hal ini mengingatkan pada kekalahan telak Brasil 1-4 dari Argentina saat Dorival Junior masih melatih, di mana terlalu banyak pemain menyerang membuat tim kehilangan keseimbangan.

Untuk itu, penyerang harus mau membantu lini tengah, sesuatu yang selama ini menjadi titik lemah Vinicius, terutama di Piala Dunia 2022 saat ia ditarik lebih awal di perempat final kontra Kroasia karena pressing dan kerja tanpa bola kurang maksimal.

Pendekatan Ancelotti tampaknya berhasil. Setelah menegaskan pentingnya permainan tim, Brasil menghentikan rekor tak terkalahkan Korea Selatan dengan kemenangan telak 5-0.

"Ini permainan tim yang lengkap. Kami bermain baik dengan dan tanpa bola, serta komitmennya sangat baik," kata Ancelotti.

Vinicius pun tampil maksimal dan mencetak gol terakhir dalam pertandingan itu.


Reuni Real Madrid

Latihan ini menjadi persiapan timnas Brasil jelang laga kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Ekuador. (Nelson ALMEIDA/AFP)

Meski begitu, beberapa pertanyaan tetap muncul. Beberapa hari kemudian, Brasil kebobolan dua gol dan kalah 2-3 dari Jepang.

Ancelotti memang menurunkan lini belakang cadangan, tetapi secara teori tim seharusnya lebih solid, terutama dengan Matheus Cunha di bangku cadangan dan Lucas Paqueta masuk sebagai gelandang ketiga.

Tantangan lain adalah apakah Brasil bisa tetap bermain empat penyerang dalam cuaca ekstrem Piala Dunia 2026. Di Copa America tahun lalu, tim cenderung menurunkan tiga gelandang tengah untuk menjaga keseimbangan.

Casemiro, yang akan berusia 34 tahun pada Februari, juga mulai rentan dengan akumulasi kartu, sementara penggantinya baru ditemukan lewat panggilan kembali Fabinho, mantan gelandang Liverpool yang kini bermain di Arab Saudi.

Dengan Ancelotti, Vinicius, Casemiro, Eder Militao, dan Rodrygo, ruang ganti Timnas Brasil kini terlihat seperti reuni Real Madrid.

Pertanyaannya: bisakah chemistry itu berbuah sukses sama seperti di Bernabeu saat Don Carlo masih memimpin?

 

Sumber: ESPN

Berita Terkait