Harry Maguire dan Conor Gallagher Berpacu dengan Waktu untuk Tembus Timnas Inggris di Piala Dunia 2026

Perubahan pelatih kerap membawa konsekuensi besar bagi para pemain internasional.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 21 Januari 2026, 22:30 WIB
Harry Maguire dari Manchester United menyapa para suporter seusai pertandingan Liga Inggris antara Liverpool dan Manchester United di Anfield, Minggu, 19 Oktober 2025. (AP Photo/Ian Hodgson)   

Bola.com, Jakarta - Perubahan pelatih kerap membawa konsekuensi besar bagi para pemain internasional. Hal itu kini dirasakan sejumlah penggawa Timnas Inggris sejak Thomas Tuchel resmi mengambil alih jabatan pelatih kepala pada Oktober 2024 dengan misi jangka pendek, membawa The Three Lions berjaya di Piala Dunia musim panas ini.

Dalam situasi tersebut, beberapa nama perlahan menghilang dari radar tim nasional. Salah satu yang paling mencolok adalah bek Manchester United, Harry Maguire. Meski memiliki pengalaman panjang bersama Inggris, keberadaannya nyaris tak tersentuh sejak Tuchel mulai merancang skuad pilihannya.

Advertisement

Penampilan solid Maguire saat Manchester United menghadapi Manchester City akhir pekan lalu memang kembali memunculkan perdebatan. Namun, waktu bisa jadi tidak lagi berpihak kepadanya untuk menambah koleksi 64 caps bersama Timnas Inggris.

Di usia 32 tahun dan dengan kontrak yang akan berakhir pada musim panas nanti, karier internasional Maguire berada di persimpangan. Meski demikian, pengalamannya di turnamen besar membuat namanya masih layak masuk dalam diskusi, terutama mengingat misi Tuchel yang sangat berorientasi pada hasil instan.

 


Pengalaman yang Masih Sangat Dibutuhkan

Bek Manchester United Harry Maguire menanduk bola ke gawang Manchester City pada laga Liga Inggris 2025/2026 di Old Trafford, Sabtu (17/1/2026). (AP Photo/Dave Thompson)

Harry Maguire bukan pemain biasa dalam konteks turnamen besar. Ia tampil konsisten di Piala Dunia 2018, Euro 2020, dan Piala Dunia 2022, serta kerap menjadi figur penting di lini belakang Inggris. Dalam skuad yang kini relatif minim pengalaman turnamen, kontribusi semacam itu seharusnya bernilai tinggi.

Selain itu, Maguire merupakan bek tengah berkaki kiri yang alami, sebuah profil langka di Timnas Inggris saat ini. Keseimbangan lini belakang kerap menjadi isu, memaksa Tuchel menempatkan pemain berkaki kanan seperti Marc Guehi di sisi kiri ketika opsi lain tidak tersedia.

Sayangnya, citra publik Maguire sering kali tidak sejalan dengan kontribusinya di lapangan. Sejak menjadi bek termahal dunia saat bergabung dengan Manchester United dari Leicester City pada 2019, ia kerap dijadikan simbol kemunduran standar klub, sesuatu yang sejatinya berada di luar kendalinya.

 


Beban Label dan Kritik yang Tak Selalu Adil

Bek Manchester United #05, Harry Maguire, mengontrol bola dalam pertandingan Seri Musim Panas Liga Primer antara Manchester United dan AFC Bournemouth di Soldier Field, Chicago, Illinois, pada 30 Juli 2025. (KAMIL KRZACZYNSKI/AFP)

Perjalanan Maguire di sepak bola elite selalu diiringi tekanan besar. Ia menerima kritik keras, bahkan ejekan dari suporter lawan, termasuk sebagian fans Leicester City, meski transfernya justru membantu klub tersebut membangun skuad yang berujung pada gelar Piala FA.

Namun, rekan-rekan setim dan mereka yang pernah bekerja bersamanya memahami nilai sebenarnya dari Maguire. Sejak awal kariernya di Timnas Inggris, sikapnya selalu sederhana dan membumi. Ia lebih memilih berbicara lewat performa dibanding pencitraan.

Caps terakhir Maguire tercatat pada September 2024 di bawah pelatih interim Lee Carsley. Cedera turut menghambat momentumnya, tetapi sinyal yang muncul menunjukkan ia belum menjadi bagian dari rencana Tuchel. Meski begitu, jika mampu tampil konsisten bersama Manchester United di paruh kedua musim, peluang itu seharusnya belum tertutup sepenuhnya.

 


Conor Gallagher Mengalami Nasib Serupa

Harry Maguire dari Manchester United, di bagian bawah, tergeletak di lapangan kesakitan sementara wasit Anthony Taylor, Lisandro Martinez dari Manchester United, dan Erling Haaland dari Manchester City bereaksi selama pertandingan Liga Inggris antara Manchester United dan Manchester City di Manchester, Inggris, Sabtu, 17 Januari 2026. (AP Photo/Dave Thompson)

Situasi hampir sama dialami Conor Gallagher. Kepindahannya ke Atletico Madrid sempat membuatnya tersisih dari pertimbangan Tuchel, meski pelatih asal Jerman itu cukup mengenalnya sejak di Chelsea. Caps terakhir Gallagher terjadi pada Juni tahun lalu saat Inggris kalah dari Senegal dalam laga persahabatan.

Gallagher sempat mencicipi tantangan La Liga dan bahkan mencetak gol bersejarah untuk Atletico Madrid. Namun, minimnya kesempatan starter membuatnya memilih kembali ke Premier League bersama Tottenham Hotspur pada Januari.

Kembalinya Gallagher ke Inggris membuka peluang baru untuk kembali menarik perhatian Tuchel. Dengan karakter box-to-box yang khas, ia bisa menjadi alternatif di lini tengah di tengah dominasi gelandang ofensif Inggris, meski ia membutuhkan paruh kedua musim yang luar biasa untuk kembali masuk radar tim nasional.

Pada akhirnya, baik Harry Maguire maupun Conor Gallagher berada dalam situasi yang sama. Keduanya harus membuktikan bahwa mereka masih relevan dan pantas diperhitungkan, sebelum waktu benar-benar menutup peluang menuju Piala Dunia.

Sumber: nytimes


Persaingan di Liga Inggris 2025/2026

Berita Terkait