Bola.com, Jakarta - Pep Guardiola dinilai sudah sepatutnya mempertimbangkan untuk mengajukan pengunduran diri dari jabatannya sebagai manajer Manchester City setelah hampir satu dekade memimpin klub.
Pandangan itu disampaikan komentator talkSPORT, Adrian Durham, menyusul dua kekalahan mengecewakan yang dialami Man City dalam sepekan terakhir.
Tim asuhan Guardiola takluk telak dari rival sekota Manchester United di Old Trafford pada Sabtu malam, lalu secara mengejutkan tumbang dari wakil Norwegia, Bodo/Glimt, di ajang Liga Champions, tiga hari berselang.
Kendati telah mempersembahkan 18 trofi sejak ditunjuk sebagai manajer Man City pada musim panas 2016, Durham menilai Guardiola memiliki kewajiban moral untuk menawarkan pengunduran diri di tengah situasi sulit yang kini dihadapi klub.
Man City terancam gagal finis di delapan besar fase liga Liga Champions. Di kompetisi domestik, mereka juga tertinggal tujuh poin dari Arsenal dalam perburuan gelar Liga Inggris, setelah melewati empat laga liga beruntun tanpa kemenangan jelang pertandingan melawan Wolves, Sabtu malam ini.
Dulu Luar Biasa, Sekarang Tidak
Dalam podcast talkSPORT "Daily: Fiery Fridays", Durham menyamakan kondisi Guardiola saat ini dengan fase akhir kepelatihan Arsene Wenger di Arsenal.
"Pep Guardiola memang luar biasa, tapi sekarang tidak lagi," ujar Durham.
"Ini mengingatkan saya pada era Wenger. Lama sekali Wenger di Arsenal, awalnya brilian, lalu berhenti menjadi brilian. Sudah waktunya pergi, tetapi terlalu lama ditunda. Pep Guardiola seharusnya menawarkan diri untuk mundur, dan inilah alasannya," ulasnya.
Ia melanjutkan bahwa setiap manajer yang timnya menelan hasil memalukan, baik kekalahan telak atau tersingkir secara mengejutkan, memiliki tanggung jawab kepada klub dan suporter untuk siap mundur.
"Itu tidak berarti pengunduran diri pasti diterima. Bukan berarti dia pasti pergi. Tapi, itu bentuk pengakuan: 'Saya bertanggung jawab, ini kesalahan saya, dan saya memberi klub kesempatan untuk tetap mendukung saya atau mengganti saya karena saya gagal menjalankan tugas dengan baik'. Waktunya Pep Guardiola sudah tiba," tuturnya.
Kontrak Guardiola bersama Man City masih berlaku hingga akhir musim depan setelah ia menandatangani perpanjangan kontrak pada November 2024.
Namun, Durham merinci lima alasan utama mengapa pelatih berusia 55 tahun itu dinilai sudah waktunya meninggalkan Etihad Stadium.
Sepak Bola Buruk dan Manajemen yang Keliru
Menurut Durham, cara Man City kalah dari MU dan Bodo/Glimt menunjukkan persoalan serius yang harus segera dibenahi.
"Anda bisa saja tampil buruk dalam satu pertandingan, atau kalah karena sial. Itu wajar," katanya.
"Tapi, dua penampilan ini, melawan United dan Bodo/Glimt, bisa saja berakhir lima atau enam gol tanpa balas. Itu bukan sial, itu murni sepak bola buruk dan manajemen yang buruk," ujar Durham.
Durham bahkan menyebut Man City membuat Bodo/Glimt terlihat seperti Barcelona di masa keemasannya, ironisnya, Barcelona yang dulu dilatih Guardiola.
Absennya Sosok Kunci
Man City gagal meraih trofi musim lalu untuk pertama kalinya sejak musim debut Guardiola, yang sebagian besar disebabkan absennya Rodri akibat cedera ACL pada September 2024.
Kendati Nico Gonzalez direkrut sebagai pelapis, Rodri belum kembali ke performa terbaiknya setelah pulih.
"Rodri kini seperti bayangan pemain yang memenangi Ballon d'Or. Apakah dia dipaksakan bermain terlalu cepat?" ujar Durham.
Ia juga mempertanyakan mengapa Kalvin Phillips hampir tak tersentuh, meski bergaji 150.000 paun per pekan
"Bagaimana bisa Marcelo Bielsa dan Gareth Southgate memaksimalkan dia, tapi Pep Guardiola tidak?"
Phil Foden Kehilangan Arah
Phil Foden belum mencatat gol atau assist dalam sembilan pertandingan terakhir. Ia kembali ditarik keluar sebelum laga usai saat Man City kalah dari Bodo/Glimt.
"Dia terlihat benar-benar tersesat," kata Durham.
"Inggris membutuhkan Foden berada di level terbaiknya. Pep, apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu masih bisa memperbaikinya?"
Obsesi pada Posisi Bek
Eksperimen Guardiola dengan memainkan bek tengah atau gelandang sebagai bek sayap dinilai merugikan pemain seperti Rayan Ait-Nouri, yang kesulitan mendapat tempat utama.
"Obsesi Pep untuk tidak memakai bek sayap murni kini berbalik menghantamnya," ujar Durham.
"Ait-Nouri dulu luar biasa di Wolves, sekarang seperti kehilangan jati diri," imbuhnya.
Mandulnya Erling Haaland
Performa Man City juga disorot lewat penurunan produktivitas Erling Haaland. Sang mesin gol baru mencetak satu gol dalam delapan laga terakhir di semua kompetisi, meski total sudah mengoleksi 26 gol musim ini.
"Mesin gol terbaik dunia sekarang bermasalah di bawah manajer ini," tegas Durham.
"Anda, saya, bahkan anjing saya bisa membuat Haaland mencetak gol, Pep Guardiola tidak," cetusnya.
Durham menutup dengan menegaskan bahwa, meski pengunduran diri Guardiola belum tentu diterima, sang manajer setidaknya harus berani menawarkannya sebagai bentuk tanggung jawab.
Sumber: Talksport