Kolom: Sepak Bola, Rumah Bersama yang Direbut Kuasa

Benarkah sepak bola telah kehilangan esensinya, seiring gebrakan FIFA yang membuat Piala Dunia tidak ramah bagi suporter?

BolaCom | Ario YosiaDiterbitkan 29 Januari 2026, 06:50 WIB
Kolom Azis Subekti, harga tiket Piala Dunia mahal tak lagi manusiawi bagi suporter. (Bola.com/Abdul Aziz)
Saya selalu membayangkan sepak bola sebagai sebuah rumah. Ia dibangun perlahan oleh tangan-tangan banyak orang, dari generasi ke generasi, tanpa arsitek tunggal. Dindingnya mungkin tak selalu rapi, atapnya kadang bocor, lantainya sering berlumpur. Tetapi rumah itu hidup. Di sanalah orang-orang biasa singgah, bersuara, dan merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya.

Justru karena itulah rumah ini selalu menggoda kekuasaan. Ia berada di pusat perhatian, ramai, dan penuh emosi. Siapa pun yang menguasainya akan mendapat sesuatu yang tidak dimiliki ruang politik lain: rasa memiliki dari jutaan orang. Maka pelan-pelan, tanpa perlu mengusir penghuni lama, rumah sepak bola mulai direnovasi.

Renovasi itu jarang diumumkan sebagai pengambilalihan. Ia datang dalam bentuk keputusan yang tampak sah dan modern. Menjelang Piala Dunia 2026, FIFA mengumumkan struktur tiket dengan klaim membuka akses lewat kategori termurah.

Advertisement

Angka itu terdengar ramah, seolah pintu rumah tetap terbuka. Namun ketika seluruh rentang harga dibaca, terasa jelas bahwa banyak pintu lain telah dipasangi kunci. Untuk pertandingan puncak, harga tiket melambung jauh dari jangkauan mayoritas penggemar. Bahkan pada fase awal, ratusan dolar menjadi syarat masuk yang tak semua orang mampu penuhi.


Penghuni Lama Merasa Asing

Kegelisahan publik yang muncul bukan sekadar soal mahal atau murah. Ia lebih menyerupai perasaan seorang penghuni lama yang mulai merasa asing di rumahnya sendiri. FIFA sendiri mengakui bahwa permintaan tiket mencapai ratusan juta dalam satu jendela penjualan. Artinya, rumah ini masih dicintai.

Tetapi cinta itu berhadapan dengan sistem distribusi yang kian elitis. Ruang tamu tetap ramai, namun kursinya semakin terbatas.

Alih-alih menenangkan kegelisahan itu, Presiden FIFA, Gianni Infantino justru melontarkan candaan di forum internasional yang menyinggung perilaku suporter. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya lelucon yang gagal!

Namun bagi banyak penghuni rumah ini, candaan tersebut terasa seperti ucapan pemilik baru yang lupa bahwa rumah ini tidak pernah dibangun sendirian. Jarak pun terasa kian lebar antara pengelola dan mereka yang selama ini menjaga denyutnya.


Cerita Pekerja Migran di Qatar 2022

Hal ini dikarenakan, piala tertinggi kompetisi sepak bola dunia tersebut sedang mampir ke Jakarta Convention Center (JCC) dalam rangkaian acara Coca Cola FIFA World Cup Trophy Tour pada Kamis (22/1/2026). Tampak dalam foto, penyelenggara membuka selubung penutup trofi original Piala Dunia terpajang saat gelaran FIFA World Cup Trophy Tour by Coca-Cola di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, Kamis (22/1/2026). (Bola.com/Abdul Aziz)

Renovasi semacam ini bukan hal baru. Dunia telah menyaksikannya pada Piala Dunia 2022. Rumah sepak bola global dipercantik dengan stadion megah dan siaran sempurna, tetapi fondasinya dibangun di atas cerita tentang pekerja migran yang cedera dan kehilangan nyawa. Ruang-ruang indah itu berdiri, sementara suara-suara dari ruang belakang nyaris tak terdengar. Rumah tampak lebih mewah, tetapi kehangatannya berkurang.

Gejala serupa terlihat ketika kepemilikan klub-klub elite berpindah ke tangan modal raksasa yang berkelindan dengan kepentingan negara. Rumah-rumah kecil bernama klub sepak bola yang dulu dibangun dari komunitas lokal kini menjadi properti strategis. Di dalamnya, kemenangan bukan hanya soal kerja keras, tetapi juga simbol kekuatan dan pengaruh. Sepakbola tetap dimainkan, tetapi maknanya bergeser.

Saya tidak menolak perbaikan rumah. Saya juga tidak menutup mata terhadap kenyataan bahwa rumah ini membutuhkan biaya besar untuk berdiri. Tetapi ketika renovasi dilakukan tanpa mendengar penghuni, rumah kehilangan jiwanya. Ia berubah dari tempat tinggal menjadi hanya sebuah etalase.


Cerita Kelam Indonesia pada 2015

Aksi La Grande Indonesia jelang kick off laga Timnas Indonesia U-16 melawan Vietnam di Piala AFF U-16 2022 di Stadion Maguwoharjo, Sleman, DIY pada Sabtu (6/8/2022) (Bola.com/Hery Kurniawan)

Indonesia pernah merasakan bagaimana rasanya ketika rumah ini diambil alih secara kasar. Pada 2015, intervensi pemerintah terhadap PSSI berujung sanksi dari FIFA. Akibatnya, pintu rumah internasional tertutup bagi sepak bola Indonesia. Tim nasional dan klub-klub tidak boleh bertanding. Pembinaan terhenti. Satu generasi pemain kehilangan ruang tumbuh. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru menjadi sunyi.

Peristiwa itu mengajarkan satu hal penting: sepak bola tidak bisa diperlakukan sebagai properti kekuasaan tanpa konsekuensi. Bahkan niat yang diklaim baik pun, jika dijalankan tanpa menghormati tata kelola dan penghuni rumah, justru merusak fondasi.

Jika benang-benang ini disatukan—dari Piala Dunia 2026 hingga pengalaman Indonesia—terlihat pola yang sama. Rumah sepak bola perlahan diubah fungsinya. Penghuni lama direduksi menjadi tamu. Suporter diposisikan sebagai konsumen. Pemain muda menjadi objek kebijakan. Dan publik diminta cukup menikmati hasil renovasi, tanpa perlu bertanya siapa yang memutuskan hal itu semua.


Yang Hilang Bukan Hanya Tiket Murah

Presiden FIFA, Gianni Infantino, berbincang sambil memegang replika tiket Piala Dunia berukuran besar bersama Presiden AS, Donald Trump, di Ruang Oval, sementara Wakil Presiden, JD Vance (ketiga dari kiri), mengamati pada 22 Agustus 2025 di Washington, DC. (Chip Somodevilla/Getty Images via AFP)

Yang hilang bukan hanya tiket murah atau kesempatan bertanding. Yang terkikis adalah rasa pulang. Anak-anak dari keluarga biasa semakin jauh dari mimpi menyaksikan idolanya secara langsung. Sepakbola tetap berdiri megah, tetapi terasa asing bagi mereka yang dulu membangunnya.

Saya tidak percaya rumah ini harus steril dari pengaruh luar. Itu mustahil. Tetapi saya percaya selalu ada etika dalam mengelola rumah bersama. Transparansi, akuntabilitas, penghormatan terhadap martabat manusia, dan kesediaan mendengar suara penghuni bukan tuntutan berlebihan. Ia adalah syarat minimum agar rumah ini tetap layak ditinggali.

Sepak bola adalah rumah ingatan kolektif kita. Di dalamnya tersimpan kegembiraan, luka, dan solidaritas lintas generasi. Ketika rumah ini terlalu nyaman dikuasai segelintir orang, yang hilang bukan hanya keadilan, tetapi rasa pulang itu sendiri. Dan mungkin, tugas kita hari ini bukan sekadar menikmati lampu-lampu baru di terasnya, melainkan berani mengetuk pintu dan bertanya—dengan tenang namun tegas: siapa sebenarnya pemilik rumah ini, dan untuk siapa ia seharusnya tetap berdiri.

Munjul, 27 Januari 2026

Perenung sunyi, Azis Subekti

 

*) Penulis adalah pemerhati sepak bola dan anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra

Berita Terkait