Bola.com, Jakarta - Manchester United (MU) sedang menghadapi masalah yang tidak mereka perkirakan. Penunjukan Michael Carrick sebagai pelatih kepala sementara hingga akhir musim awalnya dimaksudkan untuk membeli waktu.
Namun, tiga kemenangan beruntun dan perubahan suasana yang drastis di Old Trafford justru membuat status “caretaker” Michael Carrick menjadi bumerang bagi klub.
Dengan awal 100 persen kemenangan, Michael Carrick secara tidak langsung menekan manajemen MU untuk mengambil keputusan lebih cepat dari rencana semula.
Jendela waktu yang seharusnya memberi ruang bagi klub untuk menentukan siapa, kapan, dan mengapa pelatih permanen ditunjuk kini perlahan menutup.
Kesuksesan Cepat yang Justru Menjadi Masalah
Idealnya, MU ingin menunggu hingga akhir musim untuk mengevaluasi situasi, apakah mereka finis di empat besar, enam besar, atau bahkan di luar zona Eropa.
Namun, pendekatan itu dinilai naif dan tidak realistis. Jika benar-benar ingin kembali ke puncak, MU harus sudah memiliki pelatih baru dalam empat hingga enam minggu ke depan.
Secara kasat mata, tidak ada sisi negatif sejak Carrick menggantikan Ruben Amorim, yang dipecat setelah 14 bulan penuh gejolak.
Kemenangan atas Manchester City, Arsenal, dan Fulham telah menempatkan MU di posisi kuat untuk lolos ke Liga Champions musim depan.
Namun, dampak instan Michael Carrick justru mengaburkan pencarian pengganti permanen Ruben Amorim. Dalam banyak hal, ia tampil terlalu baik.
Tugas Carrick sejatinya adalah menstabilkan tim, mengembalikan kepercayaan diri skuad, dan menjaga peluang lolos ke kompetisi Eropa, sembari CEO Omar Berrada dan direktur sepak bola Jason Wilcox mencari sosok pelatih ideal.
Kini, mereka harus menentukan profil pelatih permanen, apakah pelatih muda atau manajer berpengalaman, dan mulai bernegosiasi dengan kandidat, agen, hingga klub asal.
Kandidat Elite dan Waktu yang Terus Menyempit
Jika Michael Carrick terus membawa MU meraih kemenangan demi kemenangan, tekanan publik agar ia dipermanenkan akan semakin besar.
Manajemen harus memilih: mempertahankan sesuatu yang sedang berjalan meski dipimpin pelatih minim pengalaman di level elite, atau mengambil pendekatan dingin dengan mengabaikan Carrick demi mengejar nama besar seperti Thomas Tuchel atau Carlo Ancelotti.
Tuchel (Inggris), Ancelotti (Brasil), dan Mauricio Pochettino (Amerika Serikat) sama-sama masih terikat kontrak hingga Piala Dunia FIFA berakhir. Oliver Glasner dari Crystal Palace juga akan berstatus bebas transfer musim panas ini.
Namun, MU tidak bisa menunggu sampai musim panas untuk mulai bergerak, karena para pelatih tersebut hampir pasti memiliki opsi lain. Keraguan sedikit saja bisa membuat MU kehilangan target utama.
Pada saat yang sama, pelatih baru tentu ingin tahu rencana rekrutmen klub dan memiliki suara dalam menentukan pemain yang datang dan pergi. Semua itu tidak bisa ditunda hingga pertengahan Juli.
Masa Depan Skuad dan Kejelasan yang Mendesak
Situasi Harry Maguire menjadi contoh nyata. Bek berusia 32 tahun itu akan habis kontrak pada akhir musim. Satu pelatih mungkin ingin mempertahankan pengalamannya, sementara pelatih lain lebih memilih memberi ruang bagi pemain muda seperti Leny Yoro dan Ayden Heaven.
Harry Maguire sendiri tentu ingin tahu siapa pelatihnya musim depan sebelum memutuskan masa depannya. Hal serupa berlaku untuk Kobbie Mainoo.
Gelandang 20 tahun itu sempat disisihkan oleh Amorim dan hampir hengkang pada Januari, tetapi kini kembali menjadi pemain inti di bawah Carrick.
Sementara itu, Casemiro sudah dipastikan akan pergi saat kontraknya habis, dan calon rekrutan baru juga ingin tahu siapa pelatih yang akan mereka bela, apakah pelatih dengan skema 3-4-3, 4-3-3, atau pendekatan fleksibel.
Sumber ESPN menyebut MU mengincar Elliot Anderson, Carlos Baleba, dan Adam Wharton untuk membangun ulang lini tengah. Namun, tanpa kejelasan soal pelatih dan filosofi permainan, sulit membayangkan para pemain tersebut memilih MU.
Sejarah memberi pelajaran penting. Manchester City mengumumkan Pep Guardiola setahun sebelum ia mulai melatih, memberi kejelasan bagi rekrutan. Sebaliknya, Liverpool menunjuk Arne Slot relatif terlambat dan akhirnya melewatkan target utama di bursa transfer.
MU tidak mampu mengulangi kesalahan serupa. Meski kebangkitan di bawah Carrick terasa nyata, klub masih memiliki banyak pekerjaan besar di luar lapangan.
MU harus segera membuat keputusan besar: tetapkan Michael Carrick secara permanen atau nyatakan dengan tegas ia bukan pilihan jangka panjang. Menunda dan bersikap abu-abu hanya akan merugikan diri mereka sendiri.
Sumber: ESPN