Bola.com, Jakarta - Musim yang penuh tekanan sedang dijalani Liverpool. Bagi Arne Slot, standar keberhasilan di klub sebesar Liverpool selalu jelas: menang. Namun, realitas saat ini berkata lain. Alih-alih berbicara soal gelar, Liverpool justru harus berjuang keras sekadar mengamankan tiket Liga Champions.
Kekalahan dari Manchester City membuat Liverpool kini terpaut empat poin dari posisi lima besar Premier League, zona yang kemungkinan besar menjadi batas akhir tiket Liga Champions musim ini, mengingat koefisien UEFA Inggris yang cukup tinggi.
Statistik pun memperlihatkan gambaran yang mengkhawatirkan. Setelah 25 pertandingan liga musim ini, perolehan poin Liverpool bahkan lebih rendah dibanding Manchester United di era David Moyes pada jumlah laga yang sama.
Mereka juga hanya unggul empat poin dari posisi yang mereka tempati ketika Roy Hodgson dipecat beberapa musim silam.
Situasi tersebut makin berat karena jadwal penutup musim yang sulit. Everton, MU, Crystal Palace, Chelsea, Aston Villa, hingga Brentford menanti di sisa laga. Di tengah kondisi ini, pertanyaan besar pun muncul: apakah finis lima besar bisa dianggap sebagai sebuah keberhasilan?
"Ini situasi yang buruk," kata Jamie Carragher, mantan bek Liverpool, kepada Sky Sports.
"Kalau melihat posisi Liverpool di liga, rasanya jaraknya cukup jauh untuk menembus lima besar zona Liga Champions. Memang bisa dikejar, tapi Liverpool harus tampil sangat baik di dua kompetisi piala untuk menyelamatkan musim.”
Kekalahan dari Man City, yang ditentukan oleh gol-gol telat Bernardo Silva dan Erling Haaland, membuka kembali sejumlah masalah mendasar yang belakangan dihadapi Slot. Setidaknya ada tujuh persoalan besar yang kini membelit Liverpool.
1. Kutukan Gol Menit Akhir
Penalti Haaland di masa injury time bukan kasus pertama musim ini. Itu adalah gol penentu keempat yang bersarang ke gawang Liverpool di waktu tambahan.
Eddie Nketiah (Crystal Palace), Estevao (Chelsea), dan Amine Adli (Bournemouth) juga mencetak gol kemenangan di injury time saat menghadapi The Reds.
Selain itu, Liverpool kehilangan poin akibat gol telat Harrison Reed (Fulham) dan Ao Tanaka (Leeds) yang memaksa hasil imbang. Harry Maguire pun sempat mencetak gol penentu kemenangan Manchester United, meski bukan di injury time.
Ironisnya, saat melawan Manchester City, Liverpool memimpin hingga menit ke-83, itu adalah waktu paling akhir mereka pernah unggul di laga Premier League di Anfield sebelum akhirnya kalah.
2. Masalah Mohamed Salah
Mohamed Salah mencetak 29 gol Premier League musim lalu dan menjadi faktor kunci di balik gelar juara Liverpool. Statusnya sebagai legenda Anfield tak terbantahkan. Namun, performanya kini jelas mengalami perubahan.
Dalam laga melawan Newcastle baru-baru ini, Salah memiliki jarak awal yang cukup jauh saat sprint menuju gawang, tetapi tetap mampu dikejar Kieran Trippier yang sudah berusia 35 tahun, sebuah momen yang mencerminkan perubahan dalam permainannya.
Salah juga tidak senang saat dicadangkan dan meluapkan kekesalannya dalam wawancara kontroversial di Elland Road, yang secara terbuka mengkritik Slot dan klub.
Masalahnya, Liverpool kerap kehilangan keseimbangan ketika Salah bermain. Saat kembali diturunkan dari bangku cadangan melawan Brighton, Liverpool justru terus-menerus ditekan.
Slot sempat menemukan solusi dengan formasi berlian agar Salah bermain lebih ke depan, tetapi skema tersebut justru mengganggu struktur tim secara keseluruhan.
3. Januari yang Kering
Di tengah drama besar saat melawan Man City, ada satu momen yang hampir luput dari perhatian. Curtis Jones sebenarnya berada dalam posisi menjanjikan sebelum gol penentu Man City tercipta, tetapi Marc Guehi melakukan intersepsi krusial.
"Sesaat sebelum mereka mencetak gol 2-1, Curtis berada dalam situasi yang sangat bagus, tetapi Guehi melakukan intersepsi luar biasa. Perekrutan yang hebat, dan di situlah letak perbedaan tipis antar tim," ujar Slot.
Guehi sejatinya adalah pemain yang diincar Liverpool pada musim panas. Ia bahkan sudah memulai tes medis sebelum Crystal Palace membatalkan kepindahannya.
Situasi itu membuka jalan bagi Man City untuk merekrutnya pada Januari lalu, dan mereka bergerak cepat.
Man City juga mendatangkan Antoine Semenyo, pemain yang dikenal baik oleh direktur olahraga Liverpool, Richard Hughes.
Liverpool sempat mempertimbangkan Lutsharel Geertruida, bek serbabisa yang pernah bekerja sama dengan Slot di Feyenoord. Namun, transfer itu rumit karena sang pemain tengah dipinjamkan RB Leipzig ke Sunderland.
Pada akhirnya, Liverpool hanya mengamankan tanda tangan Jeremy Jacquet dari Rennes, yang baru akan bergabung musim panas nanti.
4. Krisis Cedera
Liverpool sebenarnya sangat membutuhkan tambahan pemain karena badai cedera musim ini. Jeremie Frimpong, Conor Bradley, dan Joe Gomez absen, membuat Liverpool praktis kehilangan opsi bek kanan.
Dominik Szoboszlai bahkan harus dimainkan di posisi tersebut saat melawan Man City. Giovanni Leoni dan Alexander Isak juga mengalami cedera jangka panjang.
Menjelang laga melawan Sunderland, Slot kembali dipusingkan masalah pilihan pemain, apalagi Szoboszlai harus absen karena kartu merah.
"Jeremie jelas belum bisa, kami tahu itu akan memakan waktu beberapa minggu. Saya juga tidak berharap Joe kembali sekarang," kata Slot.
"Dia baru pulih setelah tiga minggu absen, apakah kami langsung memainkannya? Kita lihat nanti. Dom bermain sangat baik di posisi itu, tapi sayangnya dia tidak tersedia untuk hari Rabu," imbuhnya.
5. Sistem Arne Slot
Formasi berlian sempat menghasilkan kemenangan penting di Liga Champions saat melawan Inter Milan pada Desember. Namun, sistem ini paling efektif di laga-laga Eropa yang ketat.
Salah tidak bermain dalam laga tersebut, dan penggunaan gelandang "box" dengan Salah di depan terasa seperti upaya memaksanya tetap masuk tim tanpa beban defensif besar seperti dalam skema 4-2-3-1.
Masalahnya, sistem ini membuat Cody Gakpo dan Florian Wirtz bermain terlalu sempit, seperti terlihat saat melawan Man City.
Liverpool kesulitan menguasai bola di babak pertama. Ketika akhirnya mendapatkan ruang di babak kedua, pengambilan keputusan mereka kerap buruk. Gol Liverpool pun akhirnya datang dari situasi bola mati, bukan permainan terbuka.
6. Hilangnya Aura Angker Anfield
Saat menjuarai liga, Liverpool hanya sekali kalah di kandang sepanjang musim. Musim ini, mereka sudah takluk dari Manchester United dan Nottingham Forest, serta ditahan imbang Sunderland dan Burnley.
Wolves dan Brighton memang kalah, tetapi tampil sangat kompetitif.
Lebih memalukan lagi, Liverpool tersingkir di Anfield oleh Crystal Palace di Carabao Cup dan kalah telak PSV di Liga Champions.
Tim-tim tamu kini datang ke Anfield dengan keberanian, bukan sekadar bertahan total.
7. Kedalaman Skuad yang Minim
Saat melawan Man City, kiper pilihan ketiga Freddie Woodman duduk di bangku cadangan. Slot kerap mengisi bench dengan pemain muda.
Dengan cedera yang memaksa, ia sangat bergantung pada inti pemain tertentu, alih-alih memanfaatkan skuad penuh berisi pemain senior.
Perbedaan kedalaman skuad terlihat jelas dalam laga kontra Man City. Rayan Cherki masuk dan langsung mengubah dinamika serangan tim asuhan Pep Guardiola.
Sementara itu, pergantian pertama Slot baru dilakukan pada menit ke-85 dengan memasukkan Curtis Jones, disusul Federico Chiesa yang baru turun di masa injury time.
Ketujuh masalah inilah yang kini menjadi pekerjaan rumah besar bagi Arne Slot, dan penentu apakah musim Liverpool masih bisa diselamatkan atau justru berakhir sebagai kegagalan.
Sumber: Telegraph