Dibantai 1-4 di Derbi, Tudor Sebut Arsenal Tim Terbaik Dunia dan Ungkap Level Tottenham

Pelatih Tottenham Hotspur, Igor, Tudor mengatakan tim terbaik dunia, Arsenal, menunjukkan kepadanya 'level' tim asuhannya setelah kekalahan pada laga derbi.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 23 Februari 2026, 11:30 WIB
Arsenal berhasil memetik poin penuh saat bertandang ke markas Tottenham Hotspur dalam laga pekan ke-28 Liga Inggris 2025/2026 pada Minggu (22/02/2026) waktu setempat. (AFP/Glyn Kirk)

Bola.com, Jakarta - Manajer anyar Tottenham Hotspur, Igor Tudor, tak menutupi kekecewaannya setelah timnya dihajar Arsenal 1-4 dalam derby London utara, Minggu (22-2-2026).

Namun, alih-alih mencari alasan, Tudor justru menyebut lawannya sebagai tim terbaik di dunia saat ini dan mengakui laga tersebut menjadi cermin nyata level Spurs.

Advertisement

Dalam pertandingan tersebut, Arsenal tampil dominan. Dua gol dari Eberechi Eze dan dua lainnya dari Viktor Gyökeres memastikan kemenangan nyaman bagi The Gunners.

Tottenham sempat menyamakan kedudukan lewat gol Randal Kolo Muani di babak pertama, yang memberi harapan sesaat bagi tuan rumah.

Bagi Tudor, hasil ini terasa pahit. Itu adalah laga pertamanya sebagai pelatih Spurs sejak menggantikan Thomas Frank yang dipecat awal bulan ini. Namun, ia menilai kekalahan telak tersebut bukan semata soal taktik, melainkan perbedaan kualitas yang nyata.

"Arsenal sekarang mungkin adalah tim terbaik di dunia pada saat ini," kata Tudor kepada wartawan.

"Jika hari ini kami berpikir ini adalah derby dan kami bisa memberi sesuatu yang lebih, lebih mentalitas dan lebih motivasi, kenyataannya ada hal-hal yang tidak bisa Anda ubah hanya dalam tiga atau empat sesi latihan. Itu tidak mungkin."


Bukan Skenario Ideal

Pelatih kepala Tottenham, Igor Tudor, kedua dari kanan, berbicara kepada para pemainnya selama pertandingan Liga Inggris antara Tottenham Hotspur dan Arsenal di London, Minggu, 22 Februari 2026. (AP Photo/Ian Walton)

Tudor mengakui, menghadapi Arsenal di laga perdana bukanlah skenario ideal.

"Jad,i ini bukan tim yang sempurna untuk dihadapi di pertandingan pertama, tetapi kami membutuhkan sesuatu yang baik dan hari ini menunjukkan kepada saya levelnya," lanjut mantan pelatih Juventus itu.

Menurutnya, jarak kualitas kedua tim masih terlalu lebar.

"Ada jarak besar antara kedua tim, terlalu banyak Arsenal untuk kami. Tapi, bagus untuk memahami di mana posisi kami sekarang, pertandingan ini menunjukkan kenyataan," aku pelatih asal Krosia tersebut.

Tudor melihat kekalahan ini sebagai titik awal evaluasi.

"Bagus dari satu sisi untuk memahami bahwa kami harus mengubah kebiasaan, mengubah pola pikir. Itu satu-satunya cara untuk bekerja."


Terancam Degradasi

Pada babak kedua, Arsenal berhasil menggandakan skor lewat Viktor Gyokeres pada menit ke-47. (AFP/Glyn Kirk)

Dengan 11 laga liga tersisa untuk menyelamatkan Tottenham dari ancaman degradasi, Tudor menyadari tantangan berat sudah menanti. Spurs bahkan belum meraih satu pun kemenangan liga sepanjang 2026, dan ia menilai rasa percaya diri para pemainnya sedang menurun.

"Tanpa bola, kurangnya kepercayaan diri sangat terlihat," ujarnya.

"Saya sangat sedih, marah, saya merasakan semuanya, tetapi penting untuk memahami apa tujuan kami dan menjadi serius," ucapnya.

Ia menambahkan, solusi pertama adalah introspeksi.

"Obatnya adalah becermin, tetapi saya melihat kemauan dan hasrat mereka. Jadi, saya tidak marah karena mereka tidak mau melakukan, melainkan karena mereka belum mampu melakukannya saat ini," jelas pelatih berusia 47 tahun itu.


Tentang Gol Dianulir

Pemain Tottenham Hotspur, Randal Kolo Muani (kiri), dan pemain Arsenal, Martin Zubimendi, berebut bola dalam pertandingan Liga Inggris di London, Minggu (22/2/2026) malam WIB. (AP Photo/Ian Walton)

Tottenham sempat mengira mereka menyamakan skor menjadi 2-2 ketika Kolo Muani kembali mencetak gol di babak kedua. Akan tetapi, gol tersebut dianulir karena dianggap melakukan dorongan terhadap bek Arsenal, Gabriel.

Meski dorongan itu terlihat sangat tipis, Tudor memilih tidak mempermasalahkan keputusan wasit.

"Menyentuh pemain di kotak penalti, itu selalu soal wasit," katanya.

"Mereka membuat keputusan sesuai apa yang mereka lihat," katanya lagi.

 

Sumber: ESPN

Berita Terkait