Kekerasan Kartel Narkoba Mengintai Kesiapan Guadalajara sebagai Tuan Rumah Piala Dunia 2026

Persiapan kota Guadalajara, Meksiko, untuk menjadi satu di antara tuan rumah Piala Dunia 2026 dibayangi gelombang kekerasan kartel narkoba.

BolaCom | Rizki HidayatDiterbitkan 24 Februari 2026, 17:00 WIB
Foto udara yang menunjukkan Stadion atau Estadio Akron di Zapopan, negara bagian Jalisco, Meksiko, pada 5 Januari 2025, yang akan menjadi salah satu tempat penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2026. (Ulises Ruiz/AFP)

Bola.com, Jakarta - Persiapan kota Guadalajara, Meksiko, untuk menjadi satu di antara tuan rumah Piala Dunia 2026 dibayangi gelombang kekerasan kartel narkoba. Kondisi tersebut membuat pemerintah kota Guadalajara merasa cemas untuk menghelat turnamen sepak bola terakbar tersebut.

Akhir pekan lalu, operasi militer menewaskan Nemesio "El Mencho" Oseguera, pemimpin Jalisco New Generation Cartel, sekitar 130 kilometer dari Guadalajara. Kematian satu di antara buronan paling dicari di Meksiko dan Amerika Serikat itu memicu bentrokan bersenjata antara aparat keamanan dan kelompok kriminal di berbagai wilayah.

Advertisement

Menurut laporan AFP, sedikitnya 57 orang dilaporkan tewas, baik dari pihak militer maupun kartel. Aksi balasan juga memicu pembakaran bus dan tempat usaha, serta blokade jalan raya di 20 negara bagian.

Pertandingan sepak bola di Guadalajara dan negara bagian Queretaro pun sempat ditangguhkan.

Sebagai ibu kota negara bagian Jalisco, Guadalajara kini menatap Piala Dunia dengan waswas. Meksiko menjadi tuan rumah bersama Amerika Serikat dan Kanada, dan kota ini dijadwalkan menggelar empat laga yang semuanya berlangsung di Estadio Akron.

Keempat laga itu adalah Korea Selatan versus pemenang path D play-off zona Eropa, Meksiko kontra Korea Selatan, Uruguay melawan Spanyol, serta Kolombia versus pemenang path 1 play-off inter-konfederasi.

 


Andalkan Teknologi Keamanan

Personel Garda Nasional tiba ketika para penumpang meninggalkan Bandara Internasional Guadalajara di Tlajomulco, Negara Bagian Jalisco, Meksiko, 22 Februari 2026. Meksiko mengonfirmasi pada 22 Februari bahwa tentara menewaskan seorang pemimpin kartel narkoba kuat yang merupakan salah satu buronan paling dicari di negara itu dan di Amerika Serikat. Nemesio Oseguera, pemimpin berusia 59 tahun dari Kartel Jalisco Generasi Baru (Jalisco New Generation Cartel) yang dikenal brutal, terluka dalam bentrokan dengan tentara di kota Tapalpa dan meninggal saat diterbangkan ke Mexico City, menurut pernyataan militer. (Ulises Ruiz / AFP)

Pemerintah Jalisco mengandalkan teknologi untuk menjamin keamanan. Drone, sistem anti-drone, serta pengawasan video berbasis kecerdasan buatan akan diterapkan demi memastikan turnamen berjalan aman.

Jalisco merupakan satu di antara wilayah dengan angka orang hilang tertinggi di Meksiko. Berdasarkan data resmi, terdapat 12.575 kasus orang hilang, lebih dari separuhnya berasal dari wilayah metropolitan Guadalajara.

Banyak kasus diduga terkait perekrutan paksa oleh kelompok kriminal. Keluarga korban bahkan kerap menemukan kuburan massal ilegal saat mencari anggota keluarga mereka yang hilang.

 


Suara Protes dan Luka yang Belum Sembuh

Sebagian warga menilai atmosfer perayaan Piala Dunia 202 terasa kontras dengan duka yang masih menyelimuti kota. "Saya tidak merasa ada yang perlu dirayakan. Situasinya terasa sangat mengerikan," ujar Carmen Ponce (26), yang kehilangan kakaknya pada 2020.

"Negara merayakan gol, sementara kami masih mencari keluarga kami," katanya getir.

Kekhawatiran juga datang dari pihak keamanan kota. Juan Carlos Contreras, yang memimpin jaringan kamera pengawas Guadalajara, mengakui potensi aksi protes warga terhadap pemerintah bisa saja terjadi selama Piala Dunia berlangsung.

 


Dampak Ekonomi dan Ancaman Keamanan

Sektor pariwisata mulai merasakan dampaknya. Missael Robles, pemandu wisata lokal, mengaku telah membatalkan 25 tur sejak kekerasan pecah.

"Pukulan ekonominya besar," ujarnya.

Ironisnya, aparat juga menemukan properti yang digunakan kelompok kriminal hanya beberapa kilometer dari Estadio Akron. Bahkan, kurang dari dua kilometer dari kompleks stadion, jaksa negara bagian menggerebek sebuah rumah dan menangkap dua tersangka penculikan.

Bagi Jose Raul Servin, yang telah mencari putranya sejak 2018, kekhawatiran bukan sekadar angka statistik. "Kami tidak ingin siapa pun mengalami apa yang kami alami," katanya.

Dia mengenang putranya sebagai penggemar sepak bola sejati. "Andai dia masih ada, dia pasti bahagia menyambut Piala Dunia," ucapnya lirih.

Kini, Guadalajara berada dalam ujian besar: memastikan pesta sepak bola dunia tetap berlangsung aman, tanpa mengabaikan luka sosial yang belum sepenuhnya sembuh.

Sumber: France24

Berita Terkait