Ironi Piala Dunia 2026 di Guadalajara: Saat Kota Tuan Rumah Masih Dibayangi Kasus Orang Hilang

Kota Guadalajara bersiap menyambut pertandingan dalam ajang FIFA World Cup 2026. Namun, di balik persiapan tersebut, kota ini masih menghadapi persoalan sosial yang sangat berat.

BolaCom | Gregah NurikhsaniDiterbitkan 24 Februari 2026, 20:45 WIB
Personel Garda Nasional tiba ketika para penumpang meninggalkan Bandara Internasional Guadalajara di Tlajomulco, Negara Bagian Jalisco, Meksiko, 22 Februari 2026. Meksiko mengonfirmasi pada 22 Februari bahwa tentara menewaskan seorang pemimpin kartel narkoba kuat yang merupakan salah satu buronan paling dicari di negara itu dan di Amerika Serikat. Nemesio Oseguera, pemimpin berusia 59 tahun dari Kartel Jalisco Generasi Baru (Jalisco New Generation Cartel) yang dikenal brutal, terluka dalam bentrokan dengan tentara di kota Tapalpa dan meninggal saat diterbangkan ke Mexico City, menurut pernyataan militer. (Ulises Ruiz / AFP)

Bola.com, Jakarta - Kota Guadalajara bersiap menyambut pertandingan dalam ajang FIFA World Cup 2026. Namun, di balik persiapan tersebut, kota ini masih menghadapi persoalan sosial yang sangat berat.

Wilayah Jalisco dikenal sebagai salah satu daerah dengan jumlah orang hilang terbanyak di Meksiko. Data resmi menunjukkan ada 12.575 orang dilaporkan menghilang, dan lebih dari setengah kasus berasal dari wilayah metropolitan Guadalajara.

Advertisement

Fenomena ini tidak terjadi begitu saja. Banyak kasus diduga berkaitan dengan perekrutan paksa oleh kelompok kriminal yang masih aktif di sejumlah wilayah negara bagian tersebut.

Situasi ini membuat sebagian warga merasa kontras dengan euforia sepak bola yang akan datang. Di satu sisi, kota bersiap menjadi tuan rumah pesta sepak bola dunia. Di sisi lain, banyak keluarga masih berjuang mencari anggota keluarga yang hilang.

 


Ratusan Kuburan Rahasia Ditemukan Keluarga Korban

Meksiko mengerahkan setidaknya 10.000 personel militer dalam operasi besar untuk meredam kekerasan dan mengamankan wilayah strategis pasca kematian gembong Nemesio Ruben Oseguera Cervantes alias "El Mencho". Tampak dalam foto, anggota Angkatan Darat Meksiko melakukan pemeriksaan keamanan di Jalan Raya Morelia-Patzcuaro untuk mencegah pembakaran kendaraan dan blokade jalan di negara bagian Michoacan, Meksiko, pada 23 Februari 2026. (Enrique Castro/AFP)

Menurut akademisi Universitas Guadalajara, Carmen Chinas, banyak orang hilang diduga direkrut secara paksa oleh kelompok kriminal. Kondisi ini memicu upaya pencarian mandiri oleh keluarga korban.

Dalam beberapa tahun terakhir, keluarga yang kehilangan anggota keluarganya menemukan ratusan kuburan rahasia. Mereka melakukan pencarian sendiri di berbagai lokasi dengan harapan menemukan jejak orang yang mereka cari.

Sebagian aktivis bahkan menyuarakan kekecewaan atas penunjukan Guadalajara sebagai tuan rumah Piala Dunia. Bagi mereka, situasi yang terjadi di kota tersebut masih jauh dari kata layak untuk dirayakan.

“Saya tidak merasa ada yang perlu dirayakan. Situasinya terasa sangat ironis,” ujar seorang warga bernama Carmen Ponce, yang kehilangan saudaranya pada 2020.

Ia menggambarkan betapa kontrasnya situasi yang ada. Sementara negara merayakan gol dan pertandingan, sebagian keluarga masih mencari anggota keluarga yang hilang.

 


Kekhawatiran Warga dan Potensi Protes

Sebagai informasi, Pemimpin Cartel Jalisco Nueva Generacion (CJNG), Nemesio Ruben Oseguera Cervantes alias "El Mencho", ini tewas pada Minggu 22 Februari 2026 setelah terluka dalam baku tembak dengan militer di Tapalpa, Jalisco, Meksiko. Tampak dalam foto, orang-orang berjalan melewati toko yang tutup dengan tanda bertuliskan "Tidak ada layanan" di Morelia, negara bagian Michoacan, Meksiko, pada 23 Februari 2026. (Enrique Castro/AFP)

Kondisi keamanan dan situasi sosial juga membuat sebagian warga merasa cemas dengan penyelenggaraan pertandingan Piala Dunia di kota tersebut.

Pengawas jaringan kamera keamanan kota, Juan Carlos Contreras, mengatakan kemungkinan adanya aksi protes dari warga cukup besar. Terutama dari keluarga korban yang merasa pemerintah belum memberikan solusi nyata.

Banyak dari mereka masih terus melakukan pencarian secara mandiri. Situasi ini membuat atmosfer kota menjelang turnamen terasa tidak sepenuhnya kondusif.

 


Dampak Ekonomi Mulai Terasa

Di tengah kondisi tersebut, sektor ekonomi lokal juga mulai merasakan dampaknya. Seorang pemandu wisata, Missael Robles, mengaku harus membatalkan puluhan tur sejak kekerasan terbaru terjadi.

Menurutnya, dampak ekonomi dari situasi ini cukup besar bagi sektor pariwisata yang sebenarnya berharap mendapatkan keuntungan dari Piala Dunia.

Selain itu, aparat keamanan juga menemukan beberapa properti yang diduga digunakan kelompok kriminal tidak jauh dari Estadio Akron, stadion yang akan menjadi venue pertandingan Piala Dunia.

Dalam salah satu operasi, jaksa negara bagian menggerebek sebuah rumah yang berjarak kurang dari dua kilometer dari kompleks stadion dan menangkap dua orang yang diduga terlibat dalam kasus penculikan.

Bagi sebagian warga, kekhawatiran terbesar adalah keselamatan para wisatawan yang datang nanti. Jose Raul Servin, yang telah mencari anaknya sejak 2018, berharap tidak ada kejadian serupa menimpa orang lain.

“Kami tidak ingin sesuatu terjadi pada mereka seperti yang terjadi pada kami,” ujarnya.

Ia juga mengenang bahwa anaknya adalah penggemar sepak bola. Menurutnya, jika masih ada, sang anak pasti akan sangat bahagia melihat Piala Dunia digelar di kotanya.

Berita Terkait