FIFA Efisiensi Besar-besaran untuk Operasional Piala Dunia 2026, Pangkas Anggaran Lebih dari 100 Juta Dolar AS

FIFA pangkas anggaran operasional Piala Dunia 2026 lebih dari 100 juta dolar AS.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 11 Maret 2026, 17:45 WIB
Presiden FIFA, Gianni Infantino. (Bola.com/Dok.FIFA).

Bola.com, Jakarta - FIFA memangkas lebih dari 100 juta dolar AS (sekitar Rp1,6 triliun) dari anggaran operasional untuk penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Utara pada musim panas ini.

Pemotongan tersebut membuat sejumlah departemen di kantor pusat FIFA wilayah Amerika Serikat yang berbasis di Miami diminta melakukan berbagai langkah efisiensi.

Advertisement

Dalam wawancara dengan CNBC pada Februari lalu, Presiden FIFA, Gianni Infantino, mengatakan bahwa badan sepak bola dunia itu memproyeksikan pendapatan lebih dari 11 miliar dolar AS dari turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada pada Juni hingga Juli 2026.

Dalam laporan tahunan FIFA 2024, organisasi tersebut memaparkan proyeksi anggaran untuk siklus 2023-2026.

Di dalamnya, biaya operasional Piala Dunia 2026 diperkirakan mencapai 1,12 miliar dolar AS (Rp18,9 triliun), sementara total anggaran turnamen, termasuk hadiah dan operasional siaran televisi, diproyeksikan sebesar 3,756 miliar dolar AS (Rp63,4 triliun).

Dari total biaya operasional 1,12 miliar dolar AS itu, sekitar 280 juta dolar dialokasikan untuk layanan teknis, 159 juta dolar untuk transportasi acara, 145 juta dolar untuk keamanan dan keselamatan, serta 79 juta dolar untuk manajemen tamu.

Namun, menurut empat sumber yang mengetahui situasi tersebut, yang semuanya meminta identitasnya dirahasiakan karena tidak berwenang berbicara secara publik, staf FIFA di Amerika Serikat kini merasakan tekanan setelah berulang kali diberi tahu bahwa anggaran operasional turnamen telah dipangkas.

Pemotongan itu disebut memengaruhi berbagai bidang, termasuk keamanan, logistik, keselamatan, dan aksesibilitas.

Keempat sumber tersebut mengatakan bahwa pemotongan anggaran itu jelas melampaui 100 juta dolar AS, dan instruksi untuk memperketat pengeluaran datang langsung dari kantor pusat FIFA di Switzerland.


Peninjuan Anggaran Hal Wajar

Ilustrasi Piala Dunia 2026. (Dok. fifa.com)

Menanggapi hal ini, juru bicara FIFA mengatakan kepada The Athletic bahwa peninjauan anggaran merupakan hal yang wajar.

"FIFA terus meninjau efisiensi anggaran untuk memastikan biaya tetap terkendali, sehingga sebanyak mungkin pendapatan dapat diinvestasikan kembali untuk pengembangan sepak bola di seluruh dunia," kata juru bicara tersebut.

"Hal ini seharusnya tidak mengejutkan siapa pun, karena evaluasi anggaran memang selalu dilakukan sebelum setiap turnamen dan acara yang kami selenggarakan."

Beberapa sumber yang membahas pemotongan anggaran tersebut menilai langkah itu berkaitan dengan target FIFA untuk menginvestasikan kembali setidaknya 90 persen dari total anggaran investasi pada siklus ini ke pengembangan sepak bola global.

Dalam proyeksi anggaran 2023-2026, FIFA menyebut total investasinya mencapai 12,9 miliar dolar AS, seiring meningkatnya proyeksi pendapatan organisasi tersebut.

Dari jumlah itu, FIFA berencana menyalurkan kembali 11,67 miliar dolar AS, atau lebih dari 90 persen, untuk mempercepat pengembangan sepak bola di seluruh dunia.

FIFA kemungkinan akan berargumen bahwa strategi tersebut layak diapresiasi karena mereka memaksimalkan pendapatan dari pasar paling menguntungkan di dunia sebelum mendistribusikannya kembali ke sepak bola global.

Namun, sejumlah pihak menilai target persentase tersebut terkesan dibuat secara sepihak dan pada akhirnya membebani penyelenggara lokal serta para penggemar yang datang ke turnamen.

Beberapa sumber bahkan mempertanyakan apakah distribusi dana besar dari turnamen juga bisa berdampak pada dukungan federasi anggota terhadap kepemimpinan Infantino dalam pemilihan presiden FIFA di masa depan.

FIFA membantah keras spekulasi tersebut.

"Klaim bahwa efisiensi anggaran berkaitan dengan pemilihan presiden FIFA sepenuhnya tidak benar," kata juru bicara FIFA.


Efisiensi FIFA Picu Pertanyaan

Piala Dunia FIFA 2026 akan diselenggarakan di 16 kota di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko dari Juni hingga Juli 2026. Turnamen kali ini menandai edisi pertama turnamen itu dengan kompetisi 48 tim dengan total 104 pertandingan. (ULISES RUIZ/AFP)

Di Amerika Serikat, kebijakan efisiensi FIFA juga memunculkan pertanyaan baru, terutama ketika berbagai pihak mulai menyoroti besarnya biaya yang harus ditanggung penggemar serta beban yang jatuh pada pembayar pajak.

Harga tiket pertandingan tercatat menjadi yang paling mahal dalam sejarah Piala Dunia. Untuk laga fase grup saja, beberapa tiket standar dibanderol hingga 700 dolar AS, sementara tiket kategori bawah untuk partai final bisa mencapai 8.680 dolar AS.

Kritik juga muncul terhadap kebijakan harga dinamis yang diterapkan FIFA serta potongan komisi sebesar 15 persen untuk transaksi jual beli tiket di platform resmi mereka. Biaya parkir di sekitar stadion juga memicu keluhan.

Di sekitar MetLife Stadium, misalnya, FIFA mematok tarif parkir sekitar 225 dolar AS, termasuk untuk parkir penyandang disabilitas, sementara di SoFi Stadium tarif parkir bisa mencapai 300 dolar AS.

Sejumlah penyelenggara kota tuan rumah juga mempertanyakan apakah FIFA seharusnya memberikan kontribusi finansial lebih besar dalam penyelenggaraan turnamen, mengingat potensi keuntungan besar yang akan mereka peroleh.

Berdasarkan perjanjian awal dengan kota-kota tuan rumah di Amerika Serikat, FIFA memegang pendapatan dari tiket, hak siar, konsesi, sponsor, dan parkir. Sementara itu, kota tuan rumah menanggung beban biaya keamanan dan perlindungan.

Sebagai imbalannya, FIFA dan pemerintah kota sering menyoroti potensi dampak ekonomi besar dari turnamen tersebut.

Infantino bahkan pernah mengutip laporan yang memperkirakan ekonomi Amerika Serikat bisa mendapatkan tambahan 30 miliar dolar AS dari penyelenggaraan Piala Dunia.


Muncul Ketegangan

Ilustrasi Piala Dunia 2026. (Dok. fifa.com)

Meski begitu, ketegangan tetap muncul. FIFA saat ini diketahui masih bernegosiasi dengan beberapa kota tuan rumah terkait tanggung jawab membantu suporter yang membutuhkan bantuan untuk berjalan aman dari area parkir atau titik transportasi umum menuju stadion.

FIFA disebut berpendapat bahwa tanggung jawab mereka hanya terbatas pada perimeter stadion. Namun, sebagian pejabat kota menilai FIFA seharusnya ikut bertanggung jawab atas keselamatan pengunjung di area sekitar stadion atau setidaknya berbagi beban tersebut.

Perbedaan pandangan ini berpotensi memunculkan persoalan hukum dan gugatan di kemudian hari.

Menanggapi kritik tersebut, FIFA menegaskan bahwa mereka tidak akan mengorbankan kualitas penyelenggaraan turnamen.

"FIFA tidak akan pernah mengorbankan keberhasilan operasional maupun aspek penting seperti keselamatan dan keamanan turnamen terbesar kami. Menyatakan sebaliknya adalah tidak benar dan menyesatkan," kata juru bicara FIFA.

"FIFA menginvestasikan sumber daya yang sangat besar untuk memastikan pengalaman luar biasa bagi semua pihak. Kami juga akan mengerahkan sekitar 5.000 personel untuk memastikan operasional berjalan lancar."

Di sisi lain, pembayar pajak di Amerika Serikat juga telah mengeluarkan kontribusi besar, yang nilainya mencapai miliaran dolar, untuk memastikan turnamen berjalan lancar.

Menurut anggota Kongres AS, Darin LaHood, yang memimpin kaukus sepak bola bipartisan di parlemen, kota-kota tuan rumah sebenarnya sudah memahami risiko tersebut sejak awal.

"Setiap kota tuan rumah yang mengajukan diri harus menandatangani kontrak," kata LaHood kepada The Athletic.

"Menurut saya, ini bukan kesepakatan yang buruk. Setiap hal pasti memiliki risiko. Mereka sudah melakukan uji kelayakan."

"Mereka memahami dampak ekonomi yang mungkin muncul di komunitas mereka, jumlah penggemar yang datang, kamar hotel, restoran, bar, dan bagaimana semuanya bisa memberikan efek positif," katanya lagi.


Pengurangan Skala Rencana

Tahap kedua dan ketiga penjualan tiket Piala Dunia 2026 juga akan mengikuti sistem undian yang dijadwalkan pada 27-31 Oktober dan setelah pengundian akhir pada 5 Desember 2025. (ULISES RUIZ/AFP)

Meski demikian, sejumlah kota terpaksa mengurangi skala rencana mereka, terutama terkait festival penggemar resmi.

Acara FIFA Fan Fest yang semula direncanakan digelar di Liberty State Park oleh panitia tuan rumah wilayah New York/New Jersey bahkan telah dibatalkan.

Seattle juga mengurangi rencananya, sementara dari kota tuan rumah lain di Amerika Serikat hanya Philadelphia dan Houston yang tetap menyelenggarakan festival penuh selama 39 hari sesuai rencana awal.

Di banyak kota, potensi komersial dari fan festival juga terbatas karena penyelenggara tidak diperbolehkan menggandeng sponsor yang bertentangan dengan mitra resmi FIFA.

Sementara itu, panitia lokal di Boston masih mencari dana keamanan sebesar 7,8 juta dolar AS setelah pemerintah kota Foxborough menyatakan lebih memilih menolak izin acara daripada harus menanggung risiko biaya tersebut.

Kendati FIFA menjadi pemohon izin acara, berdasarkan perjanjian yang ada, mereka tidak bertanggung jawab atas biaya keamanan publik di Boston. Artinya, dana tersebut harus berasal dari pajak publik atau donasi swasta.

Tantangan bagi kota tuan rumah makin besar karena, meskipun Kongres Amerika Serikat telah mengalokasikan 625 juta dolar AS untuk membantu biaya keamanan turnamen, dana tersebut hingga kini belum dicairkan akibat penutupan sebagian pemerintahan yang memengaruhi United States Department of Homeland Security.

 

Sumber: The Athletic

Berita Terkait