Bola.com, Jakarta - Pelatih Paris Saint-Germain (PSG), Luis Enrique, tak bisa menyembunyikan kepuasannya setelah pasukannya tampil tajam saat menyingkirkan Chelsea di Liga Champions, Rabu (18-3-2026) dini hari WIB.
Kemenangan 3-0 di laga kedua babak 16 besar memastikan PSG melaju ke perempat final dengan agregat telak 8-2.
Pelatih asal Spanyol itu menilai ketajaman lini depan menjadi kunci utama keberhasilan timnya.
"Kami sangat presisi," kata Enrique.
Ia menyoroti dua gol cepat di awal pertandingan sebagai momen penentu.
"Kami mencetak dua gol pertama dengan sangat cepat dan itu menjadi kunci pertandingan," ujarnya.
Kemenangan Besar
PSG memang langsung tancap gas sejak awal. Dua gol dalam 14 menit pertama lewat Khvicha Kvaratskhelia dan Bradley Barcola membuat Chelsea kesulitan bangkit. Dominasi itu kemudian disempurnakan oleh gol Senny Mayulu pada menit ke-62.
Menurut Enrique, performa tersebut kembali menunjukkan fleksibilitas permainan PSG.
"Saya pikir hari ini kami sekali lagi menunjukkan bahwa kami benar-benar tim yang bisa bermain dengan berbagai cara dan selalu sulit ditebak oleh lawan," ucapnya.
Ia juga mengaku sedikit terkejut dengan besarnya kemenangan yang diraih.
"Tentu saja saya bangga karena Anda tidak mengharapkan hasil seperti itu," lanjutnya.
Efektivitas PSG
Di sisi lain, pelatih Chelsea, Liam Rosenior, tak menampik keunggulan lawannya. Ia memuji efektivitas PSG yang dinilai tampil klinis di dua leg.
"Mereka sangat klinis di kedua pertandingan, bahkan dengan tembakan dari luar kotak penalti," katanya.
Itulah level yang harus kami capai."
Rosenior menyoroti kesalahan mendasar yang kembali merugikan timnya. Gol pertama PSG, menurutnya, berawal dari kesalahan bek Mamadou Sarr, sesuatu yang disebutnya kerap terjadi dalam beberapa laga terakhir, termasuk blunder kiper Filip Jorgensen pada pertemuan di Paris.
Meski begitu, Rosenior tetap optimistis timnya bisa bangkit dari tren negatif.
"Kami bisa sampai ke level itu tanpa kesalahan individu seperti yang sedang kami lakukan saat ini," ujarnya.
Sumber: Reuters