Presiden Federasi Sepak Bola Iran: Kami Boikot AS, tapi Tidak Boikot Piala Dunia 2026

Iran merupakan salah satu negara yang sudah lolos ke putaran final Piala Dunia 2026. Namun, partisipasi mereka mulai diragukan sejak konflik antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat-Israel pecah pada akhir Februari 2026.

BolaCom | Benediktus Gerendo PradigdoDiterbitkan 19 Maret 2026, 20:30 WIB
Para pemain dan tim teknis Iran merayakan kemenangan setelah pertandingan kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 zona Asia Grup A antara Iran dan Uzbekistan, pada 25 Maret 2025 di Teheran. (AFP)

Bola.com, Jakarta - Presiden federasi sepak bola Iran (FFIRI), Mehdi Taj, pada Rabu (18/3/2026), menegaskan Timnas Iran mempersiapkan diri untuk Piala Dunia 2026 dan tidak berniat mundur dari turnamen. Namun, mereka menolak untuk ke Amerika Serikat (AS).

Iran merupakan salah satu negara yang sudah lolos ke putaran final Piala Dunia 2026. Namun, partisipasi mereka mulai diragukan sejak konflik antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat-Israel pecah pada akhir Februari 2026.

Advertisement

Piala Dunia 2026 dijadwalkan berlangsung dari 11 Juni hingga 19 Juli, dan digelar di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.

Tim Melli, julukan dari Timnas Iran, dijadwalkan memainkan ketiga laga babak penyisihan grup Piala Dunia 2026 di wilayah Amerika Serikat, dua di antaranya di Los Angeles dan satu lainnya di Seattle.

 
 

Negosiasi Pemindahan Venue ke Meksiko

Foto sky view Estadio Azteca di Meksiko, venue pembukaan Piala Dunia 2026. (CARL DE SOUZA / AFP)

Taj mengungkapkan FFIRI tengah bernegosiasi dengan FIFA untuk memindahkan laga-laga Iran ke Meksiko. Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, menyambut baik kemungkinan tersebut.

Pada Selasa (17/3/2026), Sheinbaum menyatakan negaranya terbuka menjadi tuan rumah pertandingan Piala Dunia 2026 yang dijalani Iran melawan Selandia Baru, Belgia, dan Mesir pada Juni. Namun, keputusan akhir mengenai perpindahan venue tetap berada di tangan FIFA.

FIFA menyatakan pihaknya memang sedang berkomunikasi dengan FFIRI, tapi berharap semua tim yang berpartisipasi dapat bertanding sesuai jadwal pertandingan yang telah diumumkan pada 6 Desember 2025.

Sebagai bagian dari persiapan menuju Piala Dunia 2026, Iran saat ini tengah menjalani pemusatan latihan di Turki.

Iran juga akan memainkan dua pertandingan persahabatan di sana, termasuk melawan Nigeria pada 27 Maret dan Costa Rica empat hari setelahnya, dalam sebuah turnamen undangan empat negara yang sebelumnya dijadwalkan di Yordania namun terpaksa dipindahkan akibat konflik di Timur Tengah.

"Tim nasional sedang menjalani pemusatan latihan di Turki, dan kami juga akan memainkan dua laga persahabatan di sana," kata Taj seperti dikutip oleh kantor berita Fars.

"Kami akan memboikot Amerika, tetapi kami tidak akan memboikot Piala Dunia," lanjutnya.


Tim Putri Iran dan Tawaran Suaka Australia

Timnas Iran Putri. (Bola.com/Dok.AFC).

Pernyataan Taj disampaikan ketika ia menyambut para pemain tim nasional putri Iran di perbatasan saat mereka kembali dari Turki setelah perjalanan panjang dari Australia.

Seluruh delegasi yang berada di Australia untuk Piala Asia Wanita ditawari suaka oleh negara tuan rumah tersebut karena kekhawatiran atas keselamatan mereka di Iran.

Dari seluruh delegasi yang ditawari, tujuh orang sempat menerima tawaran itu, tapi pada akhirnya hanya dua orang yang memutuskan untuk menetap di Australia.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mendorong Australia untuk menawarkan suaka kepada para pemain tersebut.

Trump kemudian menyatakan bahwa meskipun para pemain pria Iran disambut untuk bertanding di AS, hal itu mungkin tidak sesuai bagi "jiwa dan keselamatan" mereka.

Namun, Donald Trump kemudian menegaskan bahwa ancaman terhadap para pemain tidak akan datang dari Amerika Serikat.

Taj, yang merupakan mantan anggota Garda Revolusi Iran, menggunakan pernyataan Trump tersebut sebagai dasar tuntutan pemindahan venue pertandingan.


FIFA Diminta Pastikan Keamanan Seluruh Peserta

Logo Piala Dunia 2026. (FIFA)

Di tengah situasi ini, Beau Busch, Presiden Asia-Pasifik dari serikat pemain sepak bola internasional (FIFPRO), menegaskan bahwa FIFA memiliki kewajiban untuk memastikan keselamatan semua pihak yang terlibat dalam Piala Dunia.

"FIFA memiliki tanggung jawab institusional untuk melindungi hak asasi manusia," kata pria asal Australia itu kepada Reuters.

"Yang terpenting adalah FIFA melakukan penilaian dampak hak asasi manusia yang benar-benar komprehensif, dan mereka memastikan bahwa setiap peserta Piala Dunia, setiap pemain, setiap suporter, dapat merasa aman, serta setiap risiko dapat diidentifikasi dan dimitigasi secara efektif."

Sumber: CBC

Berita Terkait