Jika Inggris Ingin Juara Dunia, Kuncinya Ada pada Harry Kane

Jika Inggris akan memenangkan Piala Dunia, itu karena Harry Kane.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 02 April 2026, 07:15 WIB
Timnas Inggris - Ilustrasi Harry Kane (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Kekalahan 0-1 dari Jepang dalam laga uji coba, Rabu (1-4-2026) dini hari WIB, menjadi sinyal serius bagi Inggris. Tanpa Harry Kane, peluang mereka untuk bersaing di Piala Dunia 2026 dinilai sangat kecil.

Perdebatan soal apakah Inggris bisa menjadi juara dunia bersama Kane memang masih terbuka. Namun, satu hal terasa makin jelas: tanpa sang kapten, daya ancam Inggris menurun drastis.

Advertisement

Kane tidak tampil sejak awal karena cedera ringan yang didapat dalam sesi latihan terakhir. Secara umum, kondisi fisiknya cukup terjaga, tetapi situasi seperti ini bisa saja terulang di turnamen yang berpotensi berlangsung hingga tujuh pertandingan.

Sebelum laga, pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel, sempat ditanya soal rencana jika Kane absen. Ia hanya menjawab dengan nada ringan.

"Pertanyaan bagus… kalian sudah melihat jawabannya, saya belum benar-benar menemukannya. Saya punya beberapa ide, tapi tidak akan saya ungkapkan," katanya.


Eksperimen Tak Membuahkan Hasil

Winger Timnas Jepang Kaoru Mitoma diadang gelandang Timnas Inggris Kobbie Mainoo di laga uji coba di Stadion Wembley, Rabu (01/4/2026) dini hari WIB. (AP Photo/Kirsty Wigglesworth)

Dalam laga melawan Jepang, Tuchel mencoba pendekatan berbeda. Phil Foden dimainkan sebagai penyerang semu, didukung Cole Palmer di tengah, serta Morgan Rogers dan Anthony Gordon di sisi sayap.

Namun, hasilnya jauh dari meyakinkan.

Palmer justru kehilangan bola yang berujung gol kemenangan Jepang, yang dicetak Kaoru Mitoma. Foden pun tampil di bawah performa, tanpa satu pun tembakan sebelum ditarik keluar setelah hanya mencatat 22 sentuhan.

Inggris memang melepaskan 19 percobaan, tetapi minim ancaman nyata. Penjaga gawang Jordan Pickford bahkan mencatat lebih banyak sentuhan (39) dibanding Foden.

Perubahan taktik di babak kedua juga tidak memberi dampak signifikan. Dominic Solanke masuk memimpin lini depan, sementara Jarrod Bowen dan Marcus Rashford mencoba menambah daya serang.

Sedikit tekanan baru tercipta di akhir laga, terutama melalui bola mati yang melibatkan Harry Maguire dan Dan Burn. Salah satu peluang terbaik datang dari Lewis Hall, namun berhasil digagalkan kiper Jepang, Zion Suzuki.

Dari empat tembakan tepat sasaran, tidak satu pun cukup untuk mengubah keadaan.


Ketergantungan kepada Kane

Pemain Inggris, Harry Kane (kiri), merayakan gol kedua timnya bersama rekan satu timnya dalam pertandingan kualifikasi Grup K Piala Dunia 2026 antara Albania dan Inggris di Tirana, Albania, Senin (17-11-2025) dini hari WIB. (Foto AP/Vlasov Sulaj)

Kekalahan ini makin menegaskan betapa besar pengaruh Kane. Penyerang berusia 32 tahun itu sedang dalam performa luar biasa, dengan 53 gol dari 45 pertandingan bersama Bayern Munchen dan timnas musim ini.

Sejak Piala Dunia 2018, Inggris mencatatkan 65 persen kemenangan dari 88 pertandingan saat Kane bermain sejak awal. Angka itu turun menjadi 57 persen dalam 14 laga tanpa dirinya, tetapi dampaknya terasa lebih besar dari sekadar statistik.

"Tanpa Harry Kane, kami tidak punya ancaman yang sama," ujar Tuchel.

"Tim mana pun di dunia akan merasakan hal yang sama. Ini wajar. Tim besar bergantung pada pemain besar."

"Selain itu, kami kehilangan sosoknya. Kehadirannya sebagai kapten sangat penting. Ketika dia keluar dari sesi latihan lebih cepat dan tidak masuk skuad, itu mengganggu," kata mantan pelatih PSG dan Chelsea itu.

"Kami bisa menang tanpa Harry, kami pernah melakukannya. Tapi, jelas lebih mudah menang dengan dia," imbuh Tuchel.


Masih Mencari Solusi

Hal ini tampaknya tak lepas dari keputusan Thomas Tuchel yang tak memainkan striker murni di laga tersebut. Ia mencoba memainkan Phil Foden sebagai ujung tombak. (AP Photo/Kirsty Wigglesworth)

Kebutuhan mencari alternatif bukan hanya soal cedera. Dalam perjalanan ke final Euro 2024, Kane juga beberapa kali tampil kurang maksimal. Ditambah kondisi cuaca panas di Amerika Serikat pada Piala Dunia 2026, rotasi pemain menjadi krusial.

Beberapa nama sudah dicoba, seperti Solanke dan Dominic Calvert-Lewin, tetapi belum ada yang benar-benar meyakinkan.

Sementara itu, Ollie Watkins tidak masuk skuad kali ini karena Tuchel merasa sudah cukup memahami kemampuannya. Namun, peluangnya untuk masuk skuad akhir tetap terbuka.

Nama lain seperti Danny Welbeck juga mulai diperbincangkan, mengingat performanya yang konsisten di Liga Inggris.


Tanda Tanya Jelang Piala Dunia

Striker Timnas Inggris, Harry Kane, berterima kasih kepada fans The Three Lions untuk dukungan di Daugava Stadium, Riga, Latvia, saat Inggris menang telak 5-0 atas Latvia, Rabu (15/10/2025) dini hari WIB. Kemenangan ini memastikan Inggris menjadi tim pertama yang lolos ke putaran final Piala Dunia 2026 dari Eropa. (Gints Ivuskans / AFP)

Inggris sebenarnya lolos ke Piala Dunia dengan catatan sempurna, menang delapan kali tanpa kebobolan. Namun, di bawah Tuchel, mereka kesulitan menghadapi tim kuat.

Dari tiga lawan papan atas yang dihadapi, yakni Senegal, Uruguay, dan Jepang, Inggris hanya meraih satu hasil imbang dan dua kekalahan.

Memang ada faktor eksperimen dan absennya pemain kunci seperti Jude Bellingham, Declan Rice, dan Bukayo Saka.

Namun, tujuan eksperimen adalah menemukan solusi, dan sejauh ini, Tuchel tampaknya belum menemukan jawaban atas satu pertanyaan penting: bagaimana Inggris bisa tetap berbahaya tanpa Harry Kane.

 

Sumber: ESPN

Berita Terkait