Legenda Inggris Ngaku Dipaksa Pergi dari MU usai Bertengkar dengan Ferguson

Pengakuan mengejutkan, legenda Inggris satu ini mengaku diusir dari MU setelah terlibat insiden di ruang ganti dengan Alex Ferguson.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 05 April 2026, 08:45 WIB
Sir Alex Ferguson (c) AFP

Bola.com, Jakarta - Sir Alex Ferguson dikenal sebagai sosok pelatih dengan disiplin tinggi selama 27 tahun memimpin Manchester United. Gaya kepemimpinannya yang tegas menjadi satu di antara kunci kesuksesan, termasuk membawa tim meraih 13 gelar Premier League.

Ferguson tak pernah ragu mengambil keputusan besar, bahkan terhadap pemain bintang sekalipun. Siapa pun yang dianggap melampaui batas akan disingkirkan.

Advertisement

Hal itu pernah terjadi pada Jaap Stam dan David Beckham, dua pemain penting yang akhirnya harus angkat kaki setelah berselisih dengan sang pelatih.

Namun, bukan hanya mereka yang pernah merasakan kerasnya karakter Ferguson dengan pendekatan "hairdryer treatment-nya".

Mantan gelandang MU, Paul Ince, mengungkap pengalaman panasnya dengan Ferguson yang hampir berujung bentrok fisik.

Insiden itu terjadi setelah kemenangan 3-1 atas Norwich City pada musim 1992/1993.

Meski tim meraih hasil positif, Ferguson justru meluapkan amarahnya kepada Ince.


Perselisihan

Gelandang Manchester United, Paul Ince (tengah) berebut bola dengan gelandang Everton, Barry Horne pada laga final Piala FA 1994/1995 di Wembley Stadium, London (20/5/1995). Paul Ince yang didatangkan MU dari West Ham pada awal musim 1989/1990 mengenakan jersey bernomor punggung 8 sejak kedatangannya hingga 1994/1995. Pada awal musim 1995/1996 ia hengkang ke Inter Milan. (AFP/Gerry Penny)

"Mereka tim yang sangat bagus dan kami menang 3-0 atau 3-1. Sekitar lima menit sebelum laga berakhir, saya menggiring bola dan kehilangan penguasaan, lalu mereka hampir mencetak gol," ujar Ince kepada talkSPORT pada 2024.

"Saya tidak menganggap itu masalah. Kami masuk ke ruang ganti, semua saling memberi selamat, saya ikut merayakan, lalu Sir Alex masuk seperti Rambo dan langsung menghajar saya dengan kata-kata," ungkapnya.

Ferguson bahkan membentaknya dengan keras.

"Apa yang kamu lakukan, Incey? Kamu bukan Diego Maradona. Ambil bola dan berikan kepada pemain terbaik!" teriak Ferguson.

Ince mengakui, standar tinggi menjadi alasan di balik sikap Ferguson. Namun, ia yang saat itu dikenal berkarakter kuat justru melawan.

"Itu semua soal standar baginya, melakukan hal yang benar setiap saat, dan itu menunjukkan betapa hebatnya dia. Tapi, dengan karakter saya waktu itu, saya membalas dan kami terlibat adu teriak," katanya.


Nyaris Kontak Fisik

Gelandang Manchester United, Nicky Butt (kiri) berebut bola dengan bek AS Monaco, Djibril Diawara pada laga leg kedua perempatfinal Liga Champions 1997/1998 di Old Trafford Stadium, Manchester (18/3/1998). Setelah tak bertuan pada 1995/1996 selepas kepergian Paul Ince, Nicky Butt mewarisi jersey bernomor punggung 8 pada 1996/1997 hingga 2003/2004. Pada awal musim 2004/2005 Nicky Butt hijrah ke Newcastle United. (AFP/Gerry Penny)

Ia juga menanggapi rumor bahwa empat rekan setim harus menahannya.

"Saya kira delapan (orang), tapi empat juga tidak masalah," ujarnya sambil bercanda.

Setelah kejadian itu, keduanya bahkan tidak saling berbicara selama dua hari.

"Saya memang melawan. Sekarang kalau melihat ke belakang, itu tidak benar. Pemain tidak seharusnya melawan pelatih. Kami naik bus, dia tidak bicara kepada saya, saya juga tidak bicara kepadanya," kata Ince.


Dipaksa Pergi dari MU

Manajer Reading asal Inggris, Paul Ince (kiri), berjabat tangan dengan manajer Manchester United asal Belanda, Erik ten Hag (kanan), setelah pertandingan putaran keempat Piala FA Inggris antara Manchester United dan Reading di Old Trafford, Manchester, barat laut Inggris, pada 28 Januari 2023. Man Utd memenangkan pertandingan dengan skor 3-1. (Oli SCARFF/AFP)

Ince, yang membela MU selama enam tahun, kemudian hengkang ke Inter Milan pada 1995. Ia mengaku kepindahan itu bukan keinginannya.

"Saya sudah enam tahun di sana dan hampir menandatangani kontrak (baru) empat tahun. Manchester United menghancurkan hati saya karena mereka membiarkan saya pergi ke Inter Milan," ujarnya kepada Manchester Evening News.

"Saya tidak memilih pergi. Klub menerima tawaran dari Inter tanpa sepengetahuan saya. Saya bisa saja menolak, tapi rasanya tidak tepat. Setelah enam tahun, mereka menerima tawaran di belakang saya. Saya tidak senang dengan itu," ucap Ince.

Ferguson dalam autobiografinya mengakui memang ingin melepas Ince.

"Ya, saya ingin melepasnya. Tapi, jika dia bersikeras bertahan, transfer itu tidak akan terjadi. Tidak mungkin memaksa Paul Ince melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan," tulis Ferguson.


Kritik Keras Ferguson

Gaya manajer MU Sir Alex Ferguson saat memberi instruksi kepada para pemainnya di laga lanjutan EPL melawan Arsenal di Emirates Stadium, 1 Mei 2011. MU kalah 0-1. AFP PHOTO / CARL DE SOUZA

Pelatih asal Skotlandia itu juga menilai Ince memiliki sifat arogan dan kerap menyebut dirinya "The Guv'nor".

Bahkan, Ferguson sempat melontarkan kritik keras dalam pengarahan tim sebelum menghadapi Ince.

"Jika dia mencoba mengintimidasi kalian, dia akan sangat menikmatinya. Jangan pernah biarkan dia melakukannya. Kalian hanya perlu siap menghadapinya. Dia merasa dirinya bintang besar," ucap Ferguson kepada pemain-pemainnya.

Kendati kemudian menyesali ucapannya yang terekam kamera, label sebagai sosok berjuluk "big-time Charlie", yang merasa dirinya besar itu, terus melekat pada diri Ince hingga kini.

 

Sumber: Give Me Sport

Berita Terkait