Transformasi Lille OSC, Klub Prancis yang Dibela Calvin Verdonk: Nyaris Bangkrut, Kini Jadi Klub Paling Untung di Eropa

Beberapa tahun lalu, Lille OSC berada di titik nadir. Namun, melalui restrukturisasi radikal dan visi yang jelas, klub Prancis ini berhasil melakukan perubahan nasib yang luar biasa hingga dinobatkan sebagai klub paling menguntungkan di Eropa.

BolaCom | Benediktus Gerendo PradigdoDiterbitkan 07 April 2026, 11:00 WIB
Kemenangan ini juga menjadi modal baik bagi Calvin Verdonk sebelum berlaga di FIFA Series 2026 yang akan digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno. (AFP/Pascal Pochard-Casabianca)

Bola.com, Jakarta - Kalau bicara di Indonesia, nama Lille OSC, atau Lille Olympique Sporting Club, dikenal karena adanya Calvin Verdonk, bek sayap Tim Garuda yang musim ini bermain di sana. Namun, ternyata ada cerita menarik dari klub Prancis itu, yang nyaris bangkrut dan kini bangkit menjadi klub paling menguntungkan di Eropa.

Beberapa tahun lalu, Lille OSC berada di titik nadir. Namun, melalui restrukturisasi radikal dan visi yang jelas, klub Prancis ini berhasil melakukan perubahan nasib yang luar biasa hingga dinobatkan sebagai klub paling menguntungkan di Eropa.

Advertisement

Pada Desember 2020, saat grup investor Merly Partners mengambil alih Lille, kondisi klub sangat memprihatinkan. Presiden klub, Olivier Letang, mengakui betapa kelam situasi kala itu. "Klub hampir berada dalam situasi bangkrut," ujarnya.

Maren Schirmer, pendiri Merlyn sekaligus anggota dewan direksi Lille, menjelaskan masalah utama terletak di tumpukan utang luar negeri dengan bunga tinggi serta biaya transfer pemain yang tidak bekelanjutan.

"Klub dibiayai oleh seseorang dengaan utang luar negeri sekitar 200 juta euro, dengan suku bunga yang sangat tinggi. Jadi, jika Anda berada dalam posisi yang tidak bisa melunais utang itu secara bertahap, jumlahnya akan membengkak dengan sangat cepat," ujar Schirmer.

 
 

Strategi Perampingan Skuad dan Pengembangan Pemain

Calvin Verdonk (depan kiri) bersama tim Lille jelang laga di matchday 8 Liga Europa melawan SC Freiburg di Stade Pierre Mauroy, Jumat dini hari WIB. (Dok. losc.fr)

Langkah pertama kepemimpinan baru adalah menunjuk Olivier Letang sebagai presiden untuk melakukan perombakan total.

Letang mengambil langkah berani dengan memangkas skuad yang gemuk, dari lebih dari 60 pemain menjadi sekitar 23-24 pemain.

Menurutnya, hal ini meningkatkan kualitas latihan dan memberikan jalur yang jelas bagi pemain muda untuk menembus tim utama.

Klub juga menaruh perhatian besar pada aspek manusiawi dalam pengembangan pemain. Contoh nyata adalah keberhasilan mereka mengelola Lucas Chevalier dan Carlos Baleba. Letang menegaskan pentingnya strategi jangka panjang:

"Ini adalah pertanyaan tentang strategi, visi, perencanaan skuad, dan bagaimana kami mengatur segalanya. Kami ingin menciptakan nilai bagi aset kami," ujarnya.


Revitalisasi Akademi dan Identitas Klub

Pemain LOSC Lille, Calvin Verdonk (kiri) ikut merayakan gol yang dicetak oleh Olivier Giroud dalam laga Liga Europa 2025/2026 melawan SK Brann di Stade Pierre-Mauroy in Villeneuve-d'Ascq, Prancis, Kamis (25/09/2025) waktu setempat. (AP Photo/Jean-Francois Badias)

 

Lille juga melakukan peremajaan pada akademi mereka di Domaine de Luchin. Bagi pemilik klub, akademi adalah kunci untuk membangun identitas yang kuat dan keterikatan emosional dengan kota Lille.

Meskipun klub kerap menjual talenta muda seperti Leny Yoro ke Manchester United, Schirmer memandangnya sebagai bagian dari tanggung jawab jangka panjang klub.

"Dalam dunia ideal, kita ingin semua orang tetap bersama kita," kata Schirmer.

"Namun, di dunia di mana kita bertanggung jawab atas sejarah jangka panjang klub ini, sangat penting sesekali, seorang pemain pergi."

"Dan saya pikir terkadang adil bagi pemain ketika mereka telah mencapai titik tertentu dan klub besar memanggil, Anda harus membiarkan mereka pergi," lanjutnya.


Menjaga Keseimbangan: Pengalaman dan Masa Depan

Calvin Verdonk dan rekan-rekannya di LOSC Lille berpesta merayakan sukses klub melaju ke 16 besar Liga Europa. (Bola.com/Dok. Lille)

 

Untuk menyeimbangkan talenta muda yang mereka hasilkan, Lille juga mendatangkan pemain berpengalaman seperti Olivier Giroud.

Letang percaya kombinasi antara semangat pemain muda dan pengalaman pemain senior adalah resep sukses di lapangan.

"Dalam hidup, ada satu hal yang tidak bisa Anda beli: pengalaman. Jika Anda ingin memenangkan pertandingan, Anda harus memiliki keseimbangan ini," jelas Letang.

Kini, Lille bukan sekadar klub yang selamat dari krisis; mereka telah membangun budaya sepak bola yang tangguh. Dengan fondasi finansial yang sehat dan profit yang konsisten selama empat tahun terakhir, Lille membuktikan dengan manajemen yang tepat, klub sepak bola dapat menjadi entitas yang berkelanjutan dan kompetitif di panggung Eropa.

"Saat Anda tiba di klub kami, Anda tahu persis apa DNA-nya, apa nilainya, yaitu berjuang, berlari, pantang menyerah, dan solidaritas," ujarnya.

Sumber: The Athletic

Berita Terkait