Bola.com, Jakarta - Sebanyak 38 dari 42 tim di dua divisi teratas Spanyol akan mengenakan seragam retro pada akhir pekan ini. Langkah ini dilakukan untuk merayakan identitas budaya masing-masing klub.
Jersey retro dirancang dengan inspirasi dari tampilan ikonik masa lalu sebagai penghormatan terhadap sejarah dan tradisi suporter klub La Liga Spanyol.
Hanya Barcelona, Rayo Vallecano, Getafe, dan Real Madrid yang tidak berpartisipasi dalam hari perayaan ini.
Marca melaporkan Barcelona, Rayo Vallecano, dan Getafe tidak mengenakan seragam khusus karena alasan logistik, meski mereka tetap terlibat dalam kampanye tersebut. Sementara itu, Real Madrid tidak berpartisipasi sama sekali.
Selain jersey pemain, wasit juga akan mengenakan seragam khusus, grafis siaran televisi akan dibuat bernuansa dekade lampau, dan bola pertandingan yang digunakan akan bergaya vintage.
Alasan La Liga Menggelar Kampanye Retro
Direktur La Liga, Jaime Blanco, mengungkapkan acara ini adalah cara unik untuk menggali sejarah dan tradisi klub-klub mereka.
"Ini memungkinkan kami untuk membawa masa lalu ke masa kini sambil terus membangun pengalaman dan memperkuat warisan yang secara emosional terhubung dengan para pendukung," ujarnya.
"Menampilkan koleksi ini selama pekan mode terkemuka di Spanyol adalah platform yang sempurna untuk memproyeksikan identitas tersebut ke luar lapangan dan memposisikan sepak bola di jantung percakapan budaya dan kreatif," lanjutnya.
Mengapa Sepak Bola Terobsesi dengan Nostalgia?
Fenomena ini bukan hal baru dalam sepak bola. Sebelumnya, klub seperti Juventus, Liverpool, dan Arsenal meluncurkan koleksi retro mereka.
Jordan Clarke, pendiri Footballer Fits, menyatakan obsesi terhadap nostalgia tidak hanya terjadi di dunia sepak bola, melainkan cerminan masyarakat luas.
"Menurut saya, nostalgia adalah sesuatu yang ada di masyarakat, bukan hanya di sepak bola. Banyak orang mengenang masa-masa dalam hidup mereka dengan penuh kasih sayang, saat mereka mungkin lebih muda, dan dunia terasa lebih bebas dari kekhawatiran. Mereka menoleh ke belakang dan bermimpi untuk kembali ke masa-masa itu," jelas Clarke.
Ia juga menyoroti bahwa permainan modern sering dianggap terlalu kaku.
"Permainan ini menjadi agak robotik. Sudah jauh berbeda dari apa yang kita tumbuh bersama, sehingga ada lebih sedikit ekspresi diri dalam permainan, lebih sedikit kepribadian di lapangan, dengan manajer yang ingin mengendalikan setiap aspek permainan," ujarnya.
Peran Pemain dan Industri Mode
Saat ini, pemain sepak bola semakin sering terlihat di pekan mode dunia. Menurut Clarke, ini adalah bagian dari upaya pemain untuk membangun merek pribadi dan menunjukkan identitas di luar profesi mereka sebagai atlet.
"Ketika Anda melakukan sesuatu dari jam 9 hingga 5 setiap hari sejak masa akademi, ada titik di mana pemain mulai tertarik pada hal-hal di luar permainan, dan mereka ingin memamerkannya, serta ingin berbakat di bidang lain dan tidak dibatasi oleh orang lain yang memberi tahu mereka bahwa mereka tidak bisa melakukan hal-hal tertentu," ungkap Clarke.
Strategi ini juga memiliki nilai komersial yang besar. Klub seperti Arsenal dan Paris Saint-Germain berhasil memperluas basis penggemar mereka dengan menarik orang-orang yang tidak terlalu terobsesi dengan sepak bola, tetapi lebih tertarik pada elemen musik dan mode.
"Dengan menggabungkan keduanya, klub terlihat lebih keren dan karenanya mendatangkan lebih banyak penggemar. Budaya dalam sepak bola sangat penting bagi klub maupun pemain," tutupnya.
Sumber: BBC