Menuju Pentas Asia: Transformasi Mental dan Gemblengan Eropa Ala Kurniawan Dwi Yulianto di Timnas Indonesia U-17

Pelatih Timnas Indonesia U-17, Kurniawan Dwi Yulianto menegaskan Piala AFF U-17 2026 bukan turnamen ecek-ecek.

BolaCom | Wiwig PrayugiDiterbitkan 11 April 2026, 08:15 WIB
Piala AFF U-17 2026. (Bola.com/Wiwig Prayugi)

Bola.com, Jakarta - Pelatih Timnas Indonesia U-17, Kurniawan Dwi Yulianto menegaskan Piala AFF U-17 2026 bukan turnamen ecek-ecek. Baginya, kompetisi ini merupakan gerbang awal menuju puncak impian.

Garuda Asia bakal tergabung di grup A bersama lawan-lawan yang cukup berat. Selain Timor Leste dan Malaysia, Chico Jericho dkk akan menghadapi juara tiga kali, Vietnam.

Advertisement

Walau dipercaya bakal melangkah ke semi-final, pelatih berusia 49 tahun itu memilih rendah hati. Menurutnya, peta persaingan di usia dini masih sangat merata. Sosok legenda hidup Timnas Indonesia itu juga enggan setengah-setengah menyiapkan timnya menghadapi turnamen ini.

Latih tanding kontra Thailand merupakan contoh keseriusan mereka.Dengan banyak pemain yang datang dari kompetisi Elite Pro Academy (EPA), laga internasional jadi sebuah keharusan. Sebab, intensitas pertandingan yang dirasakan akan jauh berbeda.

"Tentu ada hal positif yang kita dapatkan terutama terkait mental pertandingan pertandingan Internasional. Selama mereka berkompetisi di EPA tentu tekanannya akan berbeda," ungkapnya.


Pengalaman Berharga dari Italia

Pelatih kepala Timnas Indonesia U-17, Kurniawan Dwi Yulianto berpose setelah acara pengundian Piala AFF U-17 2026 yang berlangsung di SCTV Tower Lt 8, Senayan, Jakarta pada Jumat (06/03/2026). Timnas Indonesia U-17 tergabung ke dalam Grup A bersama Vietnam, Malaysia, dan Timor Leste. (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Pengalaman menjadi staf pelatih di tim Serie A, Como, merupakan bekal berharga bagi Kurniawan Dwi Yulianto.

Ia terlibat langsung dalam pembentukan disiplin taktik pemain muda di Italia.Nilai-nilai profesionalisme dari Como inilah yang coba disuntikkan ke pemain didikannya sekarang.

Dia ingin para pemain memahami bahwa sepak bola internasional adalah tentang efisiensi dan intensitas.

“Pasti ya terutama masalah pola pikir pemain kemudian mentalitas manusia. Dan yang paling-paling saya tekankan intensitas bermain," ungkapnya.


Kedewasaan Permainan

Pria yang dijuluki Si Kurus ini memahami bahwa bakat teknis saja tidak cukup. Di level internasional, ketangguhan mental untuk bangkit dari tekanan adalah pembeda antara pemenang dan pecundang.

Mentalitas ini bukan hanya soal berani bertarung atau berjuang selama 90 menit. Tapi tentang kedewasaan dalam mengambil keputusan di lapangan.Walau begitu, Piala AFF U-17 adalah sebuah laboratorium untuknya.

Turnamen dimana dia membentuk pemain muda Indonesia untuk memiliki mentalitas dan semangat tinggi di panggung internasional.

“Karena turnamen yang kami hadapi bukan lagi kompetisi lokal, tetapi Piala ASEAN U-17 dan Piala Asia U-17 2027, tentu intensitas bermain ini sangat penting,” tegasnya.

Berita Terkait