Internal AS Roma Panas, Gian Piero Gasperini Ribut dengan Claudio Ranieri

Diam-diam konflik internal terjadi di AS Roma. Konflik yang selama ini disembunyikan kini meledak ke permukaan. Kubu I Giallorossi kini terbelah menjadi dua kubu besar: Gian Piero Gasperini di satu sisi, dan Claudio Ranieri di sisi lain.

BolaCom | Hendry WibowoDiterbitkan 12 April 2026, 19:45 WIB
Pelatih AS Roma, Gian Piero Gasperini bersama Claudio Ranieri yang menjabat sebagai penasihat teknis. (X/AS Roma)

Bola.com, Jakarta - Diam-diam konflik internal terjadi di AS Roma. Konflik yang selama ini disembunyikan kini meledak ke permukaan. Kubu I Giallorossi kini terbelah menjadi dua kubu besar: Gian Piero Gasperini di satu sisi, dan Claudio Ranieri di sisi lain.

Situasi ini bukan lagi sekadar rumor belaka. Keduanya telah secara terbuka menunjukkan perbedaan visi yang tajam, meninggalkan Direktur Olahraga, Frederic Massara, terjepit di tengah pusaran konflik yang melibatkan langsung keluarga Friedkin selaku pemilik klub.

Advertisement

Banyak pihak menilai keberanian Claudio Ranieri melontarkan kritik tajam kepada Gian Piero Gasperini dan detail bukan tanpa alasan.

Sebagai sosok senior dengan jabatan sebagai penasihat dan kemampuan komunikasi yang mumpuni, pernyataan Claudio Ranieri diyakini merupakan representasi langsung dari keinginan pemilik asal Amerika Serikat tersebut.

Sulit membayangkan sosok berpengalaman seperti Claudio Ranieri berani mengekspos diri sedemikian rupa tanpa adanya dukungan penuh dari hierarki tertinggi klub. Ranieri kini dianggap sebagai suara dari visi strategis keluarga Friedkin di dalam tim.

 

 

 


Benturan Visi: Ambisi vs Aturan FFP

Hasil ini juga membuat skuad asuhan Gian Piero Gasperini membukukan 26 kemenangan di Serie A sepanjang 2025. (AFP/Filippo Monteforte)

Laporan dari Il Messaggero menyebutkan bahwa struktur kerja AS Roma saat ini sangat sulit dipertahankan dalam jangka panjang. Perbedaan mendasar terletak pada strategi pembangunan skuad. 

Sebagai pelatih, Gian Piero Gasperini menginginkan model klasik, yakni mendatangkan pemain-pemain berkualitas matang untuk langsung mendongkrak level kompetitif tim demi meraih trofi.

Sementara visi kepemilikan Friedkin yang diwakilkan Ranieri, AS Roma wajib beroperasi di bawah batasan ketat Financial Fair Play (FFP). Mereka menuntut pendekatan yang lebih hati-hati, berkelanjutan, dan mengutamakan kesehatan finansial klub.

Ranieri sendiri mempertanyakan visi Gasperini yang selama melatih Atlalanta dikenal sebagai jurutaktik yang pintar mengembangkan pemain muda, bukan pemain matang. 

"Kami memilihnya karena apa yang telah ia lakukan di Atalanta, memulai dengan pemain muda dan secara bertahap membawa mereka ke panggung terbesar," kata Ranieri. 

"Kami mengharapkan apa yang terjadi sekarang. Kami mendatangkan pemain muda, semuanya dipilih bersama, tidak satu pun yang datang tanpa persetujuannya." 

"Ziolkowski, Ghilardi, Venturino, dan Zaragoza semuanya datang atas permintaan khususnya, untuk memberi pelatih skuad yang mampu membangun kesuksesan," lanjutnya. 

 

 

 

 

 


Ketidakpastian yang Membingungkan Publik

Kini, pertemuan antara Gasperini dan Ranieri sekembalinya mereka ke meja kerja akan menjadi momen krusial bagi masa depan Giallorossi. Namun, pertemuan saja dinilai tidak cukup.

Publik Roma mulai gerah dengan simpang siurnya informasi. Di satu sisi, ada desas-desus mengenai perombakan teknis yang bertentangan dengan pernyataan sang pelatih.

Di sisi lain, fans terpecah: ada yang melihat kata-kata Ranieri sebagai sikap pribadi, namun tak sedikit yang meyakini itu adalah titah langsung dari Friedkin.

Untuk mengakhiri kegaduhan ini, campur tangan resmi dan langsung dari keluarga Friedkin sangat dinantikan. Tanpa adanya pernyataan tegas dari pemilik, komunikasi tidak langsung lewat "tangan kanan" hanya akan meningkatkan ketidakpastian di ruang ganti.

Jika dibiarkan berlarut-larut, iklim penuh kebingungan ini bisa menjadi batu sandungan besar bagi prestasi AS Roma di atas lapangan. 

Sumber: Romapress 


Yuk Lihat Peta Persaingan

Berita Terkait