Dugaan Rasialisme di EPA U-20, Erick Thohir Minta I-League dan Klub Liga Tegakkan Sikap Saling Hargai dan Empati

Isu rasialisme menjadi sesuatu yang harus ditangani dengan tepat, apalagi di kompetisi usia muda.

BolaCom | Hery KurniawanDiterbitkan 22 April 2026, 22:06 WIB
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir (kanan) berbincang dengan Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB), Ferry Paulus saat acara konferensi pers Liga 1 2023/2024 di SCTV Tower, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (15/6/2023). (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Bola.com, Jakarta - Ketua PSSI Erick Thohir menegaskan, pihaknya tidak membenarkan segala bentuk ucapan, ungkapan, maupun perilaku rasialisme dalam sepakbola nasional.

Dalam kompetisi pembinaan dan juga profesional, setiap peristiwa yang mengandung unsur rasisme harus disikapi serius, tegas, dan bertanggung jawab oleh semua pihak, termasuk operator kompetisi dan para klub.

Advertisement

Erick Thohir menekankan, sepakbola usia muda tidak boleh hanya berfokus pada hasil pertandingan atau kemampuan teknis pemain. Menurutnya, pembinaan yang benar harus berjalan seiring dengan pembentukan karakter, pengendalian emosi, penghormatan kepada lawan, dan kepatuhan terhadap aturan pertandingan serta keputusan wasit.

“FIFA dan PSSI tidak membenarkan segala bentuk ucapan dan ungkapan rasisme di sepakbola. Baik di kancah internasional dan juga nasional. Sejak usia muda, pemain harus dibentuk dengan prinsip fair play, anti-rasisme, toleransi, disiplin, dan penghormatan kepada wasit. Prestasi tidak cukup hanya dengan skill. Prestasi harus ditopang karakter dan watak yang baik," ujarnya di Jakarta, Rabu (22/4/2026)

 

 


Sikap Saling Menghargai

Mediasi yang berlangsung di Dewa United Arena, Tangerang, pada Rabu (22/4/2026). Pertemuan tersebut dihadiri oleh Direktur Akademi Dewa United, Firman Utina, Direktur Akademi Bhayangkara FC, Agus Rumekso Carel, Manajer Bhayangkara U-20, Yongki Pandu Pamungkas, pemain Bhayangkara FC U-20 sekaligus pelaku tendangan kung fu, Fadly Alberto, dan pemain Dewa United U-20 yang menjadi korban, Rakha Nurkholis. (Muhammad Adiyaksa/Bola.com)

Karena itu, Erick Thohir meminta I-League sebagai operator Elite Pro Academy (EPA) dan juga kompetisi BRI Super League, Pegadaian Championship, serta klub-klub peserta kompetisi tersebut, tak pernah berhenti dan terus menegakkan sikap saling menghargai dan empati antar pemain.

PSSI juga meminta agar sosialisasi mengenai anti-rasisme, anti-kekerasan, toleransi, disiplin, kepatuhan terhadap aturan, dan penghormatan kepada wasit diperkuat secara konsisten di seluruh level EPA dan kompetisi profesional. Selain itu, pengawasan pertandingan harus diperketat agar kompetisi pemain muda benar-benar menjadi ruang belajar yang sehat, aman, dan mendidik.

“Kompetisi usia muda harus menjadi wadah tumbuhnya pemain yang lebih dewasa, matang, dan berkemampuan mumpuni. Karena itu, operator, klub, ofisial, dan seluruh pemangku kepentingan harus memastikan pembinaan karakter berjalan sekuat pembinaan teknik," lanjutnya.


Upaya Bhayangkara FC dan Dewa United

Erick Thohir (kiri), Yunus Nusi (tengah), dan Ferry Paulus (kanan), berbicara pada Press Conference terkait National Dispute Resolution Chamber Indonesia (NDRC) yang akan dilaksanakan pada Rabu, (06/07/2025) Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta. (Bola.com/Abdul Aziz)

Dalam kesempatan ini, Erick Thohir juga menghargai usaha klub Bhayangkara FC dan Dewa United, asal para pemain yang terlibat dalam masalah tersebut, untuk mempertemukan dan mendamaikan kedua pemain, Fadly Alberto dan Rakha Nurkholis.

"Saya apresiasi karena kedua klub tetap menomorsatukan persatuan dan kesatuan sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Pancasila, bahwa meskipun kita berbeda-beda daerah, tapi kita semua ini berjuang bersama demi Indonesia. Ini harus menjadi pelajaran bagi pemain," tandas sosok yang juga menjabat sebagai Menpora RI itu. 

Berita Terkait