Otoritas Hukum AS Investigasi FIFA Terkait Penjualan Tiket Piala Dunia 2026

FIFA bahkan telah menerima subpoena atau perintah resmi untuk menyerahkan berbagai informasi terkait sistem penjualan tiket Piala Dunia 2026.

BolaCom | Benediktus Gerendo PradigdoDiterbitkan 28 Mei 2026, 20:15 WIB
Trofi Piala Dunia FIFA dipajang menjelang pengundian kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 di markas besar FIFA di Zurich, pada 13 Desember 2024. (Fabrice COFFRINI/AFP)

Bola.com, Jakarta - FIFA resmi menjadi sasaran penyelidikan otoritas hukum Amerika Serikat (AS) terkait praktik penjualan tiket Piala Dunia 2026.

Jaksa agung dari negara bagian New York dan New Jersey menuntut FIFA memberikan penjelasan atas dugaan “menaikkan harga secara artifisial” dan “menyesatkan penggemar” dalam penjualan tiket pertandingan.

Advertisement

FIFA bahkan telah menerima subpoena atau perintah resmi untuk menyerahkan berbagai informasi terkait sistem penjualan tiket Piala Dunia 2026.

Penyelidikan ini berfokus kepada delapan pertandingan Piala Dunia 2026 yang akan digelar di New Jersey, termasuk laga grup Inggris melawan Panama pada 27 Juni dan partai final Piala Dunia pada 19 Juli 2026.


Fans Disebut Disesatkan Soal Lokasi Kursi

Pemandangan umum (general view) stadion saat matahari terbenam menjelang pertandingan sepak bola Grup A Piala Dunia Antarklub 2025 antara Porto FC dari Portugal dan Al-Ahly dari Mesir di stadion MetLife di East Rutherford, New Jersey, pada tanggal 23 Juni 2025. (CHARLY TRIBALLEAU/AFP)

Salah satu tuduhan utama dalam investigasi ini adalah dugaan penggemar tidak mendapatkan informasi yang jelas mengenai lokasi kursi yang mereka beli.

FIFA juga disebut merilis kategori tiket baru yang lebih mahal setelah penjualan awal dimulai, sehingga memicu lonjakan harga.

Selain itu, sistem harga dinamis berdasarkan permintaan diduga membuat FIFA menaikkan harga sekitar 90 dari total 104 pertandingan dengan rata-rata kenaikan mencapai 34 persen.

Jaksa Agung New Jersey, Jennifer Davenport, mengkritik keras sistem penjualan tiket FIFA.

“Bersikap jujur mengenai penjualan tiket sebenarnya tidak rumit,” tegas Davenport.

“Namun, FIFA telah mengubah pembelian tiket Piala Dunia menjadi proses yang penuh kebingungan, kelangkaan palsu, dan harga yang sangat tinggi, semuanya merugikan konsumen dan warga New Jersey yang bekerja keras.”


New York dan New Jersey Bersatu Lindungi Konsumen

Ajang ini untuk pertama kalinya digelar di tiga negara sekaligus, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, dengan total 16 stadion resmi yang tersebar di berbagai kota besar Amerika Utara. Tampak dalam foto, tempat duduk tribun sementara dipasang di BMO Field, Toronto, Kanada, pada Selasa 24 Maret 2026. (Cole BURSTON/AFP)

Davenport menegaskan pihaknya akan melakukan investigasi menyeluruh terhadap tindakan FIFA.

“Kami berkomitmen melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap tindakan FIFA, dan kami bangga bisa berdiri bersama Jaksa Agung James untuk melindungi konsumen kami,” ujarnya.

“Menjadi tuan rumah Piala Dunia adalah sebuah kehormatan, tetapi acara ini bukan undangan untuk mengeksploitasi warga dan pengunjung kami,” lanjutnya.

Sementara itu, Jaksa Agung New York, Letitia James, mengatakan masyarakat telah lama menantikan Piala Dunia hadir di wilayah mereka dan layak mendapatkan kesempatan membeli tiket dengan harga wajar.

“Warga New York telah menunggu bertahun-tahun agar Piala Dunia bisa hadir di dekat mereka, dan mereka pantas mendapatkan kesempatan yang adil untuk membeli tiket dengan harga terjangkau,” ujar James.

“Tidak seorang pun boleh dimanipulasi untuk membayar harga selangit demi sebuah kursi, dan penggemar harus bisa percaya bahwa tiket yang mereka beli adalah tiket yang benar-benar mereka dapatkan,” lanjutnya.


FIFA Terancam Tekanan Besar Jelang Piala Dunia

Logo Piala Dunia 2026. (Bola.com/FIFA)

Investigasi ini diperkirakan akan menambah tekanan bagi FIFA menjelang Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Otoritas setempat juga meminta warga New Jersey yang merasa tidak menerima tiket sesuai pembayaran untuk mengajukan pengaduan resmi melalui situs Division of Consumer Affairs.

Kasus ini berpotensi menjadi sorotan besar karena menyangkut transparansi dan perlindungan konsumen dalam salah satu ajang olahraga terbesar di dunia.

Sumber: Breaking News

Berita Terkait