Setelah F1 GP Bahrain dan Arab Saudi, Dua Balapan Penutup Musim 2026 Juga Terancam Batal

F1 bisa kehilangan dua balapan lagi pada kalender musim 2026.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 30 Mei 2026, 15:15 WIB
Pembalap Mercedes AMG Petronas, Kimi Antonelli, sukses merebut podium tertinggi dalam balapan Formula 1 GP Jepang 2026 di Sirkuit Suzuka, pada Minggu (29/3/2026). Tampak dalam foto, pembalap Mercedes AMG Petronas asal Italia, Kimi Antonelli, sesaat sebelum melewati garis finis Grand Prix Formula Satu Jepang di sirkuit Suzuka, Suzuka, prefektur Mie pada Minggu 29 Maret 2026. (FRANCK ROBICHON/POOL/AFP)

Bola.com, Jakarta - Formula 1 mulai menyiapkan berbagai skenario menghadapi kemungkinan perubahan jadwal balapan musim 2026.

Setelah dua seri di Timur Tengah sudah lebih dulu dibatalkan, kini dua balapan penutup musim di Qatar dan Abu Dhabi juga berada dalam bayang-bayang ketidakpastian.

Advertisement

CEO Formula 1, Stefano Domenicali, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menyiapkan rencana cadangan apabila situasi geopolitik di kawasan Teluk tidak memungkinkan penyelenggaraan balapan sesuai jadwal.

Musim 2026 sejauh ini sudah menghadirkan sejumlah sorotan. Selain penampilan sensasional pembalap muda, Kimi Antonelli, yang memenangi empat dari lima balapan pertama dan finis kedua di Australia, masa depan Max Verstappen juga menjadi bahan perbincangan.

Beberapa laporan menyebut Verstappen mulai tidak puas dengan arah perkembangan Formula 1. Di sisi lain, kalender balapan juga terganggu setelah Grand Prix Bahrain dan Arab Saudi dibatalkan akibat konflik yang terjadi di kawasan tersebut.


Penyelesaian Konflik

Orang-orang menyaksikan kepulan asap membubung di langit Teheran, Iran, setelah terjadinya ledakan, Sabtu (28/2/2026) akibat serangan Israel dan Amerika Serikat. (Dok. AP)

Kini perhatian beralih ke Grand Prix Qatar dan Abu Dhabi yang dijadwalkan menjadi dua seri terakhir musim ini. Ketidakpastian situasi keamanan di kawasan Teluk membuat kedua balapan itu berisiko mengalami nasib serupa.

Jika itu terjadi tanpa adanya pengganti, jumlah balapan musim 2026 bisa berkurang dari rencana awal 24 seri menjadi hanya 20 seri.

Kendati Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terus menyampaikan optimisme mengenai peluang tercapainya kesepakatan diplomatik, serangan terhadap Iran masih terus berlangsung.

Kondisi tersebut membuat penyelesaian konflik dalam waktu dekat masih diragukan.


F1 Pantau Situasi

Stefano Domenicali, CEO Formula 1, bereaksi dalam resepsi perayaan 75 tahun Formula 1 di 10 Downing Street, London pusat, pada 2 Juli 2025. (Jaimi Joy/POOL/AFP)

Dalam wawancara dengan surat kabar Prancis, L'Equipe, Domenicali menjelaskan bahwa Formula 1 terus memantau perkembangan situasi sambil mempertimbangkan langkah-langkah yang paling realistis.

"Seperti saat pandemi COVID-19, kami harus berusaha bertindak sepragmatis mungkin. Pembatalan balapan di Bahrain dan Jeddah terjadi karena kami tahu tidak mungkin menggelar Grand Prix tersebut pada waktu yang direncanakan. Kami adalah olahraga hiburan yang membawa kegembiraan dan kesenangan. Kami harus datang ke tempat-tempat yang memungkinkan suasana seperti itu tercipta," kata Domenicali.

Ia mengakui bahwa Formula 1 akan segera memasuki fase penting dalam pengambilan keputusan terkait dua balapan penutup musim.

"Promotor di Qatar dan Abu Dhabi sudah menjual tiket dan penjualannya berjalan sangat, sangat baik. Namun, akan tiba waktunya ketika kami harus mengambil keputusan," imbuhnya.


Operasi Logistik Rumit

Mekanik mendorong mobil pembalap Ferrari asal Inggris, Lewis Hamilton, di pit saat sesi latihan pertama Formula Satu Grand Prix China di Sirkuit Internasional Shanghai pada 21 Maret 2025. (HECTOR RETAMAL/AFP)

Menurut Domenicali, mengganti lokasi atau menggeser jadwal balapan Formula 1 tidak sesederhana yang dibayangkan banyak orang karena melibatkan operasi logistik berskala besar dan biaya yang tidak sedikit.

"Formula 1 tidak seperti pertandingan sepak bola yang hanya melibatkan dua tim dan 22 pemain. Bagi kami, menyelenggarakan Grand Prix adalah pekerjaan logistik yang rumit dan mahal. Menunda satu balapan saja sudah menjadi tantangan karena tidak banyak slot kosong yang tersedia dalam kalender," jelasnya.

Meski begitu, ia memastikan Formula 1 sudah memiliki sejumlah alternatif apabila Qatar dan Abu Dhabi akhirnya tidak dapat menggelar balapan.

"Saya bisa memastikan bahwa kami memiliki rencana cadangan. Jika dua balapan pada akhir tahun dibatalkan akibat konflik yang masih berlangsung, kami sudah menyiapkan pilihan lain," ungkapnya.


Opsi Penutup Musim

Lintasan lurus panjang mendominasi sirkuit Las Vegas diprediksi akan sedikit menyulitkan pembalap untuk mempertahankan suhu ban. Tampak dalam foto, Charles Leclerc dari Monako mengemudikan Ferrari SF-24 di lintasan saat latihan menjelang Grand Prix F1 Las Vegas di Sirkuit Las Vegas Strip pada 21 November 2024 di Las Vegas, Nevada. (Chris Graythen/Getty Images North America/Getty Images via AFP)

Domenicali juga menepis kemungkinan Grand Prix Las Vegas menjadi seri terakhir musim 2026 apabila Qatar dan Abu Dhabi batal masuk kalender.

"Tidak, Las Vegas tidak akan menjadi balapan terakhir dalam kalender. Saya bisa memastikan hal itu," tegasnya.

Belum diketahui lokasi mana yang akan dipilih Formula 1 apabila diperlukan pengganti untuk dua seri penutup musim tersebut.

Namun, sejumlah sirkuit yang dijadwalkan kembali masuk kalender tahun depan, seperti Grand Prix Turki dan Grand Prix Portugal, berpotensi menjadi opsi.

Selain itu, Grand Prix Spanyol yang akan hadir sebagai tambahan baru dalam kalender juga dapat dipertimbangkan apabila Formula 1 membutuhkan solusi cepat untuk menutup musim 2026.

 

Sumber: Give Me Sport

Berita Terkait