Bola.com, Jakarta - Arsenal kembali harus pulang dengan tangan kosong dari panggung tertinggi sepak bola Eropa. The Gunners kalah adu penalti melawan Paris Saint-Germain di final Liga Champions, dengan Gabriel menjadi sosok yang harus menanggung beban paling berat setelah tendangannya melambung di atas mistar gawang untuk memastikan PSG meraih gelar juara back-to-back, sebuah pencapaian yang hanya diraih tim kedua di era modern.
Laga di Budapest itu berakhir dengan skenario yang menyakitkan bagi Arsenal. Gabriel tampil sebagai penendang kelima The Gunners dalam adu penalti, masuk ke dalam situasi paling menekan setelah Eberechi Eze lebih dulu gagal menjalankan tugasnya. Tekanan itu terlalu besar, dan tendangan Gabriel pun gagal menemui sasaran.
Namun di tengah pesta perayaan PSG yang meledak di lapangan, ada satu momen yang menyita perhatian dan melampaui hiruk-pikuk selebrasi tersebut. Marquinhos, kapten PSG yang baru saja mengangkat trofi Liga Champions, memilih meninggalkan rekan-rekannya yang berpesta dan berjalan menghampiri Gabriel yang terlihat hancur di tengah lapangan, jauh sebelum para pemain Arsenal datang menghibur sang bek.
Gestur itu tidak luput dari perhatian Martin Odegaard, yang menyaksikan langsung apa yang dilakukan kapten tim lawan tersebut kepada rekan senegaranya dari Brasil itu.
Odegaard: Marquinhos Tahu Rasanya Berada di Kedua Sisi Final
Kapten Arsenal itu tidak butuh waktu lama untuk memberikan penilaiannya atas tindakan Marquinhos. Bagi Odegaard, apa yang dilakukan bek senior PSG itu mencerminkan karakter seorang pemain yang benar-benar memahami makna kekalahan di panggung sebesar final Liga Champions.
"Dia seorang gentleman. Ia mungkin salah satu pemain paling berpengalaman yang masih aktif saat ini," ujar Odegaard tentang kapten PSG itu. "Dia sudah merasakan kedua sisi dari final seperti ini, dan dia tahu apa yang sedang kami rasakan saat ini."
Marquinhos memang bukan orang asing terhadap rasa sakit sebuah final. Pengalaman panjangnya di panggung tertinggi sepak bola Eropa membuat gesturnya malam itu terasa jauh lebih bermakna, bukan sekadar basa-basi sportivitas.
Kontroversi: Mengapa Gabriel yang Menendang Penalti Kelima?
Keputusan untuk menempatkan Gabriel sebagai penendang kelima langsung memicu perdebatan panas di kalangan penggemar dan para pundit. Legenda Arsenal Thierry Henry pun angkat bicara, mempertanyakan logika menempatkan seorang bek dalam situasi sepenting itu ketika tekanan sedang berada di puncaknya.
Namun Arteta kemudian memberikan jawaban yang mengubah sudut pandang perdebatan tersebut. Ternyata bukan keputusan sepihak sang pelatih, melainkan Gabriel sendiri yang meminta untuk mengambil tendangan penalti kelima itu.
"Dia yang ingin mengambil nomor lima," kata Arteta. "Kami sudah mempersiapkan dan berlatih untuk momen ini. Normalnya penendang penalti kami adalah Bukayo, Martin, dan Kai. Hari ini kami tahu jika masuk ke perpanjangan waktu dan penalti, penendangnya akan berbeda."
Arteta: Kami Tidak Seberuntung Mereka dalam Hal Presisi
Arteta tidak mencari-cari alasan atas kekalahan timnya. Ia mengakui bahwa pada momen-momen paling menentukan, PSG tampil lebih dingin dan lebih efisien dibanding Arsenal, dan itulah yang pada akhirnya menjadi penentu siapa yang mengangkat trofi.
"Ebs tidak pernah gagal saat latihan penalti, tapi Anda harus melakukannya di momen seperti ini," tutur Arteta. "Kami tidak seberuntung mereka dalam hal presisi dan efisiensi, dan itulah alasan kami belum memenangkannya."
Kekalahan ini kembali meninggalkan luka yang dalam bagi Arsenal dan para pendukungnya. Namun gestur Marquinhos kepada Gabriel, dan kata-kata Odegaard yang memujinya, menjadi pengingat bahwa di balik persaingan paling sengit sekalipun, sepak bola masih menyimpan ruang untuk kemanusiaan.