Bola.com, Jakarta - Keberhasilan Paris Saint-Germain (PSG) mempertahankan gelar Liga Champions justru diikuti gelombang kericuhan di sejumlah wilayah Prancis, terutama di Paris.
Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez, mengungkapkan bahwa aparat keamanan menangkap 780 orang setelah perayaan kemenangan PSG atas Arsenal pada final Liga Champions di Budapest.
Dari jumlah tersebut, 480 penangkapan terjadi di kawasan ibu kota Prancis, sementara 457 orang resmi ditahan untuk proses hukum lebih lanjut.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, turut mengecam insiden tersebut dan menyebut apa yang terjadi di Paris sebagai tindakan yang tidak bisa diterima.
PSG memastikan gelar Liga Champions kedua secara beruntun setelah mengalahkan Arsenal melalui adu penalti.
Tim asuhan Luis Enrique itu sempat tertinggal lebih dulu sebelum menyamakan kedudukan pada waktu normal. Kegagalan Gabriel Magalhaes dalam eksekusi penalti kemudian memastikan trofi kembali menjadi milik raksasa Prancis tersebut.
Kerusuhan Pecah setelah PSG Juara
Setelah kemenangan itu, ribuan pendukung PSG memadati jalan-jalan di Paris. Suar, bendera, dan berbagai bentuk perayaan mewarnai malam tersebut. Namun, sejumlah aksi vandalisme dan pembakaran juga terjadi di beberapa lokasi.
"Tahun lalu, untuk peristiwa yang sama, jumlahnya mencapai 592. Jadi, kali ini naik 32 persen," kata Nunez seperti dikutip BFM.
"Hingga saat ini, dari 780 orang yang ditangkap, 457 di antaranya telah ditahan," lanjutnya.
Nunez juga mengungkapkan bahwa puluhan petugas keamanan mengalami luka-luka saat mengendalikan situasi.
"Saya juga ingin menegaskan bahwa ada 57 anggota kepolisian dan gendarmerie yang terluka dalam peristiwa ini. Sebagian besar memang mengalami luka ringan, tetapi bukan hanya itu yang perlu diperhatikan," ungkapnya.
"Saya ingin menyampaikan penghargaan kepada seluruh personel keamanan dalam negeri yang telah bekerja sepenuhnya dalam operasi ini."
Menurut Nunez, polisi harus bergerak cepat untuk menggagalkan beberapa upaya penutupan Boulevard Peripherique, jalan lingkar utama yang mengelilingi Paris.
"Empat upaya pemblokiran Peripherique memicu respons polisi yang sangat cepat dan situasi berhasil dikendalikan," ujarnya.
Macron: Ini Bukan Sepak Bola
Emmanuel Macron tidak menyembunyikan kekecewaannya ketika berbicara mengenai insiden tersebut saat perayaan trofi PSG pada Minggu.
"Paris telah menang, dua bintang. Tetapi, kami juga menyaksikan adegan kekerasan yang tidak dapat diterima di Paris," kata Macron.
"Saya ingin berterima kasih kepada Menteri Dalam Negeri dan seluruh tim yang telah bertugas. Ini bukan sepak bola dan bukan nilai yang kami junjung."
"Kami akan bertindak tegas terhadap mereka yang telah ditangkap. Kami tidak ingin melihat hal seperti ini lagi. Sudah cukup. Ini harus berakhir," tegasnya.
Angka Penangkapan Melonjak
Jumlah penangkapan kali ini bahkan lebih dari dua kali lipat dibanding ketika PSG memastikan tiket ke final setelah menyingkirkan juara Jerman, Bayern Munchen.
Awal bulan ini, Nunez mengungkapkan bahwa 127 orang ditangkap di wilayah Paris setelah leg kedua semifinal yang berlangsung di Allianz Arena. Pada kesempatan itu, 23 petugas polisi mengalami cedera saat bertugas.
Kericuhan terkait final Liga Champions juga terjadi sebelum pertandingan dimulai.
Polisi Hungaria melakukan sejumlah penangkapan dan membuka penyelidikan setelah terjadi insiden penyalaan suar dan bentrokan antarsuporter di Budapest.
Final Berlangsung Sengit
Arsenal memulai final dengan sempurna setelah Kai Havertz mencetak gol pada menit kelima. PSG baru mampu menyamakan skor pada menit ke-64 melalui penalti Ousmane Dembele setelah Cristhian Mosquera melanggar Khvicha Kvaratskhelia di dalam kotak penalti.
Kedudukan tetap imbang hingga babak tambahan waktu berakhir.
Dalam adu penalti, Eberechi Eze dan Gabriel Magalhaes gagal menjalankan tugasnya sehingga PSG memastikan gelar Liga Champions kedua secara beruntun.
Sementara itu, meski gagal mengangkat trofi Eropa, Arsenal tetap menggelar parade juara Liga Inggris di London pada Minggu waktu setempat.
Acara tersebut menjadi satu di antara operasi pengamanan terbesar tahun ini bagi Kepolisian Metropolitan London yang menurunkan sekitar 500 personel.
Sumber: The Athletic