Ibrahima Konate Akui Depresi setelah Diogo Jota dan sang Ayah Meninggal Dunia

Di balik turunnya performa di Liverpool, Ibrahima Konate ternyata berjuang melawan depresi setelah Diogo Jota dan sang ayah meninggal dunia.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 04 Juni 2026, 11:30 WIB
Reaksi bek Liverpool Prancis #05 Ibrahima Konate atas kekalahan mereka di lapangan setelah pertandingan sepak bola perempat final Piala FA Inggris antara Manchester City dan Liverpool di Stadion Etihad di Manchester, barat laut Inggris, pada 4 April 2026. City memenangkan pertandingan tersebut 4-0. (Darren Staples/AFP)

Bola.com, Jakarta - Bek Liverpool, Ibrahima Konate, mengungkapkan bahwa dirinya sempat mengalami depresi setelah kehilangan dua sosok penting dalam hidupnya dalam rentang waktu yang berdekatan, yakni rekan setimnya, Diogo Jota, dan sang ayah, Hamady Konate.

Penyerang Timnas Portugal, Diogo Jota, meninggal dunia dalam kecelakaan mobil pada Juli tahun lalu bersama adiknya, Andre Silva.

Advertisement

Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada Januari 2026, ayah Konate wafat setelah lama berjuang melawan penyakit yang dideritanya.

Dua kehilangan tersebut memberikan dampak besar terhadap kehidupan pribadi maupun performa Konate di lapangan pada musim terakhirnya bersama Liverpool.

Dalam wawancara dengan radio France Inter, bek Timnas Prancis itu berbicara terbuka mengenai kondisi mental yang dialaminya selama periode sulit tersebut.

"Ada masa-masa terpuruk, ada depresi. Di sepak bola pun Anda bisa mengalami depresi dan tidak perlu malu untuk mengatakannya," ujar Konate.

"Saya sering mendengar pemain mengatakan bahwa mereka mengalami depresi, tetapi suporter atau orang-orang di luar sana tidak memahaminya karena para pemain menghasilkan banyak uang. Itu omong kosong dan tidak seharusnya dikatakan."

"Depresi adalah sesuatu yang sangat personal, berada jauh di dalam diri Anda. Ketika depresi datang, itu bermula dari hati, naik ke pikiran, lalu menguasai seluruh tubuh Anda. Bagi saya, itulah yang sulit, dan karena itu kita perlu membicarakannya," ungkapnya.

Pukulan Konate

Pemain Liverpool asal Portugal #20, Diogo Jota, merayakan gol ketiga timnya selama pertandingan Liga Primer Inggris antara Fulham dan Liverpool di Craven Cottage di London pada 21 April 2024. Striker Liverpool Diogo Jota meninggal bersama saudaranya pada 3 Juli 2025 dini hari dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di barat laut Spanyol, kata Garda Sipil Spanyol. (BENJAMIN CREMEL/AFP)

Konate, yang telah mengonfirmasi akan meninggalkan Anfield musim panas ini dan dikabarkan makin dekat bergabung dengan Real Madrid, mengaku sangat terpukul ketika mendengar kabar meninggalnya Jota.

Selama tinggal di Merseyside, Jota juga merupakan satu di antara tetangganya.

"Itu menghancurkan saya. Pada saat itu, saya tidak tertarik pada apa pun lagi," kata Konate.

"Anda kembali bermain sepak bola karena tidak punya pilihan lain. Kami adalah karyawan klub yang membayar kami setiap bulan, jadi kami memiliki tanggung jawab."

"Kami tidak punya pilihan selain kembali ke lapangan dan bermain untuk dirinya, keluarganya, dan juga untuk diri kami sendiri. Tidak ada cara untuk benar-benar melupakan hal itu, tetapi Anda belajar untuk hidup dengannya," tutur pemain berusia 27 tahun itu.

Dilema Konate

Pemain Liverpool, Ibrahima Konate (kedua kiri) dan Mohamed Salah saat sesi latihan menjelang matchday 2 league phase Liga Champions 2024/2025 melawan Bologna, di pusat latihan AXA di Liverpool, Inggris, pada 1 Oktober 2024. (Paul ELLIS/AFP)

Di saat yang sama, Konate juga harus menghadapi kenyataan bahwa kondisi ayahnya terus memburuk.

Ia mengaku sempat berada dalam kebingungan antara mendampingi keluarganya atau tetap bertahan membantu Liverpool.

"Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya tidak tahu apakah saya harus pulang dan berhenti bermain karena tim juga membutuhkan saya," ujarnya.

"Saya tidak tahu harus berbicara dengan siapa mengenai semua ini, jadi saya menyimpannya sendiri. Karena itu, nasihat saya untuk semua orang adalah ketika Anda sedang terpuruk atau menghadapi masalah, bicaralah dengan orang-orang di sekitar Anda," kata Konate.

"Itu bisa membantu dan membuat Anda merasa lebih baik. Saya tidak melakukannya. Saya memendam semuanya sendiri."

"Dokter kemudian memberi tahu kami bahwa waktu hidup ayah saya sudah tidak lama lagi. Namun, kami tidak menyangka semuanya akan terjadi secepat itu," lanjut Konate.


Dampak ke Performa

Ibrahima Konate (tengah) dari Liverpool dan Ryan Gravenberch (kanan) bereaksi setelah Couhaib Driouech dari PSV mencetak gol ketiga timnya dalam pertandingan Liga Champions antara Liverpool dan PSV di Liverpool, Inggris, Kamis (27-11-2025) dini hari WIB. (Foto AP/Jon Super)

Konate sempat mempersingkat cuti belasungkawanya pada akhir Januari untuk membantu Liverpool yang saat itu sedang menghadapi krisis cedera. Meski kembali bermain, ia mengakui kondisinya tidak pernah benar-benar pulih sepanjang musim.

Bek kelahiran Paris, 25 Mei 1999 tersebut, tampil dalam 51 pertandingan pada musim 2025/2026, dengan 49 di antaranya sebagai starter.

Namun, ia tidak mampu mempertahankan performa konsisten seperti yang ditunjukkannya dalam empat musim sebelumnya bersama Liverpool.

The Reds menutup musim di posisi kelima klasemen Premier League.

Konate, yang telah mencatatkan 27 penampilan bersama Timnas Prancis, masuk skuad berisi 26 pemain pilihan Didier Deschamps untuk Piala Dunia 2026.

Les Bleus termasuk satu di antara tim yang dijagokan menjadi juara.


Sulitnya Pulih

Selebrasi bek Liverpool, Ibrahima Konate setelah mencetak gol ke gawang Benfica pada laga leg pertama perempatfinal Liga Champions 2021/2022 di Luz Stadium, Lisbon (5/4/2022). Ibrahima Konate didatangkan Liverpool dari RB Leipzig pada awal musim 2021/2022 dengan nilai transfer 40 juta euro. Masih menyisakan kontrak hingga 30 Juni 2026, hingga kini ia telah tampil dalam 53 laga di semua ajang dengan torehan 3 gol dan 1 assist. (AFP/Carlos Costa)

Kendati perlahan bangkit, Konate mengaku proses pemulihannya berjalan jauh lebih sulit daripada yang dibayangkan banyak orang.

"Tidak pernah ada satu momen pun ketika saya merasa benar-benar mulai membaik," kata Konate.

"Semua tragedi itu terjadi begitu cepat. Setiap kali saya merasa mulai bisa bernapas lagi, selalu ada sesuatu yang kembali terjadi."

"Saya mendapat dukungan dari para suporter Liverpool yang luar biasa, rekan-rekan setim, dan terutama keluarga saya. Namun, saya juga harus belajar untuk bangkit dengan kemampuan saya sendiri karena tim membutuhkan saya lebih dari sebelumnya."

"Saya tahu ayah saya pasti ingin melihat saya bangkit kembali," katanya lagi.

 

Sumber: BBC

Berita Terkait