Mengenal Hydration Break yang Jadi Sorotan dan Panen Kritik di Piala Dunia 2026: Akal-akalan Komersial atau Momentum Penyesuaian Taktik?

Hydration break menjadi aturan FIFA di Piala Dunia 2026 yang dianggap kontroversial. Simak ulasan singkatnya seputar "jeda minum" ini.

BolaCom | Radifa ArsaDiterbitkan 16 Juni 2026, 13:30 WIB
Para pemain Spanyol minum saat istirahat minum dalam pertandingan Grup H Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Cabo Verde di Stadion Atlanta pada 16 Juni 2026 di Atlanta, Georgia. (Buda Mendes/Getty Images via AFP)

Bola.com, Jakarta - Aturan wajib bernama "hydration break" yang diperkenalkan FIFA dan menjadi pemandangan baru dalam setiap pertandingan di Piala Dunia 2026 menuai sorotan dan panen kritikan dari berbagai pihak.

Hydration break atau jeda minum merupakan sebuah momen di mana wasit meniup peluit untuk menghentikan pertandingan pada menit ke-22 dalam setiap babak. Jeda ini disediakan agar para pemain dapat mengisi kembali cairan tubuh mereka.

Advertisement

Jeda selama tiga menit ini wajib diberlakukan dalam 104 pertandingan di Piala Dunia 2026.

Aturan ini diperkenalkan untuk membantu pemain menghadapi suhu panas dan tingkat kelembapan yang tinggi di Meksiko, Kanada, dan Amerika Serikat.

Berbeda dengan yang berlaku di Piala Dunia Antarklub 2025, tidak akan ada persyaratan terkait cuaca atau suhu tertentu untuk penerapan aturan ini.

Jeda ini akan diberlakukan oleh wasit di semua laga Piala Dunia 2026 guna memastikan kondisi yang setara bagi seluruh tim.

Meski begitu, penerapan hydration break ini ternyata tak mendapatkan sambutan positif dari semua pihak. Sebab, sebagian orang justru menganggap jeda ini sebagai gangguan komersial, hingga dianggap mengganggu momentum tim di lapangan.


Harusnya Disesuaikan Kondisi

Virgil van Dijk memecahkan kebuntuan dan membawa Belanda unggul 1-0 setelah tandukannya yang memaksimalkan umpan Ryan Gravenberch berhasil masuk gawang Jepang. (AP Photo/Julio Cortez)

Pelatih Timnas Amerika Serikat, Mauricio Pochettino, mengakui bahwa aturan baru ini seharusnya diterapkan sesuai dengan kondisi. Menurutnya, tidak semua laga sebetulnya perlu memberlakukan jeda ini.

"Saya tidak menyukainya (hydration break). Saya hanya menyukainya ketika kondisinya benar-benar ekstrem. Tetapi, ketika kondisi cuaca baik, itu tidak diperlukan,” ujar eks juru taktik Tottenham Hotspurs tersebut, dikutip dari BBC.

Sementara itu, kapten Timnas Belanda, Virgil van Dijk, menyampaikan pandangan yang beragam dari dua perspektif. Jika menggunakan perspektif penonton layar kaca, hydration break cukup mengganggu karena diselingi iklan.

"Saya pikir jeda hidrasi cukup menarik karena saya menonton hampir semua pertandingan. Setiap kali pertandingan berhenti dan beralih ke iklan, itu bukan sesuatu yang benar-benar saya sukai,” kata van Dijk dikutip dari Reuters.

"Bagi penonton netral yang menonton di televisi, menurut saya, itu juga tidak terlalu bagus. Jika cuacanya benar-benar panas, tentu jeda itu bermanfaat. Tetapi, saya rasa setiap pertandingan harus dinilai secara terpisah," lanjutnya.


Dimanfaatkan Jadi Momentum

Crysencio Summerville #24 dari Timnas Belanda minum saat istirahat minum (hydration break) dalam pertandingan Grup F Piala Dunia 2026 antara Belanda dan Jepang di Stadion Dallas pada 15 Juni 2026 di Arlington, Texas. (Michael Steele/Getty Images via AFP)

Satu di antara tim yang mampu memanfaatkan momentum hydration break ini adalah Brasil. Itu terjadi ketika mereka menghadapi Maroko pada pertandingan pertama Grup C Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium, New Jersey.

Ketika itu, Brasil sempat tertinggal 0-1 lewat gol Ismael Saibari pada menit ke-21. Lalu, enam menit setelah hydration break atau tepatnya pada menit ke-32, Selecao mampu menyamakan kedudukan lewat gol Vinicius Junior.

Memang, gol tersebut lahir dari aksi individu luar biasa Vinicius. Winger andalan Real Madrid ini memotong ke dalam dengan kaki kanannya sebelum melepaskan tembakan keras ke sudut atas gawang.

Namun, menurut pelatih Timnas Brasil, Carlo Ancelotti, jeda minum memberinya kesempatan untuk memberikan instruksi baru kepada pemain dan melakukan penyesuaian taktik.

Setelah kalah dominan, juara dunia lima kali itu tiba-tiba mendapatkan kembali momentum.

"Anda bisa menjelaskan masalah kepada para pemain saat hydration break. Anda juga bisa membuat penyesuaian taktis yang sangat bermanfaat," ujar juru taktik senior asal Italia tersebut setelah pertandingan.


Jadi Kepentingan Komersial

Para pemain Timnas Skotlandia minum saat istirahat hidrasi selama pertandingan Grup C Piala Dunia 2026 antara Haiti dan Skotlandia di Stadion Boston pada 13 Juni 2026 di Foxborough, Massachusetts. (Buda Mendes/Getty Images melalui AFP)

Selama jeda hidrasi, stasiun televisi memang diperbolehkan menayangkan iklan mulai 20 detik setelah wasit memberi sinyal penghentian permainan. Namun, mereka harus kembali ke siaran langsung setidaknya 30 detik sebelum pertandingan dimulai kembali.

Meski demikian, beberapa broadcaster, seperti ITV dan Telemundo, memilih untuk tidak menayangkan iklan selama jeda tersebut agar penonton tetap dapat melihat interaksi antara pemain dan pelatih secara langsung.

Mantan penyerang Arsenal dan Timnas Inggris, Ian Wright, secara tegas mengungkapkan pandangannya mengenai jeda tersebut.

"Saya pikir ini hanyalah cara lain untuk memasukkan iklan dari sudut pandang Amerika," cetusnya.

Stasiun televisi Amerika Serikat, Fox, bahkan memperpanjang durasi iklan selama jeda hidrasi pada pertandingan pembukaan antara Meksiko menghadapi Afrika Selatan pada laga pembuka Grup A Piala Dunia 2026.

"Mereka menggunakan alasan bahwa ini demi para pemain, tetapi bagi saya bukan itu tujuannya," tambah Wright.


Mengubah Arah Pertandingan

Pemain Republik Ceko, Ladislav Krejci, merayakan gol perdananya ketika melawan Korea Selatan pada pertandingan pertama di PIala Dunia 2026 di Estadio Guadalajara, Meksiko, Jumat (12/6/2026) pagi WIB. (AFP/Ulises Ruiz)

Debutan di Piala Dunia 2026, Curacao, sempat berada dalam situasi mengesankan setelah menyamakan kedudukan menjadi 1-1 melawan Jerman sesaat sebelum jeda minum babak pertama di NRG Stadium, Houston.

Namun, negara terkecil yang pernah tampil di Piala Dunia itu berubah total setelah pertandingan dilanjutkan. Jerman memanfaatkan jeda tersebut untuk mengatur ulang permainan dan akhirnya menang telak 7-1.

Hal serupa dialami Ceko. Mereka tampil dominan pada babak pertama melawan Korea Selatan.

Akan tetapi, jeda hidrasi menghentikan tekanan yang sedang mereka bangun. Setelah permainan dimulai kembali, momentum mereka hilang. Meski sempat unggul, mereka akhirnya kalah 2-1.

Hal yang sama juga berlaku di laga Belanda kontra Jepang pada Grup F. Sempat unggul 2-1 sebelum memasuki jeda hidrasi pada babak kedua, mereka akhirnya gagal mempertahankan keunggulan dan laga berakhir imbang 2-2.

 

Sumber: Reuters, BBC

Berita Terkait