Kesalahan Fatal 4 Mantan Manajer MU yang Wajib Dihindari Michael Carrick, Termasuk Transfer Ngawur ala Erik Ten Hag

Selain melanjutkan tren positif Manchester United, Carrick juga diwanti-wanti untuk tidak mengulangi kesalahan empat pendahulunya.

Bola.com, Jakarta - Michael Carrick akan memulai kiprahnya sebagai manajer permanen Manchester United pada musim 2026/2027. Banyak yang meragukan kinerja Carrick karena sebelumnya banyak manajer lain yang gagal total di Old Trafford. 

Sejak Sir Alex Ferguson pensiun pada 2013, MU paceklik gelar Liga Inggris sampai sekarang. Tak heran, fans MU banyak berharap Carrick bisa mengakhiri puasa gelar itu. 

Legenda lini tengah Setan Merah itu langsung memberikan dampak besar di awal kepemimpinannya. Carrick membuka masa kepelatihannya dengan kemenangan penting atas rival kuat seperti Manchester City dan Arsenal.

Performa impresif tersebut membuat petinggi klub yakin bahwa Carrick adalah sosok yang tepat untuk memimpin Manchester United dalam jangka panjang, terlebih setelah ia berhasil mengamankan tiket Liga Champions musim depan.

Selain melanjutkan tren positif Setan Merah, Carrick juga diwanti-wanti untuk tidak mengulangi kesalahan empat pendahulunya.  

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

1. Berjudi di Bursa Transfer Besar seperti Erik Ten Hag

Erik ten Hag membuat sejumlah keputusan transfer besar saat menangani Manchester United, namun banyak di antaranya justru berujung gagal. Transfer Antony dengan nilai lebih dari 80 juta poundsterling menjadi salah satu pembelian paling mengecewakan dalam sejarah Premier League.

Tak hanya itu, Ten Hag juga melepas David de Gea dan menggantikannya dengan Andre Onana. Namun, kiper asal Kamerun tersebut justru beberapa kali melakukan kesalahan fatal dan akhirnya juga meninggalkan klub.

Saat membutuhkan striker tajam, Ten Hag memilih merekrut Rasmus Hojlund yang masih dianggap proyek jangka panjang. Sayangnya, keputusan itu tidak memberi dampak instan bagi MU, bahkan penyerang asal Denmark tersebut kini disebut-sebut berpeluang hengkang dari Old Trafford. 

2. Terlalu Keras Kepala seperti Ruben Amorim

Ruben Amorim datang ke Manchester United dengan membawa sistem 3-4-3 yang sukses besar saat menangani Sporting CP. Namun, skema tersebut membutuhkan pemain dengan karakteristik khusus yang tidak dimiliki skuad United saat itu.

Meski performa tim terus menurun, Amorim tetap bersikeras mempertahankan filosofinya. Ia bahkan pernah menyatakan lebih memilih dipecat daripada harus mengubah gaya bermain yang diyakininya.

Sikap terlalu keras kepala itulah yang akhirnya dianggap menjadi salah satu penyebab utama kegagalannya di Old Trafford. Sistem yang tidak berjalan efektif terus dipaksakan hingga akhirnya kariernya di Manchester berakhir lebih cepat.

3. Gagal Membangun Identitas Permainan seperti Ole Gunnar Solskjaer

Ole Gunnar Solskjaer sempat membawa harapan baru bagi Manchester United, tetapi dinilai gagal membangun identitas permainan yang jelas selama hampir tiga tahun menangani tim.

Banyak pihak menilai MU di bawah Solskjaer tidak memiliki gaya bermain yang konsisten. Tim lebih sering mengandalkan serangan balik dan kesulitan menghadapi lawan yang bermain bertahan atau menguasai permainan.

Meski dikenal dengan sejumlah comeback dramatis, performa seperti itu dianggap tidak sehat untuk jangka panjang. Ketika hasil buruk mulai datang, permainan United langsung kehilangan arah dan situasi pun memburuk dengan cepat. 

4. Terlalu Sering Konflik Internal seperti Mourinho

Jose Mourinho dikenal sebagai sosok berkarakter kuat dan penuh konfrontasi, namun pendekatan itu justru menjadi salah satu masalahnya saat menangani Manchester United.

Mourinho beberapa kali terlibat konflik dengan pemainnya sendiri, termasuk Luke Shaw dan Paul Pogba. Perselisihannya dengan Pogba bahkan sempat terekam kamera sebelum sesi latihan dan menjadi sorotan besar media.

Selain itu, komentarnya soal “football heritage” setelah kekalahan di kompetisi Eropa juga menuai kontroversi. Pernyataan tersebut dinilai meremehkan sejarah besar United di Liga Champions dan membuat hubungan Mourinho dengan fans, pemain, hingga petinggi klub semakin renggang.

Sumber: Mirror  

Trilogi Sepak Bola Putri
Trilogi Sepak Bola Putri
Lihat Selengkapnya

Video Populer

Foto Populer