Bola.com, Jakarta - Timnas Jerman mendapat sorotan tajam setelah tersingkir dari Piala Dunia 2026 lewat adu penalti melawan Paraguay, Selasa kemarin WIB.
Hasil itu memperpanjang kekecewaan mereka setelah kembali gagal melaju jauh di Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun.
Kekalahan tersebut juga mencoreng reputasi Jerman sebagai satu di antara tim dengan rekor adu penalti terbaik.
Ya, kekalahan tersebut menjadi yang pertama bagi Die Mannschaft dalam adu penalti di ajang Piala Dunia, sekaligus memunculkan laporan bahwa empat pemain menolak menjadi eksekutor.
Sebelum laga melawan Paraguay, mereka selalu memenangkan enam adu penalti beruntun di turnamen besar dan terakhir kali kalah terjadi pada final Piala Eropa 1976 saat menghadapi Cekoslowakia.
Menurut Bild, Jonathan Tah menjadi penendang keenam Jerman, meski belum pernah mengambil penalti di level profesional. Ia disebut maju setelah empat rekan setimnya enggan memikul tanggung jawab.
Keempat pemain tersebut adalah Leon Goretzka, Waldemar Anton, Nathaniel Brown, dan Malick Thiaw.
Penalti Gagal
Goretzka menjadi yang nama paling mengejutkan. Gelandang Bayern Munchen itu, yang telah mencatatkan 72 penampilan bersama Timnas Jerman, dikabarkan dua kali diminta kapten Joshua Kimmich untuk menjadi eksekutor. Namun, ia menolak.
Dalam adu penalti tersebut, Paraguay sempat menyia-nyiakan dua kesempatan untuk memastikan kemenangan. Setelah kiper Manuel Neuer menggagalkan eksekusi Fabian Balbuena, peluang kembali terbuka bagi Jerman.
Tah, bek berusia 30 tahun itu kemudian maju sebagai algojo berikutnya. Namun, tendangannya melambung jauh di atas mistar gawang.
Paraguay akhirnya memastikan kemenangan setelah Jose Canale sukses menjalankan tugasnya dan membawa timnya lolos ke babak 16 besar.
Penyerang Jerman, Kai Havertz, menyebut perjalanan timnya di Piala Dunia 2026 sebagai sebuah bencana. Ia juga menjadi satu di antara tiga pemain Jerman yang gagal mengeksekusi penalti pada pertandingan tersebut.
Kritik dari Media
Kegagalan Jerman memicu kritik keras dari berbagai media lokal.
Bild memasang judul utama "The Next German Football Nightmare" di halaman depannya. Sementara itu, kolumnis Marion Horn mengkritik unggahan Kanselir Jerman, Friedrich Merz, yang tetap memberikan dukungan kepada tim.
"Meski tersingkir terasa menyakitkan, pertandingan yang luar biasa, @DFB_Team! Dengan komitmen dan semangat tim yang kalian tunjukkan di Piala Dunia ini, kalian telah membuat negara kami bangga," tulis Merz melalui akun resminya di X.
Horn menyebut unggahan Merz tersebut sebagai sebuah "bencana" dan "menghancurkan".
Ia menilai kekalahan dari Paraguay, performa pemain, sikap tim, hingga pelatih mencerminkan kondisi sepak bola Jerman saat ini. Horn juga menyinggung pernyataan mantan kapten juara Piala Dunia 1990, Lothar Matthaus.
Tidak Bangga
Menurut Horn, jika mengacu pada pernyataan Matthaus, pembahasan mengenai siapa yang boleh membawa ibunya terbang dengan jet pribadi lebih menjadi perhatian di dalam tim dibanding cara menjuarai Piala Dunia.
Horn bahkan menegaskan dirinya tidak bangga atas penampilan Timnas Jerman.
"Saya tidak akan menerima standar kelas dua. Saya tidak bangga. Saya marah. Saya kecewa. Saya geram! Anak-anak kita hanya mengenal Jerman sebagai tim yang kalah," tulisnya.
Nada serupa juga disampaikan kolumnis Die Welt, Ulf Poschardt, melalui artikelnya yang berjudul "Only a Successful Germany Is Worth Living In".
Sementara itu, media sepak bola, Kicker, menyebut hasil tersebut sebagai "dakwaan yang memberatkan bagi sepak bola Jerman dan Julian Nagelsmann".
Sumber: Metro