Bola.com, Jakarta - Pelatih Timnas Tanjung Verde, Bubista, bangga dengan skuadnya setelah memberikan perlawanan sengit hingga akhir pertandingan melawan juara bertahan, Argentina, sebelum akhirnya kalah dalam laga babak 32 besar Piala Dunia 2026.
Tanjung Verde membuat Argentina susah payah lolos ke babak 16 besar. Mereka memaksa Albiceleste berjibaku 120 menit untuk memenangi duel sengit di Miami Stadium, Sabtu (4-7/-2026) pagi WIB.
Dua kali Tanjung Verde mengejar gol Argentina lewat Deroy Duarte dan Lopes Cabral. Adapun gol Argentina masing-masing dicetak Lionel Messi, Lisandro Martinez, dan gol bunuh diri pemain Tanjung Verde, Diney Borges.
Kendati gagal melaju ke 16 besar, banyak kalangan mengapresiasi perjuangan dan kerja keras Tanjung Verde.
Sebelum kalah dramatis dari Argentina, tim Hiu Biru punya rapor tak terkalahkan selama fase grup, yakni melawan Spanyol, Uruguay, dan Arab Saudi.
Sedih dan Kecewa
Hati Bubista campur aduk melihat perjuangan yang ditunjukkan anak buahnya, sejak babak penyisihan grup hingga pertempuran sengit melawan sang juara bertahan.
Ia menilai reaksi para pemainnya, yang sebagian besar tidak bermain di liga-liga elite dunia, menunjukkan betapa jauh perkembangan yang telah mereka capai.
"Suasana di ruang ganti terasa sedih. Tentu saja kami sedih. Kami sedih karena harus tersingkir dari kompetisi ini dan karena kami sudah sangat, sangat dekat dengan kemenangan," kata Bubista dikutip dari The Star.
"Pemain berpelukan dan menangis. Ini adalah bagian dari proses pendewasaan. Hal ini membantu kami berkembang, sekaligus menunjukkan bahwa tim ini memiliki jiwa," lanjut pelatih berusia 56 tahun tersebut.
Membanggakan
Bubista juga mengatakan bahwa keberhasilan Tanjung Verde mengimbangi permainan tim hebat seperti Argentina selama 120 menit merupakan sumber kebanggaan yang luar biasa.
"Saya bangga pada para pemain saya dan apa yang telah mereka lakukan. Mereka bermain dengan penuh martabat dan keberanian," ucapnya.
"Argentina telah membuktikan mengapa mereka adalah juara dunia. Tidak ada tim lain yang mampu mencetak dua gol ke gawang Argentina dan membawa pertandingan hingga ke babak perpanjangan waktu. Saya rasa hal itu menunjukkan karakter serta kualitas kemampuan tim kami."
"Mereka melakukannya dengan keberanian, dan kami tidak pernah kehilangan jati diri kami," tegas Bubista.
Tentang Jati Diri
Sepanjang tPiala Dunia 202, pelatih dengan nama asli Pedro Leitao Brito itu menegaskan bahwa kiprah perdana Tanjung Verde di Piala Dunia bukan sekadar soal sepak bola, melainkan juga tentang semangat negara kepulauan tersebut.
"Lebih dari sekadar bermain, ini adalah tentang menunjukkan jati diri kami kepada dunia. Kami adalah tim dengan tekad untuk bermain dan bertanding melawan tim-tim terbaik dunia," ujar bubista.
"Kami bermain secara sportif dan mampu mengimbangi permainan lawan. Semua pihak patut mengapresiasi para pemain atas penampilan mereka di turnamen ini karena mereka telah menunjukkan jati diri negara kecil kami," katanya lagi.
Sumber: The Star