Jude Bellingham Menapaki Jalur Kejayaan di Piala Dunia 2026, Lionel Messi Jadi Ujian Berikutnya

Jude Bellingham menjadi sosok yang memikul harapan tinggi ketika Timnas Inggris memastikan langkah ke semifinal Piala Dunia 2026.

BolaCom | Yus Mei SawitriDiterbitkan 13 Juli 2026, 11:30 WIB
Bintang Timnas Inggris, Jude Bellingham, merayakan gol penyeimbang ke gawang Norwegia pada perempat final Piala Dunia 2026 di Miami Stadium, Miami Gardens, Minggu (12/67/2026) pagi WIB. (AFP/Patricia de Melo Moreira)

Bola.com, Jakarta - Jude Bellingham menjadi sosok yang memikul harapan tinggi ketika Timnas Inggris memastikan langkah ke semifinal Piala Dunia 2026. Dia digadang-gadang menjadi sosok yang bisa mengantar The Three Lions kembali mengangkat trofi Piala Dunia yang sudah dinanti selama 60 tahun. 

Gelandang berusia 23 tahun itu menjadi motor utama langkah Inggris menuju semifinal Piala Dunia 2026. Setelah tampil luar biasa di dataran tinggi Mexico City, Bellingham kembali menjadi pembeda di tengah panas dan kelembapan ekstrem Miami dengan dua gol yang mengantar The Three Lions menyingkirkan Norwegia dengan skor 2-1, Minggu (12/7/2026).

Advertisement

Perjalanan Inggris memang belum selesai. Di depan mata sudah menanti juara bertahan Argentina yang dipimpin Lionel Messi. Jika mampu melewatinya, Prancis atau Spanyol kemungkinan menjadi lawan terakhir di partai final.

Namun, terkadang Piala Dunia memang memiliki caranya sendiri untuk melahirkan seorang tokoh utama. Dan sejauh ini, Bellingham terlihat sedang menulis kisahnya.

Menyamai Jejak Para LegendaTentu terlalu dini menempatkan nama Bellingham sejajar dengan Pele atau Maradona. Warisan kedua legenda itu masih terlalu besar untuk dibandingkan.

Namun, statistik mulai berbicara. Bellingham menjadi pemain pertama yang mencetak sedikitnya dua gol dalam dua laga beruntun di fase gugur Piala Dunia sejak Maradona melakukannya pada edisi 1986.

Bahkan, di usia 23 tahun, ia menjadi pemain termuda kedua yang mencatatkan prestasi tersebut setelah Pele, yang melakukannya saat baru berusia 17 tahun ketika membawa Brasil menjadi juara dunia pada 1958.

Nomor 10 di punggungnya pun terasa semakin bermakna. Nomor yang identik dengan para maestro kini dikenakan Bellingham dalam balutan seragam putih Inggris.

Kontribusinya saat menghadapi Norwegia juga tidak hanya terlihat dari dua gol yang dicetak. Ia melepaskan lima tembakan, terbanyak di antara seluruh pemain Inggris. Ia juga mencatat enam sentuhan di kotak penalti lawan, memenangi delapan duel, serta menjadi pemain yang paling sering dilanggar dengan empat pelanggaran.

Semua angka itu menunjukkan satu hal: hampir seluruh permainan Inggris berputar di sekelilingnya.

 


Muncul di Momen Menentukan

Pemain Inggris Jude Bellingham merayakan gol pembuka timnya melawan Norwegia selama pertandingan perempat final Piala Dunia sepak bola di Miami Gardens, Florida, Sabtu, 11 Juli 2026. (AP Photo/Julio Cortez)

Seperti dikutip dari BBC, Senin (13/7/2026), Bellingham memang memiliki kebiasaan muncul di momen-momen paling menentukan.

Publik Inggris tentu masih mengingat selebrasinya di Euro 2024. Saat itu, tendangan salto spektakulernya pada menit ke-94 menyelamatkan Inggris dari kekalahan melawan Slovakia. Setelah mencetak gol, ia menoleh ke arah suporter sambil melontarkan kalimat singkat yang hingga kini masih dikenang. "Siapa lagi?"

Kalimat sederhana yang mencerminkan rasa percaya diri seorang pemain yang tahu dirinya mampu mengubah pertandingan.

Di Piala Dunia 2026, kebiasaan itu kembali berulang. Dua gol ke gawang Meksiko pada fase gugur disusul dua gol lainnya saat menumbangkan Norwegia menjadi bukti bahwa Bellingham selalu hadir ketika tekanan mencapai titik tertinggi.

Dari 12 gol yang telah ia cetak bersama Timnas Inggris, sembilan di antaranya lahir pada turnamen besar. Lima gol membawa The Three Lions unggul, sementara dua lainnya menjadi gol penyama kedudukan.

Hanya Gary Lineker yang pernah mencetak lebih banyak gol non-penalti dalam satu edisi Piala Dunia untuk Inggris, yakni enam gol pada 1986. Bellingham kini berpeluang menyamai bahkan melampaui rekor tersebut.

 

 


Perjalanan Tak Selalu Mulus

Pemain Inggris Harry Kane, kiri, Jude Bellingham, tengah, dan Morgan Rogers merayakan kemenangan atas Norwegia dalam laga perempat final Piala Dunia 2026 di Miami Gardens, Florida, Sabtu, 11 Juli 2026. (AP Photo/Julio Cortez)

Perjalanan Bellingham menuju titik ini tidak selalu mulus. Setelah membawa Inggris mencapai final Euro 2024, ia sempat diganggu cedera bahu dan hamstring saat membela Real Madrid.

Bahkan, menjelang Piala Dunia muncul perdebatan mengenai apakah Thomas Tuchel sebaiknya menurunkannya sebagai starter. Morgan Rogers, sahabat masa kecilnya, tampil sangat impresif dan sempat dianggap layak menggeser posisinya.

Tuchel membiarkan persaingan sehat itu berlangsung. Namun, ketika Piala Dunia memasuki fase-fase paling menentukan, pengalaman dan kualitas kelas dunia Bellingham tetap menjadi pilihan utama.

Kepercayaan itu dibayar lunas. Bellingham menjawab semua keraguan dengan performa yang terus meningkat dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya.

 

 

 


Ujian Terbesar Menanti

Pemain Argentina Lionel Messi berselebrasi setelah mencetak gol kedua timnya dalam laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Argentina vs Mesir di Atlanta, Selasa, 7 Juli 2026. (AP Photo/Colin Hubbard)

Kini ujian terbesar menanti. Di semifinal, Inggris akan menghadapi Argentina yang masih dipimpin Lionel Messi.

Meski telah berusia 39 tahun, Messi tetap menjadi inspirasi utama Albiceleste. Delapan gol yang sudah dicetaknya di Piala Dunia 2026 membuktikan bahwa magis sang kapten belum memudar.

Di sisi lain, Inggris merasa memiliki sosok yang mampu mengimbangi pengaruh Messi. Bellingham kini bukan sekadar gelandang berbakat. Ia telah menjadi pembeda, pemain yang sanggup mengubah arah pertandingan hanya dalam satu momen.

Duel di Atlanta nanti bukan sekadar mempertemukan Inggris dan Argentina. Pertandingan itu juga akan menjadi pertarungan dua pemilik nomor 10 dari dua generasi berbeda.

Messi datang membawa pengalaman, warisan, dan impian mempertahankan gelar juara dunia.

Sementara Bellingham membawa energi baru, ambisi besar, dan harapan jutaan pendukung Inggris yang telah menunggu selama 60 tahun sejak Bobby Moore mengangkat trofi Jules Rimet pada 1966.

Untuk benar-benar disebut sebagai legenda, Bellingham masih harus melewati rintangan terbesar: membawa Inggris mengakhiri penantian panjang yang telah berlangsung enam dekade.

Namun, melihat performanya sejauh ini, sulit untuk mengabaikan satu kemungkinan. Mungkin saja Piala Dunia 2026 memang sedang menyiapkan panggung bagi lahirnya seorang ikon baru. Laga semifinal Piala Dunia 2026 yang akan menjadi jawabannya. 

Sumber: BBC

Berita Terkait