Mengenang El Robo, Skandal Perampokan Piala Dunia 1966 yang Membakar Rivalitas Sengit Inggris Vs Argentina

Bagaimana rivalitas terberat Inggris versus Argentina bermula dari klaim ‘perampokan’ Argentina di Piala Dunia 1966.

BolaCom | Radifa ArsaDiterbitkan 15 Juli 2026, 17:00 WIB
Penyerang Inggris, Geoff Hurst, menyundul bola melewati kiper Argentina, Antonio Roma, untuk mencetak satu-satunya gol dalam pertandingan perempat final mereka pada 23 Juli 1966 di stadion Wembley di London. (STRINGER/AFP)

Bola.com, Jakarta - Duel Timnas Inggris menghadapi Argentina pada partai semifinal Piala Dunia 2026 bakal menghadirkan rivalitas yang sangat sengit.

Persaingan panas ini bersumber pada insiden yang terjadi enam dekade lalu, tepatnya Piala Dunia edisi 1966.

Advertisement

Menurut jadwal, pertemuan Inggris versus Argentina dalam perebutan tiket menuju final Piala Dunia 2026 ini bakal tersaji dalam duel di Atlanta Stadium, Atlanta, Kamis (16-7-2026) pukul 02.00 WIB.

Setiap kali kedua tim ini berhadapan, pertandingannya tidak pernah hanya sekadar tentang sepak bola. Sebab, rivalitas ini mengakar sangat dalam dan turut dibentuk oleh momen-momen yang melintasi batas lapangan hijau.

Perang yang meletus di Falklands, gol ‘Tangan Tuhan’ Diego Maradona yang terkenal pada 1986, serta kartu merah David Beckhamtahun 1998, semuanya telah menambah lapisan ketegangan di antara kedua negara ini.

Namun, bagaimana semua ini bermula?


Awal Mula Perselisihan

Penyerang Argentina, Diego Armando Maradona (ketiga dari kiri), berlari melewati bek Inggris, Terry Butcher (kiri), dalam perjalanannya untuk menggiring bola ke kiper Peter Shilton (kanan) dan mencetak gol keduanya, atau gol abad ini, pada pertandingan perempat final Piala Dunia antara Argentina dan Inggris pada 22 Juni 1986 di Mexico City. Argentina melaju ke semifinal dengan kemenangan 2-1. (Joel ROBINE, Daniel GARCIA, Rodolfo DEL PERCIO/AFP)

Saat berjumpa pada fase penyisihan Piala Dunia 1962, Inggris dengan nyaman mengalahkan Argentina 3-1. Akan tetapi, rivalitas ini sebetulnya baru benar-benar meledak empat tahun kemudian di tanah Inggris.

Bahkan hingga hari ini setelah lebih dari 60 tahun insiden itu berlalu, ada banyak orang di Argentina menyebut pertandingan perempat final Piala Dunia 1966 sebagai El Robo atau "perampokan".

"Di tengah pusaran kontroversi tersebut ada nama Antonio Rattin, kapten legendaris Boca Juniors, yang telah meninggal dunia dalam usia 89 tahun. Rattin diusir keluar lapangan oleh wasit asal Jerman Barat, Rudolf Kreitlein, karena dituduh melakukan pelecehan verbal terhadapnya," tulis ulasan Gulf News.

'Bagian yang aneh adalah, Kreitlein tidak bisa berbahasa Spanyol, sementara Rattin tidak mengerti bahasa Jerman maupun Inggris.

Pada masa itu belum ada kartu kuning atau merah dalam sepak bola. Wasit pun hanya memberikan peringatan dan pengusiran pemain melalui keputusan verbal," lanjut ulasan tersebut.


Sampai Dibantu Penerjemah

Pemain Timnas Inggris, David Beckham, berusaha melewati pemain Rumania pada laga Piala Dunia 1998 di Stadion Toulouse, Prancis. (AFP/Valery Hache)

Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang dikatakan Rattin, atau apakah dia memang mengatakan sesuatu. Kreitlein di kemudian hari mengklaim bahwa perilaku dan raut wajah kapten Argentina itulah yang membuatnya memutuskan untuk mengusirnya.

"Rattin dibuat benar-benar bingung. Dia berulang kali meminta penerjemah dan menolak untuk meninggalkan lapangan karena merasa sangat yakin bahwa dirinya tidak melakukan apa pun yang pantas berujung pengusiran," tulis ulasan itu.

"Dia akhirnya berjalan keluar setelah penundaan yang cukup lama. Lalu, ia duduk dengan nada menantang di atas karpet merah di depan Royal Box, di mana ia dilempari bir dan cokelat batang oleh sebagian penonton," lanjutnya.

Aksi-aksi luar biasa tersebut menyingkap masalah komunikasi dalam sepak bola dan secara langsung menginspirasi mantan wasit, Ken Aston, untuk menciptakan sistem kartu kuning dan merah, yang kemudian diperkenalkan oleh FIFA pada Piala Dunia 1970.


Inggris Raih Juara

Ratu Elizabeth dari Inggris menyerahkan Piala Jules Rimet kepada Bobby Moore, kapten Timnas Inggris, sementara suaminya, Pangeran Philip (tengah), dan penyerang Geoff Hurst (kanan) menyaksikan setelah Inggris mengalahkan Jerman Barat 4-2 di babak perpanjangan waktu di final Piala Dunia 30 Juli 1966 di stadion Wembley di London. Hurst mencetak tiga gol, dua di antaranya di babak perpanjangan waktu, untuk membantu Inggris memenangkan gelar Dunia pertamanya. (AFP)

Timnas Inggris akhirnya memenangkan pertandingan tersebut dengan skor 1-0 sebelum akhirnya mengangkat satu-satunya trofi Piala Dunia yang pernah diperoleh tim berjuluk The Three Lions ini.

Sementara Argentina pulang dengan keyakinan bahwa mereka telah dirampok. 

60 tahun kemudian, pertandingan yang penuh kontroversi di Wembley tersebut tetap menjadi momen yang benar-benar memulai satu di antara rivalitas paling sengit dalam sepak bola, meski itu adalah babak sejarah yang tidak terlalu sering dibicarakan orang.

 

Sumber: Gulf News

Berita Terkait