Sean Dyche Patahkan Alibi Thomas Tuchel, Jangan Salahkan DNA Timnas Inggris

Thomas Tuchel sebut DNA jadi biang kegagalan Inggris ke final Piala Dunia 2026, eks pelatih Everton tak sepakat.

BolaCom | Vincentius AtmajaDiterbitkan 18 Juli 2026, 16:00 WIB
Pelatih Timnas Inggris asal Jerman, Thomas Tuchel, berbicara dengan penyerangnya #20, Noni Madueke, saat istirahat hidrasi selama pertandingan perempat final turnamen Piala Dunia 2026 antara Norwegia dan Inggris di Stadion Miami di Miami Gardens pada 12 Juli 2026. (PATRICIA DE MELO MOREIRA/AFP)

Bola.com, Jakarta - Mantan pelatih Everton dan Nottingham Forest, Sean Dyche, tidak sependapat dengan pernyataan Thomas Tuchel yang menyebut persoalan penguasaan bola Timnas Inggris berkaitan dengan "DNA sepak bola" negara tersebut.

Komentar itu muncul setelah Inggris tersingkir di semifinal Piala Dunia 2026 usai kalah 1-2 dari Argentina.

Advertisement

Kekalahan tersebut memicu sorotan terhadap pendekatan taktik Tuchel, terutama setelah The Three Lions mengubah permainan menjadi lebih defensif.

Inggris sempat unggul pada babak kedua melalui gol Anthony Gordon. Namun, Argentina membalikkan keadaan lewat dua gol pada menit-menit akhir sehingga memastikan tiket ke final.

Sejak gol Gordon pada menit ke-55 hingga gol kemenangan Lautaro Martinez pada menit ke-92, Inggris hanya mencatatkan 12 persen penguasaan bola, sedangkan Argentina menguasai 88 persen.

Dalam rentang waktu antara menit ke-66:05 hingga 84:42, Inggris bahkan hanya berhasil menyelesaikan dua operan sukses, yakni umpan antara Jordan Pickford dan John Stones.

Seusai pertandingan, Tuchel mengatakan kondisi tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh DNA sepak bola Inggris.

"Mungkin itu bukan bagian dari DNA kami seperti halnya DNA sepak bola Spanyol, Argentina, atau Brasil, yaitu menguasai bola dan mengendalikan pertandingan dengan penguasaan bola," ujar Tuchel.


Dyche Tidak Sepakat

Pelatih kepala Nottingham Forest asal Inggris, Sean Dyche, memberi isyarat di pinggir lapangan selama pertandingan Liga Inggris antara Nottingham Forest dan Manchester City di The City Ground di Nottingham, Inggris tengah, pada 27 Desember 2025. (Ben STANSALL/AFP)

Dalam wawancara di talkSPORT Breakfast, Dyche mengatakan ia tidak sependapat dengan pandangan tersebut. Menurutnya, para pemain Inggris sudah terbiasa bermain dalam tim yang mengutamakan penguasaan bola di Premier League.

"Saya tidak setuju dengan pernyataan itu karena hampir semua pemain ini bermain di Premier League," kata Dyche.

Ia menyebut banyak klub Premier League mampu mencatatkan ratusan operan dalam satu pertandingan sehingga para pemain Inggris seharusnya tidak mengalami kesulitan menjaga penguasaan bola.

Selain itu, Dyche menilai Tuchel sudah memiliki waktu sekitar 18 bulan untuk memperbaiki aspek tersebut apabila memang dianggap sebagai kelemahan tim.

"Satu hal yang ingin saya katakan, dia sudah menangani tim sekitar 18 bulan. Jadi, kalau itu memang masalah yang sudah dia sadari, tentu menjadi tanggung jawab pelatih dan staf kepelatihannya untuk memperbaikinya," ujar Dyche.

Kendati mengakui Tuchel hanya menyebutnya sebagai kemungkinan, Dyche tetap menilai alasan tersebut kurang tepat.

"Para pemain sekarang sudah dibina sejak usia sekitar tujuh tahun dengan filosofi bahwa penguasaan bola adalah hal utama. Jadi, saya rasa mereka mampu menguasai bola," katanya.


Tanggung Jawab Tim Pelatih

Pemain Argentina Leandro Paredes (5) berebut bola dengan pemain Inggris Jude Bellingham (10) dalam laga semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris vs Argentina di Atlanta, Rabu, 15 Juli 2026. (AP Photo/Jacob Kupferman)

Dyche menegaskan menjaga penguasaan bola merupakan tanggung jawab tim pelatih dan para pemain.

Menurutnya, pendekatan bertahan yang diterapkan Inggris sebenarnya bisa saja dinilai berhasil apabila mampu membawa tim meraih kemenangan.

"Kalau mereka berhasil menang dengan cara itu, mungkin orang akan mengatakan mereka menemukan cara untuk menang," ujarnya.

Namun, karena hasil akhirnya tidak sesuai harapan, keputusan taktik tersebut kini menjadi bahan perdebatan.


Tanda-Tanda Sudah Terlihat

Gelandang Timnas Argentina bernomor punggung 20, Alexis Mac Allister, gelandang Timnas Inggris bernomor punggung 4, Declan Rice, dan bek Argentina bernomor punggung 13, Cristian Romero, berebut bola di samping bek Argentina bernomor punggung 6, Lisandro Martinez, dan kiper Argentina bernomor punggung 23, Emiliano Martinez, selama pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Argentina di Stadion Atlanta, Atlanta, pada 16 Juli 2026. (Thomas COEX/AFP)

Dyche juga menilai tanda-tanda masalah Inggris sebenarnya sudah terlihat sebelum laga melawan Argentina.

Ia menyinggung perjalanan Inggris di fase gugur yang tidak selalu berjalan mulus. The Three Lions harus bangkit untuk mengalahkan RD Kongo, kemudian meraih kemenangan atas Meksiko setelah tampil bertahan menyusul kartu merah Jarell Quansah pada babak kedua.

Inggris juga lolos dari Norwegia setelah melalui perpanjangan waktu dengan bantuan keputusan VAR yang menguntungkan sebelum akhirnya langkah mereka terhenti di semifinal.

Dyche mengaku sejak awal tidak menganggap performa Inggris tampil sebaik yang banyak dibicarakan.

"Saya tidak pernah merasa kami bermain sehebat yang banyak orang katakan. Memang kami menemukan cara untuk menang, tetapi saya tidak melihat ada perubahan yang benar-benar besar," ucapnya.

 

Sumber: Talksport

Berita Terkait