Bola.com, Jakarta - Piala Dunia 2026 memasuki puncaknya dengan mempertemukan Spanyol versus Argentina di New Jersey Stadium, Senin (20-7-2026) dini hari WIB.
Sebelumnya, Spanyol melenggang ke final dengan mendepak Prancis 2-0 di semifinal, sedangkan Argentina mengeliminasi Inggris lewat kemenangan dramatis 2-1.
Argentina berambisi mempertahankan gelar dan meraih bintang keempat, sementara Spanyol mengejar gelar kedua dalam sejarah mereka di Piala Dunia.
Pertandingan ini menjanjikan duel menarik antara dua tim terbaik, yang sama-sama dibangun dengan strategi tidak jauh berbeda.
Spanyol dan Argentina dikenal sebagai tim dengan mengandalkan penguasaan bola untuk mendominasi permainan, meski kedua tim mencapai hasil tersebut dengan cara yang berbeda.
Perang taktik Spanyol kontra Argentina ini menarik untuk dikupas lebih dalam. Berikut ulasan selengkapnya.
Benteng Pertahanan Matador Jadi Kunci
Spanyol di bawah kendali pelatih Luis de la Fuente sangat mengandalkan Rodri untuk mengatur lini tengah Spanyol bersama Fabian Ruiz. Sementara di area depan, Dani Olmo, Alex Baena, dan Lamine Yamal turut berkontribusi baik dalam membangun serangan maupun saat bertahan.
Pendekatan tersebut terbukti efektif bagi Spanyol sejauh ini, memungkinkan mereka mengendalikan jalannya pertandingan sepenuhnya.
Dengan rata-rata penguasaan bola sebesar 58 persen (menurut data resmi FIFA), mereka menempati peringkat pertama dalam statistik penguasaan bola turnamen, setara Turki.
Pengaturan taktis tersebut juga berfungsi sebagai benteng pertahanan. Lini belakang Spanyol sangat kukuh, strategi ini membantu mereka hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen, yakni saat menang 2-1 atas Belgia di perempat final.
Statistik tersebut membuka peluang bagi Spanyol untuk mencetak sejarah.
Jika mereka berhasil menjadi juara sekaligus menjaga gawang tetap bersih atau clean sheet saat melawan Argentina, mereka akan menjadi tim pertama dalam sejarah Piala Dunia yang memenangkan turnamen dengan hanya kebobolan satu gol sepanjang kompetisi.
Ledakan Serangan Tim Tango
Di sisi lain, cara bermain Argentina dibangun dengan filosofi yang mirip Spanyol, dengan menguasai bola dan mendominasi permainan melalui lini tengah.
Hal ini telah mereka tunjukkan sepanjang turnamen dengan rata-rata penguasaan bola 55 persen, menempatkan mereka di posisi keenam dalam peringkat penguasaan bola di turnamen.
Dalam skema permainannya, pelatih Lionel Scaloni menempatkan Leandro Paredes sebagai gelandang tengah, didampingi oleh Alexis Mac Allister, Enzo Fernandez, dan Rodrigo De Paul.
Mereka membangun permainan dari tengah, tetapi juga bisa bergerak melebar, memberikan Argentina opsi tambahan untuk mempertahankan penguasaan bola di sisi sayap.
Identitas taktis itulah yang membawa mereka melaju hingga ke final, tetapi Argentina punya perbedaan dengan Spanyol. Lini serang Argentina sangat menakutkan, dengan menjadi tim paling produktif di Piala Dunia 2026 dengan 19 gol.
Mentalias pemenang milik Argentina juga tidak diragukan. Mereka dua kali harus melalui babak perpanjangan waktu, saat menang 3-2 atas Tanjung Verde di babak 32 besar dan menang 3-1 atas Swiss di perempat final.
Sementara dalam kemenangan 3-2 atas Mesir di babak 16 besar dan kemenangan 2-1 atas Inggris di semifinal, mereka harus melakukan comeback dramatis di menit-menit akhir untuk memastikan kemenangan.
Akan tetapi, lini pertahanan Argentina rawan jebol, buktinya mereka telah kebobolan tujuh gol, menempatkan mereka di peringkat ke-17 dalam hal jumlah gol yang bersarang di gawang mereka.
Tidak diragukan lagi, duel nanti akan menjadi satu di antara pertandingan yang paling dinantikan.
Selain menjadi pertemuan perdana antara Lionel Messi dan Lamine Yamal, laga ini akan mempertemukan dua tim yang dibangun di atas filosofi sepak bola yang sama dalam upaya mereka memperebutkan gelar.
Sumber: World Soccer Talk