5 Alasan Timnas Inggris Punya Masa Depan Cerah meski Gagal Juara Piala Dunia 2026

Ada hikmah dari kegagalan di Piala Dunia 2026 bagi Timnas Inggris.

Bola.com, Jakarta - Timnas Inggris gagal menggapai juara Piala Dunia 2026, setelah tersingkir di semifinal. Kekalahan dari sang juara bertahan Argentina dengan skor 1-2, membuat tim Tiga Singa kembali puasa gelar juara Piala Dunia sejak terakhir kali di tahun 1966.

Timnas Inggris hampir saja menatap final Piala Dunia 2026 ketika Anthony Gordon menjebol gawang Argentina saat babak kedua berjalan 10 menit dalam duel di Atlanta Stadium, Kamis (16/7/2026).

Sayangnya, Argentina menunjukkan mental juara setelah menyamakan kedudukan lewat gol Enzo Fernandez di menit ke-85, ditambah gol Lautaro Martinez di injury time, untuk membalikkan keadaan.

Inggris kini tinggal menyisakan satu laga terakhir melawan Prancis dalam perebutan peringkat ketiga. Bagi Inggris, kegagalan di Amerika Utara ini menambah penderitaan setelah selalu gagal di final Euro 2020 dan 2024.

Namun ada hikmah dari kegagalan di Piala Dunia 2026 bagi Timnas Inggris. Mereka memiliki tim yang berpotensi semakin kuat di masa mendatang. Simak ulasannya di bawah ini:

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

1. Ketajaman Harry Kane dan Jude Bellingham

Timnas Inggris punya dua pemain yang tampil bersinar di Piala Dunia 2026, yakni Harry Kane dan Jude Bellingham. Kedua pemain sama-sama kandidat Sepatu Emas (Golden Boot) bukanlah pencapaian sembarangan di Piala Dunia.

Tidak mengherankan jika Harry Kane, yang datang ke Piala Dunia 2026 sebagai mesin gol yang sangat diandalkan. Ia mencetak dua gol pada laga pembuka melawan Kroasia, diikuti oleh empat gol tambahan saat Inggris melaju lebih jauh di turnamen ini.

Jude Bellingham mungkin merupakan kandidat yang kurang diunggulkan, mengingat musimnya di Real Madrid relatif tidak terlalu menonjol dibandingkan dua musim sebelumnya, terutama setelah ia baru saja pulih dari operasi bahu.

Namun, Bellingham kini menyamai perolehan enam gol Kane menjelang pertandingan perebutan tempat ketiga. Salah satu dari keduanya masih berpeluang meraih Sepatu Emas jika mereka mampu melampaui atau menyamai total delapan gol yang saat ini dicetak oleh pemimpin klasemen sementara, Kylian Mbappe dan Lionel Messi.

Kedua pemain ini menjadi penyelamat Inggris di saat-saat krusial. Dua gol Kane melawan RD Kongo mencegah tersingkirnya tim secara memalukan di babak 32 besar, sementara dua gol Bellingham melawan Norwegia memastikan langkah mereka ke semifinal.

2. Prestasi Apik dengan Tembus Semifinal

Meskipun tersingkir di tahap akhir Piala Dunia dan Euro (2020 dan 2024), tetap menjadi tanda kemajuan pesat bagi kiprah Inggris di turnamen besar. Sebelum mencapai semifinal Piala Dunia 2018, Inggris tidak pernah melangkah lebih jauh dari perempat final sejak Piala Dunia Italia 1990.

Begitu pula, hingga kekalahan di final Euro 2020 melawan Italia, pencapaian terbaik mereka hanyalah babak perempat final sejak kekalahan di semifinal Euro 1996 melawan Jerman.

Memang, belum ada trofi yang berhasil diraih, namun keberhasilan menembus semifinal atau final dalam empat dari lima turnamen besar terakhir menunjukkan peningkatan performa yang sangat signifikan.

 

3. Tampil Baik dalam Situasi yang Tidak Menguntungkan

Terlepas dari kegagalan melaju ke final, skuad The Three Lions membuktikan diri mampu menghadapi rintangan-rintangan di luar lapangan selama Piala Dunia 2026. Bukan hanya suhu panas yang menjadi masalah; kelembapan udara, sambaran petir, dan hujan juga turut memengaruhi jalannya pertandingan.

Kelembapan udara yang menyesakkan dan suhu yang melonjak tinggi di Miami saat mereka melakoni laga perempat final melawan Norwegia. Serta bermain di ketinggian lokasi Stadion Azteca serta rekor dan tekanan fans melawan tuan rumah Meksiko, bisa diatasi oleh skuad Inggris.

Ketangguhan mental dan fisik para pemainlah yang menjadi kunci keberhasilan mereka bertahan di tengah kondisi berat yang sebenarnya lebih menguntungkan lawan yang terbiasa bermain dalam cuaca ekstrem.

Pengalaman ini bisa menjadi modal berharga bagi mereka saat menghadapi kondisi yang lebih familier di ajang Euro 2028.

 

4. Debutan Tampil Gemilang

Keputusan pemilihan skuad oleh manajer Thomas Tuchel pada bulan Mei sempat memicu tanda tanya, terutama karena ia tidak menyertakan pemain yang selama ini menjadi langganan timnas Inggris di turnamen besar, seperti Harry Maguire.

Selain itu, beberapa bintang muda yang dianggap sudah membuktikan kualitasnya, seperti Cole Palmer serta nama-nama besar yang bermain untuk klub-klub elite dunia, contohnya Trent Alexander-Arnold, juga tidak masuk dalam daftar skuad.

Namun, keputusan untuk memanggil pemain seperti Djed Spence asal klub Tottenham yang nyaris terdegradasi, ternyata membuahkan hasil manis. Spence menjadi salah satu pemain yang mendapat pujian khusus dalam turnamen ini berkat penampilan defensifnya yang solid.

Ia menuai banyak pujian dari penggemar maupun pengamat sepak bola usai kekalahan di semifinal melawan Argentina, terutama karena keberhasilannya melakukan beberapa tekel krusial saat Inggris berupaya membendung gelombang serangan lawan.

Bek mungkin jarang mendapatkan pujian setinggi langit seperti halnya para kandidat peraih Sepatu Emas. Namun, jika Inggris ingin kembali menjuarai turnamen, mereka membutuhkan pemain seperti Spence selain para bintang utama untuk memperdalam kualitas skuad.

5. Punya Generasi Emas

Salah satu kritik terbesar terhadap skuad Inggris saat ini adalah ketergantungan pada pemain individu seperti Harry Kane; mengingat usianya yang sudah 32 tahun, ia tidak akan lama lagi bisa diandalkan untuk menyelamatkan tim dari situasi sulit seperti saat mereka menghadapi RD Kongo.

Dengan kemungkinan pensiunnya sejumlah pemain veteran dari kancah internasional dalam waktu dekat, hilangnya pengalaman mereka dalam turnamen bisa menjadi kerugian besar bagi skuad.

Namun, melimpahnya talenta muda yang dimiliki Tuchel juga bisa dipandang sebagai peluang menarik untuk melakukan pembangunan ulang tim. Inggris masih punya sederet pemain yang masuk generasi emas seperti Jude Bellingham, Elliot Anderson, Jarell Quansah, Morgan Rogers, dan James Trafford.

Ditambah pemain yang lebih muda dan penuh seperti Rio Ngumoha, Max Dowman. Inggris bersiap menatap babak baru berikutnya, dimulai dengan Nations League yang dimulai pada 24 September mendatang, serta Euro 2028 yang digelar di rumah sendiri bersama Skotlandia, Wales, dan Republik Irlandia.

Sumber: BBC

Video Populer

Foto Populer