Banyak Kontroversi, Gianni Infantino Dapat Dukungan Lebih dari 200 Anggota untuk Kembali Nyapres FIFA

Presiden FIFA, Gianni Infantino, tetap mendapatkan dukungan masih untuk kembali terpilih, meski banyak kontroversi.

BolaCom | Radifa ArsaDiterbitkan 18 Juli 2026, 21:00 WIB
Berdiri di samping Trofi Piala Dunia, Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyampaikan pidato pada pertemuan musim dingin Konferensi Walikota AS pada 29 Januari 2026 di Washington, DC. Infantino mempromosikan Piala Dunia 2026, yang akan diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, menyoroti potensi manfaatnya bagi kota dan komunitas tuan rumah. (Alex Wong/Getty Images via AFP)

Bola.com, Jakarta - Presiden FIFA, Gianni Infantino, tetap mendapatkan dukungan masih untuk kembali terpilih sebagai orang nomor satu badan pengatur sepak bola dunia tersebut.

Menurut laporan terkini, Gianni Infantino telah mendapatkan dukungan resmi lebih dari 200 anggota FIFA. Dukungan ini tetap mengalir meskipun situasi sedang tidak kondusif akibat skandal seputar pembatalan skorsing pemain Timnas Amerika Serikat, Folarin Balogun.

Advertisement

“Dari laporan yang dihimpun Guardian, hanya tinggal segelintir dari 211 asosiasi anggota FIFA yang belum mengirimkan surat dukungan untuk Infantino. Dengan kondisi ini, ia berada di jalur yang tepat untuk terpilih kembali untuk periode keempat melalui kemenangan mutlak pada kongres bulan Maret mendatang,” tulis The Guardian.

“Sejumlah kecil asosiasi di Eropa termasuk dalam kelompok yang belum memberikan dukungan, dengan Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB) sebagai FA dengan profil tertinggi yang belum menyatakan dukungan resmi,” lanjut laporan tersebut.


Menuju Kongres FIFA

Presiden FIFA, Gianni Infantino. (Bola.com/Dok.FIFA).

Bakal calon presiden harus diajukan paling lambat tanggal 18 November. Menurut rencana, pemilihan presiden ini akan bergulir pada Kongres FIFA yang bakal berlangsung di Rabat, Maroko, pada 18 Maret 2027.

Sebelum tenggat waktu tersebut, surat dukungan masih dapat ditarik kembali atau dialihkan ke kandidat lain. Namun, sampai saat ini, Gianni Infantino masih menjadi satu-satunya calon yang maju dalam pemilihan itu.

“Kendati demikian, beberapa FA merasa tetap mendapat tekanan terus-menerus dari internal FIFA untuk mengonfirmasi kesetiaan mereka. Secara teori, tindakan menekan seperti itu tidak diizinkan di bawah kode etik FIFA,” tulis laporan The Guardian.


Sulit Lengserkan Infantino

Momen itu juga disaksikan Presiden FIFA Gianni Infantino yang turut hadir di pertandingan Iran vs Kosta Rika. (AP Photo/Riza Ozel)

Menurut temuan Guardian, dibutuhkan guncangan politik yang masif untuk bisa melengserkan Gianni Infantino, walaupun ketidakpuasan di antara beberapa anggota masih terus membayangi kepemimpinannya.

Hal tu setelah Donald Trump mengaku melobi FIFA untuk meninjau kembali kartu merah striker Amerika Serikat, Balogun, saat melawan Bosnia dan Herzegovina, sebagian besar keresahan tersebut hanya bergolak di antara FA Eropa dan badan-badan terkait.

“Infantino sebetulnya tidak perlu bergantung pada dukungan Eropa untuk mendapatkan mandat mutlak. Lagi pula, sebagian besar negara di benua tersebut sudah mengonfirmasi dukungan mereka untuk pemilihan kembalinya. Asosiasi Sepak Bola Inggris (English FA) termasuk di antara pihak yang telah mengirimkan surat dukungan mereka jauh-jauh hari sebelum Piala Dunia dimulai,” tulis Guardian.


Ajukan Kandidat Baru

Diskusi mengenai kandidat bentukan Eropa untuk maju melawan Infantino mulai mendapat legitimasi dalam diskusi tertutup selama 10 hari terakhir. Meski begitu, kesepakatan menunjuk satu nama tampaknya masih jauh dari kenyataan.

UEFA telah menyatakan penolakannya terhadap FIFA secara terbuka pada sejumlah isu baru-baru ini. Isu tersebut di antaranya adalah insiden Balogun dan pelarangan wasit asal Somalia, Omar Artan, dari Piala Dunia.

“Namun, belum jelas apakah jajaran pimpinan badan sepak bola Eropa tersebut tergerak untuk memberikan dukungan resmi kepada kandidat penantang dalam pemilihan nanti,” tulis laporan The Guardian.

“Beberapa sumber yang dekat dengan hierarki sepak bola Eropa merasa bahwa seorang kandidat yang setidaknya mampu mengumpulkan 30 atau 40 suara sudah cukup untuk membuka debat publik yang sah mengenai tata kelola dan arah kebijakan FIFA ke depan.”

Sumber: The Guardian

Berita Terkait