Piala Dunia 2026 di Amerika: The Good, The Bad, The Ugly

Banyak cerita terhampar usai gelaran Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat.

BolaCom | Edu KrisnadefaDiterbitkan 27 Juli 2026, 15:24 WIB
Kolom Barry B. Manembu

Bola.com, Jakarta - The party is over. Tepat seminggu yang lalu, Piala Dunia 2026 berakhir. Total 104 pertandingan digelar dalam rentang waktu 39 hari di tiga negara: Amerika Serikat (AS), Meksiko, dan Kanada.

Di AS, rumput-rumput di lapangan sudah dicopot dan diganti dengan artificial grass. Nama-nama asli stadion pun muncul lagi—Los Angeles Stadium balik lagi jadi SoFi Stadium, misalnya.

Advertisement

The Good

Setelah lima pekan lamanya pecinta sepakbola di Amerika, termasuk saya dan keluarga, disuguhi tayangan Prime Time yang nyaris saban hari di stasiun televisi Fox—belum termasuk bejibun konten medsos—saya tergelitik untuk mencoba menjawab pertanyaan sederhana: apakah AS memang betul-betul sukses sebagai tuan rumah Piala Dunia, seperti diklaim yang sang presiden, Donald Trump.

Bahkan, menurut Trump, AS adalah host Piala Dunia tersukses yang empat atau bahkan lima kali lebih hebat ketimbang penyelenggaraan-penyelenggaraan sebelumnya.

Well, saya tidak tahu dari mana Trump mendapatkan informasi empat kali lipat tersebut. Tapi, secara umum—dan ini diakui oleh media internasional— Piala Dunia di AS (juga Kanada-Meksiko) berjalan dengan baik.

Tak bisa dipungkiri inilah Piala Dunia paling akbar, dengan total penonton di stadion-stadion melebihi 6.5 juta, melampaui rekor Piala Dunia 2022 di Qatar—Piala Dunia terakhir di sini (AS 1994) hanya berkisar 3.59 juta penonton stadion.

Layar videotron raksasa menampilkan rekor kehadiran 3.605.357 penonton selama Piala Dunia 2026 saat laga Ekuador melawan Jerman di MetLife Stadium, New York New Jersey, AS, Kamis (25/6/2026). Pencapaian tersebut diumumkan FIFA di tengah antusiasme puluhan ribu suporter yang memadati stadion. (KLY Sports/Hery Kurniawan)

Cukup banyak orang Amrik yang biasanya tak begitu mengikuti soccer jadi ikut-ikutan nonton di TV dan mulai mengapresiasi kompleksitas sepakbola.

Ayah tiri saya, misalnya, yang bule Amerika asli. Dia biasanya hanya nonton American Football, basketball dan baseball. Tapi gara-gara Piala Dunia barusan, terlebih setelah berjumpa ratusan fans Argentina di Pantai Santa Monica, Los Angeles dan langsung takjub dengan atribut, lagu-lagu, yel-yel mereka—dia sekarang mulai demen.

Intinya, banyak pengamat yang terkejut dengan kesuksesan Piala Dunia di Negeri Paman Sam. Apalagi reputasi AS di bawah Trump lagi melorot—bahkan sempat ada yang mengajak boikot ataupun skeptikal sebelum menginjakkan kaki ke sini.

Ternyata, banyak yang kemudian terkagum-kagum dengan atmosfer, budaya lokal, dan pengalaman unik sebagai fans mancanegara.

Namun, bukan berarti, gara-gara Piala Dunia, soccer kini menjadi olahraga terpopuler di AS mengalahkan American Football, basketball, dan baseball. Saya kira masih jauh perjalanan ke sana. Bahkan banyak pengamat yang pesimistis dan berkomentar bahwa sulit atau malah mustahil itu terjadi.

Pastinya, buat orang AS yang memang  penggemar sepakbola, turnamen kemarin jauh melampaui ekspektasi bukan cuma dari sisi penyelenggara, tapi juga dari prestasi Timnas AS sendiri (US Mens National Team/USMNT) yang cukup gemilang di bawah arahan pelatih Mauricio Pochettino.

Stadion-stadion yang padat, partai-partai bermutu, atmosfer fans semarak, TV rating tinggi merupakan bukti sukses. Bahkan ada fakta mengejutkan berdasar riset bahwa kurang lebih 44% warga AS nonton setidaknya satu pertandingan di TV.

Pemain Timnas Amerika Serikat merayakan gol yang dicetak Alex Freeman (16), dalam laga kontra Australia pada pertandingan kedua Grup D Piala Dunia 2026 di Seattle, Sabtu (20/6/2026) dini hari WIB. (AP Photo/Manu Fernandez)

Ini dipicu oleh, antara lain, bagusnya penampilan USMNT hingga babak ke-16, jadwal tayang yang rata-rata Prime Time (sesudah pulang kantor), sosmed yang viral.

Apakah orang Amerika sekarang jatuh cinta dengan sepakbola? Buat sebagian, bisa saja. Tapi, tidak semua. Buat yang fans-fans baru, belum tentu mereka akan benar-benar kecantol. Ini mungkin saja seperti cinlok / cinta lokal yang hanya temporary.

Komparasi paling simple adalah Olimpiade, yang juga ajang empat tahunan. Biasanya kalo menonton Olimpiade, jutaan warga Amerika tiba-tiba menjadi fans senam, renang, dan atletik. Tapi, begitu kompetisi NFL, NBA, dll bergulir, biasanya orang Amrik akan kembali lagi ke selera asal.

Mungkin perbedaan terbesar adalah animo warga AS terhadap soccer yang dari tahun ke tahun makin tinggi, terlepas dari ada Piala Dunia atau tidak. Soccer memiliki long-term growth, dan juga pathway via MLS/Major League Soccer dengan kehadiran Messi, Lewandowski dll.

Tiap tahun klub-klub Eropa singgah di sini untuk pre-season, belum lagi dengan adanya fans festival rutin, 3-4 kali per musim, oleh stasiun NBC pemegang hak siar Premier League di AS.

Tahun lalu bahkan ada inagurasi FIFA Club World Cup. Di sisi lain, akses menonton tayangan langsung Premier League, La Liga dan lain makin terbuka. Jadi, hopefully, dengan Piala Dunia barusan perkembangan sepakbola di AS makin maju. Mungkin bukan revolusi, tapi setidaknya ada akselerasi.


The Bad

Seleberasi Charles de Ketelaere saat Belgia melawan Amerika Serikat di 16 besar Piala Dunia 2026 (AFP)

So far, saya baru menyinggung “the good”. Sekarang beralih ke “the bad”. Tak ada gading yang tak retak dan kelemahan pasti selalu ada.

Yang paling kasat mata diantara lain: tiket yang super mahal (laga AS vs Belgia di Seattle tiket termurah sekitar $4,000-an), akses ke stadion yang tidak ideal (kebanyakan venues cuman bisa diakses dengan mobil pribadi dengan tarif parkir yang naik berlipat ganda).

Fans sepakbola sejati mengeluh dengan adanya praktek komersialisasi  seperti hydration break (buat slot iklan), half-time show ala Super Bowl nya American Football, dll.

The Ugly

Nah, sekarang mari bicara sisi buruk. Tentu, momen paling kontroversial adalah intervensi Trump untuk membatalkan kartu merah Folarin Balogun. Terlepas dari apakah sang striker layak dikartumerahkan atau tidak, isu ini menjadi sorotan utama karena sekarang muncul preseden bahwa ternyata tuan rumah bisa mempengaruhi proses disciplinary FIFA.

Trump secara terbuka mengkonfirmasi bahwa ia menghubungi FIFA terkait skorsing Balogun. FIFA kemudian menagguhkan hukuman yang membuat Balogun bisa dipasang melawan Belgia, meskipun kartu merah itu sendiri tidak secara resmi dihapuskan. Absennya proses banding yang lazim dan transparan membuat keputusan tersebut berdampak politis.

Apakah kasus itu mencoreng turnamen tersebut? Sepertinya, itu lebih mencoreng kredibilitas FIFA, daripada mengurangi kenikmatan masyarakan Amerika dalam menyaksikan Piala Dunia.  

Anyway, kehadiran Balogun seperti tidak berpengaruh, dan bahkan menjadi boomerang, bagi USMN yang kita tau bersama justru melempem pas melawan Belgia.

Striker Timnas Amerika Serikat di Piala Dunia 2026, Folarin Balogun. (Bola.com/Dok.JAMIE SQUIRE / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP).

Sisi buruk kedua, bagi saya, adalah terlalu banyak nuansa politik. “Ini sepakbola, Bung!” Pasti ini uneg-uneg fans tulen seperti saya kepada pemerintah AS, khususnya Trump.

Tapi, sayangnya, ada saja perkara politik yang bikin runyam. Mulai dari usulan Trump supaya Timnas Iran diganti saja oleh Italia, banyaknya penolakan visa, termasuk wasit resmi dari Somalia, dan lain-lain.  

FIFA sendiri bukannya netral dan membuat system proses visa transparan untuk turnamen, malah seperti masa bodoh dan berkonco dengan Trump.   

Anyways, terlepas dari semua yang saya singgung di atas, pecinta sepakbola di Amrik ingin agar Piala Dunia bisa digelar kembali di sini. Trump sendiri bilang bahwa di kali mendatang Amerika saja yang jadi host, tak perlu digabung dengan Kanada dan Mexico. Saya sih oke-oke saja kalau Piala Dunia balik ke AS lagi.

Tapi, harus ada perbaikan. Ada lima poin yang harus dibenahi supaya Piala Dunia di AS benar-benar bisa diacungi jempol.

1. Ada garansi transparansi dan independensi bagi Komite Disiplin FIFA. Tak boleh lagi ada lobi-lobi dan intervensi pemerintah.

2. Harga tiket harus terjangkau. Sepak bola bukan olahraga kaum berduit saja, dan mestinya harus ada alokasi tiket murah bagi fans.

3. Harga tiket harus termasuk transportasi umum, ataupun parkir. Akses untuk angkutan umum harus ditambah.

4. Jaga ritme pertandingan. Kalaupun ada hydration breaks, itu hanya kalau suhu terlalu panas (optional). Lalu, entertainment di awal atau akhir laga, bukan pertengahan.

5. Kurangi unsur-unsur VIP dan nuansa politik. Pimpinan pemerintahan, ataupun bos-bos yang mewakili sponsor boleh-boleh saja menonton langsung.

Tapi, FIFA harus menghapus kesan bahwa mereka yang jadi prioritas, gantinya suporter biasa. Juga, jangan mendiskriminasi negara-negara yang adalah “musuh” Amerika. Lagipula slogan FIFA kan “Football Unites the World”, bukan begitu, Pak Infantino?

Barry B. Manembu

Penggemar olahraga dan juga mantan sports journalist yang kini bermukim di AS.

Berita Terkait