Bola.com, Jakarta - Presiden FIFA, Gianni Infantino, kembali menghadapi tekanan. Di tengah kontroversi ada rencana investasi swasta dalam pengelolaan Piala Dunia, Infantino kini membantah laporan yang menuduh UEFA pernah memberikan pembayaran kepada seorang perempuan yang disebut memiliki hubungan dengannya saat ia masih menjabat sebagai Sekretaris Jenderal UEFA.
Laporan investigasi The Daily Telegraph menyebut UEFA memberikan pembayaran dalam jumlah enam digit kepada seorang perempuan yang diduga memiliki hubungan dengan Gianni Infantino, yang saat itu telah menikah.
Namun, melalui juru bicaranya, Infantino dengan tegas membantah tuduhan tersebut.
"Presiden FIFA Gianni Infantino dengan tegas menyangkal tuduhan ini, dan tuduhan tersebut sama sekali tidak benar," demikian pernyataan yang dikutip The Telegraph.
Pihak Infantino juga menyebut tidak pernah ada laporan dari karyawan UEFA maupun FIFA mengenai perilaku tidak pantas yang dilakukan oleh Infantino.
"Setiap insinuasi mengenai perilaku tidak pantas atau pelanggaran statuta maupun regulasi merupakan tindakan pencemaran nama baik," lanjut pernyataan tersebut.
UEFA Akui Ada Pembayaran kepada Perempuan Tersebut
UEFA mengonfirmasi bahwa memang terdapat pembayaran kepada perempuan yang dimaksud dalam laporan tersebut. Namun, badan sepak bola Eropa itu membantah adanya pelanggaran aturan.
Menurut UEFA, pembayaran tersebut merupakan bagian dari kompensasi saat perempuan itu meninggalkan organisasi. Dana itu juga mencakup biaya untuk menyelesaikan program MBA di sebuah sekolah bisnis lokal.
UEFA menegaskan seluruh pembayaran dilakukan sesuai regulasi yang berlaku pada saat itu. Namun, aturan mengenai hal itu kini telah diperketat dan disesuaikan dengan standar organisasi modern yang memiliki profil tinggi.
Infantino sendiri bergabung dengan UEFA pada 2000 dan kemudian menjabat sebagai sekretaris jenderal sejak 2009 hingga 2016. Ia terpilih sebagai Presiden FIFA pada 2016.
Tekanan terhadap Infantino Semakin Besar
Munculnya laporan tersebut menjadi persoalan baru bagi Infantino ketika posisinya sebagai Presiden FIFA memang sedang mendapat sorotan tajam.
Sebelumnya, Infantino berada di bawah tekanan setelah rencana kontroversial FIFA untuk menjual sebagian kepemilikan perusahaan yang akan mengelola aspek komersial dan operasional turnamen FIFA kepada investor swasta mendapat penolakan keras.
UEFA bahkan sempat mengancam akan memboikot kompetisi FIFA jika rencana tersebut tidak dibatalkan. Infantino akhirnya meminta maaf atas "kesalahan" yang terjadi dalam proses tersebut.
Namun, ia tetap tidak mengundurkan diri setelah mendapat dukungan dari sejumlah pejabat senior FIFA dalam pertemuan di Maroko.
Dukungan untuk Infantino Masih Terbelah
Krisis tersebut membuat posisi Infantino di FIFA semakin menjadi perhatian. Sejumlah asosiasi sepak bola Eropa telah menarik dukungan terhadap kepemimpinannya, sementara beberapa konfederasi dan federasi nasional masih berada di belakangnya.
Konfederasi sepak bola Amerika Selatan (CONMEBOL) dan Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) termasuk pihak yang masih memberikan dukungan kepada Infantino.
Dukungan juga datang dari federasi sepak bola Meksiko, salah satu tuan rumah Piala Dunia, serta Argentina.
Dengan munculnya tuduhan baru yang langsung dibantah Infantino, perhatian kini kembali tertuju pada masa lalu sang Presiden FIFA di UEFA.
Di tengah tuntutan agar dirinya mundur, Infantino harus menghadapi tekanan politik sekaligus mempertahankan kredibilitas kepemimpinannya di badan sepak bola dunia.
Sumber: BBC