Bola.com, Jakarta - Konflik antara UEFA dan FIFA memasuki babak baru setelah Gianni Infantino tetap bertahan sebagai Presiden FIFA meski mendapat tekanan untuk mengundurkan diri.
Sikap tersebut berpotensi membuat ancaman boikot dari UEFA benar-benar terealisasi dalam beberapa bulan ke depan.
UEFA sebelumnya telah memberikan dua syarat agar ancaman boikot dicabut, yakni rencana penjualan saham kompetisi FIFA kepada investor swasta harus dibatalkan dan jaminan upaya serupa tidak akan dilakukan lagi.
Namun, UEFA menilai kedua tuntutan tersebut belum dipenuhi. Situasi ini membuat sejumlah turnamen FIFA sepanjang musim 2026/27 berada dalam bayang-bayang boikot.
UEFA Tetap Pertahankan Ancaman Boikot
Setelah melakukan pertemuan krisis selama tujuh jam di Maroko, FIFA menyatakan bahwa Infantino masih mendapatkan "dukungan penuh".
Organisasi tersebut juga menegaskan tidak akan lagi menoleransi serangan terhadap integritas, tata kelola, maupun proses hukum FIFA. Namun, pernyataan tersebut tidak membuat UEFA mengubah sikap.
UEFA menegaskan dukungan FIFA kepada Infantino tidak mengubah apa pun terkait ancaman boikot. Mereka menilai dua persyaratan yang sebelumnya diajukan belum terpenuhi.
Perseteruan ini bermula dari rencana kontroversial untuk membuka kepemilikan sejumlah kompetisi FIFA kepada investor swasta.
Rencana tersebut mendapat penolakan keras dan akhirnya ditarik kembali. Kini, UEFA meminta adanya jaminan gagasan serupa tidak akan muncul lagi.
Piala Dunia U-20 Putri Jadi Ujian Pertama
Turnamen FIFA yang berpotensi terkena dampak paling cepat adalah Piala Dunia U-20 Putri 2026 di Polandia. Kompetisi tersebut dijadwalkan berlangsung mulai 5 September 2026.
Jika tidak ada kompromi antara UEFA dan FIFA, turnamen di Polandia bisa menjadi ajang pertama yang terkena dampak ancaman boikot.
Setelah itu, konflik tersebut berpotensi merembet ke sejumlah kompetisi lain. UEFA memiliki banyak anggota yang berpartisipasi dalam turnamen FIFA sehingga keputusan boikot akan menjadi langkah besar dengan konsekuensi luas.
Bahkan, pemain juga mulai menyuarakan dukungan terhadap sikap UEFA. Bek Inggris, Lucy Bronze, sebelumnya menyatakan bahwa jika diperlukan, boikot kompetisi harus dilakukan.
5 Turnamen FIFA yang Terancam
Jika konflik tidak terselesaikan, setidaknya ada lima turnamen FIFA pada musim 2026/27 yang berpotensi menjadi sasaran boikot UEFA.
Turnamen Lokasi Jadwal Piala Dunia U-20 Putri 2026 Polandia September 2026 Piala Dunia U-17 Putri 2026 Maroko Oktober 2026 Piala Dunia U-17 2026 Qatar November–Desember 2026 FIFA Women's Champions Cup Miami, AS Januari 2027 Piala Dunia Putri 2027 Brasil Juni–Juli 2027
Dari kelima turnamen tersebut, Piala Dunia Putri 2027 di Brasil menjadi yang paling besar dan paling berisiko menimbulkan dampak global apabila UEFA benar-benar menjalankan ancamannya.
Turnamen tersebut akan melibatkan tim-tim nasional putri terbaik dunia dan menjadi salah satu agenda terbesar kalender sepak bola internasional.
Dukungan untuk Infantino Terbelah
Meski FIFA berusaha menunjukkan kesatuan setelah pertemuan di Rabat, dukungan terhadap Infantino tidak sepenuhnya solid.
Sejumlah tokoh penting disebut tidak hadir dalam pertemuan tersebut. Salah satunya Arsene Wenger, yang menjabat sebagai kepala pengembangan sepak bola global FIFA.
Wenger sebelumnya mendukung rencana investasi FIFA, tetapi kini memilih tidak menghadiri pertemuan di Maroko.
Sementara di sisi lain, sejumlah federasi anggota UEFA juga dilaporkan telah menarik kembali surat dukungan mereka terhadap pencalonan Infantino untuk periode berikutnya. Asosiasi Sepak Bola Inggris termasuk salah satu yang disebut telah mencabut dukungannya.
Namun, Infantino masih memiliki pendukung kuat. Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) menyatakan dukungan bulat kepada Presiden FIFA tersebut dan menegaskan komitmennya terhadap tata kelola serta transparansi.
Dengan pemilihan Presiden FIFA dijadwalkan pada Maret 2027, perselisihan ini berpotensi berkembang menjadi pertarungan politik sepak bola global.
Jika UEFA dan FIFA gagal menemukan titik temu, ancaman boikot terhadap lima turnamen tersebut bisa menjadi salah satu krisis terbesar dalam sejarah sepak bola internasional modern.
Sumber: Give Me Sport