Red Bull Mulai Menyerah di F1 2026: Mobil RB22 Dianggap Gagal, Masa Depan Max Verstappen Bisa Terancam

Red Bull dikabarkan sudah menyerah pada peluang di Formula 1 2026 meski musim baru berjalan 11 balapan.

BolaCom | Yus Mei SawitriDiterbitkan 11 Agustus 2026, 20:15 WIB
Pembalap Red Bull, Max Verstappen, dari Belanda mengarahkan mobilnya saat kualifikasi jelang Grand Prix F1 di arena pacuan kuda Spa-Francorchamps di Spa, Belgia, Sabtu, 18 Juli 2026. (AP Photo/Omar Havana)

Bola.com, Jakarta - Red Bull dikabarkan sudah menyerah pada peluang di Formula 1 2026 meski musim baru berjalan 11 balapan. Tim asal Milton Keynes itu disebut secara internal telah menerima kenyataan bahwa RB22 yang mereka gunakan musim ini merupakan sebuah kegagalan.

Red Bull belum meraih kemenangan sepanjang musim 2026 dan menempati posisi keempat klasemen konstruktor. Mereka tertinggal lebih dari 200 poin dari Mercedes yang berada di puncak klasemen. Dari 11 balapan yang telah berlangsung, Red Bull baru mengoleksi empat podium dan seluruhnya diraih Max Verstappen.

Advertisement

Situasi tersebut membuat Red Bull mulai menghadapi dilema dalam menentukan arah pengembangan. Berbagai upgrade yang telah diperkenalkan sepanjang musim belum mampu mengatasi persoalan utama RB22. Karena itu, muncul pertimbangan untuk mengalihkan dana dan sumber daya pengembangan ke mobil yang akan digunakan pada musim 2027.

 


Red Bull Kesulitan Menemukan Solusi

Pembalap Red Bull asal Belanda, Max Verstappen, mengemudikan mobilnya selama sesi kualifikasi Grand Prix F1 Monako, di sirkuit Monako, Sabtu, 6 Juni 2026. (AP Photo/Philippe Magoni)

Menurut laporan F1 Insider, Selasa (11/8/2026), Red Bull secara internal mulai menganggap RB22 sebagai proyek yang gagal memenuhi harapan.

Red Bull telah memperkenalkan lebih banyak upgrade dibandingkan konstruktor lain sepanjang musim ini. Namun, berbagai pembaruan tersebut belum mampu menjadi solusi untuk masalah yang dialami RB22.

Max Verstappen juga masih menunjukkan rasa frustrasinya terhadap mobil tersebut. Pembalap asal Belanda itu memang mampu meraih tiga podium dalam empat balapan sebelum jeda musim panas, tetapi performa RB22 belum membuatnya puas.

Pada Grand Prix Hungaria, Verstappen dan Isack Hadjar bahkan sama-sama menyebut mobil Red Bull tersebut sulit dikendalikan.

Departemen teknis Red Bull yang dipimpin Pierre Wache sebelumnya telah menyiapkan sejumlah tahap pengembangan untuk membuat RB22 lebih mudah dikendalikan. Namun, upaya tersebut sejauh ini belum memberikan hasil yang diharapkan.

Namun, masalah utama Red Bull disebut bukan berasal dari unit tenaga, melainkan sasis. Musim 2026 menjadi musim debut mereka menggunakan power unit yang dikembangkan secara internal. Karena itu, Laurent Mekies sejak awal telah menurunkan ekspektasi terhadap peluang tim.

 


Sulit Mengulangi Kebangkitan Musim Lalu

Pembalap Red Bull Racing asal Belanda, Max Verstappen (kanan), berbicara dengan seorang mekanik setelah membawa mobilnya kembali ke garasi karena mundur dari balapan selama Grand Prix F1 Monako di sirkuit jalanan Monako, pada 7 Juni 2026. (Yves Herman/POOL/AFP)

Red Bull sebenarnya masih memiliki alasan untuk berharap jika melihat apa yang terjadi pada musim 2025. Setelah 11 balapan musim ini, mereka hanya tertinggal 15 poin dibandingkan perolehan pada periode yang sama tahun lalu.

Pada musim 2025, Red Bull mampu bangkit melalui serangkaian upgrade agresif. Verstappen sempat tertinggal 104 poin dari pemuncak klasemen, tetapi perlahan memangkas jarak tersebut hingga akhirnya menutup musim hanya dua poin di belakang Lando Norris yang menjadi juara dunia.

Namun, Red Bull menghadapi situasi yang lebih sulit pada musim ini. Verstappen kini tertinggal 110 poin dari Kimi Antonelli yang berada di puncak klasemen.

Dengan jarak tersebut, Red Bull dinilai akan kesulitan mengulangi kebangkitan seperti yang mereka lakukan pada musim lalu.

 


Red Bull Mulai Memikirkan Musim 2027

Red Bull berharap memperoleh akses terhadap ADUO (Additional Developmental and Upgrade Opportunities), sebuah mekanisme yang memungkinkan pabrikan yang tertinggal dari benchmark ICE untuk mengejar ketertinggalan.

Red Bull sebelumnya dianggap sebagai benchmark. Namun, status tersebut kemungkinan akan menjadi milik Mercedes ketika FIA menerbitkan peringkat terkait.

Dengan adanya kesan menyerah terhadap RB22, Red Bull menghadapi pilihan untuk tetap mengalokasikan sumber daya pada mobil 2026 atau mulai memusatkan perhatian pada pengembangan mobil 2027.

Regulasi Formula 1 pada dasarnya masih akan mempertahankan banyak ketentuan yang sama. Namun, sejumlah perubahan tetap dapat memberikan peluang bagi tim yang lebih awal mempersiapkan mobil mereka untuk musim 2027.

Red Bull juga memiliki alasan untuk tetap mengembangkan RB22. Verstappen dapat mengaktifkan klausul pelepasan dalam kontraknya pada Oktober. Karena itu, peningkatan performa mobil pada paruh kedua musim dapat menjadi faktor penting untuk mempertahankan juara dunia empat kali tersebut.

Selain itu, sejumlah kursi di tim rival diperkirakan terbuka pada 2028. Performa mobil Red Bull pada musim depan pun berpotensi menjadi salah satu faktor yang menentukan apakah Verstappen akan tetap bertahan bersama tim.

Sumber: Give Me Sport

Penulis: Fauzi Ananta Dharmawan

Berita Terkait