Jose Mourinho Buka Borok Real Madrid Era Cristiano Ronaldo: Pemain Terlalu Dimanja, Saya Sampai Muak

Real Madrid era Cristiano Ronaldo pernah bikin Jose Mourinho muak.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 14 Agustus 2026, 20:45 WIB
Pelatih Real Madrid asal Portugal, Jose Mourinho (tengah), berbicara dengan para pemainnya saat pertandingan pramusim antara Ferencvaros dan Real Madrid di Budapest, Hungaria, pada 8 Agustus 2026. (Attila KISBENEDEK/AFP)

Bola.com, Jakarta - Jose Mourinho kembali membuka cerita dari periode pertamanya menangani Real Madrid.

Pelatih asal Portugal itu mengaku sempat merasa jenuh dengan para pemain Los Blancos sebelum meninggalkan klub pada 2013.

Advertisement

Mourinho kembali ditunjuk sebagai pelatih Real Madrid pada Juni lalu. Sebelumnya, ia menangani Los Blancos selama tiga musim, 2010 hingga 2013, dan berhasil mempersembahkan gelar La Liga serta Copa del Rey.

Namun, masa kerja Mourinho di Santiago Bernabeu berakhir dengan hubungan yang memburuk. Satu di antara konflik yang paling mencolok terjadi dengan kapten sekaligus legenda klub, Iker Casillas.

Dalam serial dokumenter berjudul sama dengan namanya yang baru dirilis Netflix, Mourinho menceritakan kembali pengalamannya bersama para pemain Real Madrid pada periode tersebut.


Mentalitas Pemain

Saat di Real Madrid, Jose Mourinho bertahan selama tiga musim, mulai 2010/2011 hingga akhir musim 2012/2013. Ia dipecat pada 1 Juni 2013 dengan mendapat pesangon sebesar 17,5 juta pound atau sekitar Rp.356 miliar. (AFP/Dominique Faget)

Mourinho mengingat interaksi awalnya dengan Casillas sebagai satu di antara momen yang membuatnya menilai para pemain Real Madrid mulai terlalu dimanja.

Menurut Mourinho, Casillas sempat menyampaikan sejumlah permintaan kepadanya, dari tambahan waktu libur bagi pemain yang membela tim nasional hingga perubahan jadwal latihan.

"Hal pertama yang dia katakan kepada saya adalah, 'Saya datang untuk meminta tambahan waktu libur bagi para pemain tim nasional,'" kenang Mourinho, dikutip dari SI.

"Pada percakapan kedua, dia meminta saya menunda latihan satu jam karena saat itu lalu lintas di Madrid sangat padat. Pada percakapan ketiga, dia mengatakan mereka tidak ingin pergi ke hotel. Mereka lebih memilih bertemu pada hari pertandingan dan langsung menuju stadion," lanjutnya.

Mourinho kemudian menilai kondisi mental para pemainnya ketika itu sangat buruk.


Makin Panas

Iker Casillas dan Jose Mourinho saat bersama di Real Madrid. (AFP PHOTO / YASSER AL-ZAYYAT)

Hubungannya dengan Casillas makin panas setelah sang kiper menghubungi Xavi.

Komunikasi tersebut dimaksudkan untuk meredakan ketegangan antara pemain Real Madrid dan Barcelona ketika sama-sama bergabung dengan Timnas Spanyol.

Namun, tindakan tersebut tidak diterima Mourinho.

"Ini pertandingan Barcelona melawan Real Madrid. Ketika bersama tim nasional, kalian boleh saling mencium dua kali, tetapi bukan sekarang. Ini perang," ujar Mourinho.

"Ada hal-hal yang tidak bisa saya terima dan tidak akan pernah saya terima. Ketika seseorang tidak menghormati saya, itu menjadi masalah," tambahnya.


Sudah Ingin Pergi

Gaya pelatih Real Madrid Jose Mourinho bermain dengan bola di sela-sela latihan skuad di Santiago Bernabeu, 13 Agustus 2011, menjelang laga Supercup lawan Barcelona. AFP PHOTO / DANI POZO

SI menulis, setelah melalui periode yang penuh tekanan di Real Madrid, Mourinho mengakui bahwa dirinya juga sudah merasa lelah dengan situasi di klub tersebut.

Menurut Mourinho, hubungan antara dirinya dan para pemain telah sama-sama berada di titik jenuh ketika ia akhirnya meninggalkan Real Madrid pada 2013.

"Saya pikir para pemain sudah lelah dengan saya sebagai pemimpin, dan saya juga lelah dengan mereka. Saya juga sudah muak dengan mereka, bukan hanya mereka yang muak dengan saya. Saya sudah muak dengan para pemain dan media," tutur Mourinho.

"Saya ingin pergi. Saya merasa sudah selesai," lanjutnya.


Sempat Sepakat dengan MU

Salah satu ekspresi pelatih Chelsea Jose Mourinho, pada konferensi pers, di Stoke D'Abernon, 31 Juli 2015. (AFP PHOTO / GLYN KIRK)

Mourinho mengungkapkan dirinya sempat berada di jalur untuk menggantikan Sir Alex Ferguson sebagai manajer Manchester United setelah meninggalkan Real Madrid.

Bahkan, Mourinho mengaku telah mencapai kesepakatan dengan MU. Namun, pembicaraan berikutnya dengan Chelsea membuatnya memilih kembali ke Stamford Bridge.

Mourinho menjelaskan bahwa keputusan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan kecintaannya terhadap sepak bola, tetapi juga perasaannya terhadap sebuah klub.

"Satu hal adalah cinta kepada sepak bola, hal lain adalah cinta kepada klub tertentu. Menurut saya, yang kedua lebih kuat daripada cinta kepada sepak bola. Setelah Real Madrid, saya perlu merasa dicintai," ungkapnya.

Kehilangan kesempatan menjadi penerus Ferguson di MU memang disebut Mourinho sebagai sesuatu yang dramatis. Namun, ia tidak menyesali keputusan untuk kembali ke Chelsea.

"Keputusan itu saya buat dengan hati," kata Mourinho.

 

Sumber: SI

Penulis: Fauzi Ananta Dharmawan

Berita Terkait