Kisah Trevoh Chalobah Tinggalkan Chelsea Setelah 20 Tahun: Pernah Jadi Bomb Squad, Kini Buka Lembaran Baru di Como

Trevoh Chalobah menutup kisah panjangnya bersama Chelsea. Hampir 20 tahun membela The Blues, bek asal Inggris itu kini memulai babak baru bersama Como 1907 di Serie A.

BolaCom | Yus Mei SawitriDiterbitkan 18 Agustus 2026, 11:45 WIB
Trevoh Chalobah sering dipinjamkan Chelsea pada musim-musim sebelumnya. Namun, ia mendapatkan kesempatan bermain reguler di bawah asuhan Thomas Tuchel pada musim lalu. Chlobah tercatat mampu membuat 31 penampilan dengan mencetak 4 gol dan 1 assist di semua kompetisi. Menurut 90Min, pria 23 tahun tersebut mendapat bayaran sebesar 12.000 paun per pekan atau sekitar 216 ribu rupiah per pekan. Kontraknya di Stamford Bridge tercatat hingga tahun 2026. (AFP/Glyn Kirk)

Bola.com, Jakarta - Trevoh Chalobah menutup kisah panjangnya bersama Chelsea. Hampir 20 tahun membela The Blues, bek asal Inggris itu kini memulai babak baru bersama Como 1907 di Serie A.

Perjalanan Chalobah bersama Chelsea tidak selalu berjalan mulus. Justru, kariernya di Stamford Bridge dipenuhi berbagai rintangan yang mengajarkannya satu hal penting, yaitu ketangguhan.

Advertisement

Pemain berusia 27 tahun itu harus melewati perjalanan panjang sebelum mewujudkan impiannya bermain untuk tim utama Chelsea.

Saat masih menimba ilmu di akademi Cobham, Chalobah bahkan pernah menangis di dalam mobil karena merasa tidak cukup bagus ketika harus berlatih bersama pemain seperti Mason Mount dan Declan Rice.

Situasi kembali sulit pada 2024. Di bawah asuhan Enzo Maresca, Chalobah sempat tersisih dari latihan tim utama dan masuk dalam kelompok yang disebut "bomb squad". Ia kemudian dimasukkan ke daftar pemain yang bisa dijual dan dipinjamkan ke Crystal Palace.

Namun, seperti yang sudah-sudah, Chalobah mampu bangkit.

Ia kembali menjadi pilihan utama Chelsea hingga akhirnya mencatatkan 151 penampilan untuk The Blues. Pada musim terakhirnya, Chalobah bahkan membukukan jumlah penampilan terbanyak dalam semusim sepanjang kariernya bersama Chelsea, yakni 47 pertandingan.

Kini, setelah meninggalkan klub masa kecilnya dengan biaya transfer mencapai 31 juta poundsterling atau sekitar Rp670 miliar, Chalobah bergabung dengan Como yang dilatih legenda Chelsea, Cesc Fabregas.

 


Janji Selalu Mendukung Chelsea

Trevoh Chalobah merayakan bersama rekan setimnya dalam pertandingan Liga Inggris antara Manchester United dan Chelsea di Stadion Old Trafford, Manchester, Inggris, Sabtu, 20 September 2025. (AP Photo/Dave Thompson)

Chalobah datang ke Como bukan sekadar untuk menambah kedalaman skuad. Ia diharapkan membawa pengalaman, kepemimpinan, dan mentalitas yang telah ditempa selama bertahun-tahun di Chelsea.

Bagi Chalobah, kemampuan untuk selalu bangkit dari situasi sulit merupakan salah satu kekuatan terbesar dalam dirinya.

"Itu salah satu atribut dan kemampuan saya, yakni bangkit dari berbagai hal dan tidak membiarkan apa pun memengaruhi saya," ujar Chalobah saat mengikuti pemusatan latihan pramusim Como di Teddington, London, seperti dikutip dari BBC, Selasa (18/8/2026). 

"Bukan hanya dalam sepak bola, dalam kehidupan juga akan ada berbagai hal yang terkadang berada di luar kendali kita."

Perubahan besar di Chelsea setelah pergantian kepemilikan dari Roman Abramovich ke Todd Boehly dan Clearlake Capital pada 2022 menjadi salah satu periode penuh gejolak yang turut dilewati Chalobah.

Dalam dua tahun pertama era baru tersebut, Chelsea melakukan perombakan besar-besaran skuad dengan mendatangkan banyak pemain sekaligus melepas sejumlah nama.

Namun, Chalobah tidak menyimpan rasa kecewa ketika akhirnya harus meninggalkan Stamford Bridge.

"Saya selalu ingin bermain untuk Chelsea. Apa pun situasinya, saya selalu percaya bahwa saya bisa melakukannya," katanya.

"Saya bersyukur atas setiap kemunduran, setiap tantangan, dan setiap trofi yang saya menangkan. Saya meraih beberapa trofi di sana. Chelsea adalah klub tempat saya berkembang dan belajar banyak hal."

"Masuk sebagai seorang anak dan pergi sebagai seorang pria, saya sangat bahagia dengan karier saya di sana. Saya akan selalu mendukung Chelsea, menyaksikan mereka musim ini, dan mereka akan selalu ada di hati saya."

 

 

 


Efek Thomas Tuchel

Bek Chelsea, Trevoh Chalobah berebut bola dengan pemain West Ham, Arthur Masuaku selama pertandingan lanjutan Liga Inggris di Stamford Bridge di London, Minggu (24/4/2022). Chelsea memenangkan pertandingan atas West Ham 1-0. (AP Photo/Alastair Grant)

Perjalanan Chalobah menuju level tertinggi juga tidak lepas dari peran Thomas Tuchel.

Chalobah sebenarnya sudah memiliki pengalaman bermain di luar Inggris. Ia sempat dipinjamkan Chelsea ke Lorient pada musim 2020/2021.

Di Prancis, ia mengikuti jejak sang kakak, Nathaniel Chalobah, yang sebelumnya juga berkarier di Eropa bersama Napoli. Keputusan tersebut ternyata menjadi salah satu titik penting dalam kariernya.

Chalobah menyebut bukan sebuah kebetulan jika Tuchel kemudian memberikan kesempatan debut kepadanya di Chelsea. Keduanya pernah berhadapan ketika Tuchel masih menangani Paris Saint-Germain dan Chalobah memperkuat Lorient.

Lima tahun setelah debut tersebut, Tuchel kembali memainkan peran penting dalam perjalanan Chalobah.

Ketika menangani Timnas Inggris, Tuchel pernah berjanji akan memanggil Chalobah jika ada bek yang harus mundur dari skuad Piala Dunia.

Janji tersebut benar-benar terwujud. Saat sedang berlibur di New York, Chalobah mendapat telepon untuk bergabung dengan skuad Inggris di Piala Dunia pertamanya. Ia dipanggil menggantikan Tino Livramento yang mengalami cedera.

"Sepertinya cerita ini sudah ditulis sebelum saya lahir," kata Chalobah.

"Dia adalah orang yang memberi saya debut di Chelsea dan dia juga manajer yang memanggil saya ke Piala Dunia pada menit-menit terakhir."

"Saya pikir ada hal-hal tertentu yang memang sudah ditakdirkan terjadi dan saya bersyukur atas itu. Semua berkat dia dan saya sangat bahagia," imbuh pemain berusia 27 tahun tersebut. 

 


Bereuni dengan Cesc Fabregas

Pelatih kepala Como asal Spanyol, Cesc Fabregas, bereaksi dari area teknis selama pertandingan Seri A Italia antara Inter Milan dan Como di Stadion San Siro di Milan pada 23 Desember 2024. (Piero CRUCIATTI/AFP)

Setelah Tuchel, kini giliran Cesc Fabregas yang memiliki kaitan erat dengan perjalanan Chalobah.

Fabregas merupakan salah satu pemain bintang Chelsea ketika Chalobah masih berada di akademi dan sesekali mengikuti latihan bersama tim utama.

Chalobah masih mengingat bagaimana Fabregas menuntut para pemain muda saat itu.

"Saya ingat betapa dia sangat menuntut pemain-pemain muda. Jadi, saya memang mengenalnya dengan sangat baik," ungkapnya.

Kini keduanya kembali bertemu, tetapi dengan peran berbeda. Fabregas menjadi pelatih yang dipercaya membawa Como melesat dari Serie B hingga Liga Champions hanya dalam waktu dua musim.

Ketertarikan Inter Milan sempat muncul, tetapi Chalobah akhirnya memilih Como setelah mendapat penjelasan langsung dari Fabregas mengenai proyek klub tersebut.

"Dia punya peran yang sangat besar. Dia menjelaskan apa yang dia inginkan, bagaimana dia melihat klub ini, bagaimana dia melihat saya bisa cocok di sini, serta bagaimana saya bisa membantu dengan pengalaman, kekuatan fisik, dan kepemimpinan," kata Chalobah.

Keputusan tersebut tidak dibuat secara terburu-buru.

"Itu bukan keputusan yang dibuat dalam semalam. Itu keputusan yang sangat matang dan sulit. Namun, saya melihat bagaimana perjalanan klub ini dan arah yang sedang mereka tuju," lanjutnya.

"Setelah berbicara dengan manajer dan melihat keinginan untuk menjadi bagian dari cerita ini, saya sangat bersemangat memulai babak baru dalam kisah indah yang sudah saya jalani sejauh ini."

Sumber: BBC

 

Berita Terkait