Bola.com, Jakarta - Gianni Infantino menghadapi tekanan yang makin besar menjelang pemilihan Presiden FIFA pada Maret 2027.
UEFA, AFC, dan Concacaf sedang mempertimbangkan mosi tidak percaya yang dapat membuka jalan untuk menggulingkan Infantino dari jabatannya.
Jika langkah tersebut benar-benar ditempuh, prosesnya akan menjadi preseden baru dalam sejarah FIFA.
Belum pernah ada pemungutan suara mosi tidak percaya terhadap presiden yang sedang menjabat sepanjang 122 tahun keberadaan organisasi tersebut.
Namun, tiga konfederasi itu belum sepenuhnya menentukan langkah.
Seorang sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan ada dua kemungkinan bagi Infantino: mundur secara sukarela dan tidak mencalonkan diri kembali, atau menghadapi upaya pencopotan melalui mosi tidak percaya.
Infantino sudah menyatakan keinginannya untuk kembali maju dalam Kongres FIFA tahun depan.
Ia juga masih memiliki dukungan dari sejumlah asosiasi anggota, terutama di Afrika.
Presiden CAF Patrice Motsepe sebelumnya mengatakan dukungan Afrika terhadap Infantino masih ada dan masa depannya seharusnya ditentukan melalui pemilihan FIFA.
Awal Krisis
Perselisihan berawal dari rencana Infantino untuk menjual sebagian kepemilikan dalam entitas komersial baru FIFA kepada investor swasta. Entitas tersebut dirancang untuk mengelola hak komersial Piala Dunia.
Proposal itu kemudian dibatalkan setelah mendapat penolakan dari UEFA, AFC, dan Concacaf.
Ketiga konfederasi tersebut menyoroti persoalan transparansi, konsultasi, dan tata kelola dalam proses pengajuan proposal.
Ketegangan berlanjut setelah UEFA, AFC, dan Concacaf mengeluarkan surat terbuka yang mengkritik kepemimpinan Infantino. Mereka meminta adanya peninjauan independen terhadap proposal yang telah dibatalkan tersebut.
Situasi di internal FIFA juga ikut memanas. Chief Operating Officer FIFA, Kevin Lamour, meninggalkan jabatannya setelah mengkritik proposal investasi tersebut.
Wakil Presiden FIFA, Sandor Csanyi, juga menarik dukungannya terhadap Infantino dan menyebut kepergian Lamour sebagai "titik terakhir".
Mosi Tidak Percaya
Statuta FIFA memungkinkan Dewan FIFA menggelar Kongres Luar Biasa. Kongres juga wajib digelar jika sedikitnya seperlima dari 211 asosiasi anggota mengajukan permintaan tertulis dengan agenda yang jelas.
Hal ini berarti, sedikitnya 43 asosiasi diperlukan untuk memicu proses tersebut. Kongres Luar Biasa kemudian harus digelar dalam waktu tiga bulan. Setiap asosiasi yang hadir memiliki satu suara.
Meski begitu, statuta FIFA tidak memiliki aturan khusus mengenai mosi tidak percaya terhadap presiden. Karena itu, pembahasan mengenai mekanisme tersebut masih menjadi bagian penting dari situasi yang berkembang.
"Ada pula kekhawatiran di kalangan pihak yang menentang Infantino. Jika mosi tidak percaya gagal, hasil tersebut justru dapat memperlihatkan bahwa Infantino masih memiliki dukungan kuat dari anggota FIFA. Kondisi itu berpotensi memperkuat posisinya menjelang pemilihan presiden tahun depan," tulis Reuters dalam ulasannya.
Di sisi lain, belum ada kandidat yang secara terbuka menyatakan diri sebagai penantang Infantino, meski batas waktu pencalonan masih terbuka hingga 18 November 2026.
Dukungan untuk Infantino Belum Hilang
Infantino masih mendapatkan dukungan dari sejumlah anggota FIFA. Enam asosiasi sepak bola Arab, termasuk Qatar dan Maroko, secara terbuka menyatakan dukungan kepadanya pada pekan lalu.
FIFA juga sebelumnya meminta maaf kepada asosiasi anggota atas kesalahan dalam menangani proposal investasi tersebut.
Dukungan terhadap Infantino kembali ditegaskan oleh pimpinan FIFA setelah pertemuan di Maroko pada awal Agustus lalu.
Proposal yang dibatalkan itu sebelumnya menjanjikan akses modal satu kali hingga 20 juta dolar AS bagi asosiasi anggota.
Dana tersebut dapat digunakan untuk pembangunan infrastruktur, pembinaan, tim nasional, kompetisi, sepak bola akar rumput, dan sepak bola wanita.
Presiden Asosiasi Sepak Bola Malawi, Fleetwood Haiya, meminta siapa pun yang ingin menantang Infantino melalui pemilihan agar tampil terbuka dan menjelaskan program yang mereka tawarkan.
Klub Bisa Menambah Tekanan
Persoalan ini juga melibatkan klub-klub Eropa. European Football Clubs (EFC), yang dipimpin Presiden Paris Saint-Germain, Nasser Al-Khelaifi, dan mewakili lebih dari 800 klub, disebut sejalan UEFA dan pihak-pihak lain yang menginginkan perubahan di FIFA.
"EFC bahkan telah memperingatkan FIFA bahwa klub-klub anggotanya dapat menolak berpartisipasi dalam Piala Dunia Antarklub putra dan putri pada masa mendatang jika persoalan tata kelola serta hubungan antara klub dan FIFA tidak diselesaikan," tulis Reuters.
Klub tidak memiliki hak suara dalam pemilihan presiden FIFA. Namun, mereka memiliki pengaruh besar dalam aspek olahraga dan komersial.
Mantan kepala pemasaran Komite Olimpiade Internasional, Michael Payne, menilai kemenangan dalam pemilihan belum tentu mengakhiri persoalan yang sedang terjadi.
Menurut Payne, seorang presiden FIFA memang bisa memenangkan pemilihan dengan mayoritas suara, tetapi tetap akan menghadapi persoalan besar jika kekuatan-kekuatan utama sepak bola berada di kubu yang berseberangan.
Belum ada sponsor FIFA yang secara terbuka mengkritik Infantino terkait krisis tersebut. Namun, menurut Payne, sponsor mempertanyakan bagaimana FIFA dapat menggelar Piala Dunia yang sukses, tetapi kemudian menghadapi persoalan internal seperti sekarang.
Dengan situasi tersebut, tekanan terhadap Infantino belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Namun, apakah tekanan itu berujung pada pengunduran diri, mosi tidak percaya, atau sekadar menjadi pertarungan menuju pemilihan Maret 2027, masih belum ditentukan.
Sumber: Reuters